Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Jangan banyak berpikir, kerjakan saja...

Lama sekali nih tidak menulis di blog ini, mungkin karena terlalu banyak berpikir, jadi gak berbuat nih :). Yah, judul yang mungkin pernah juga aku tulis, tentang just do it. Orang yang sukses itu kebanyakan adalah orang-orang yang berbuat, dan tidak terlalu banyak berpikir, dalam artian yang lebih khusus adalah berpikir negatif. Mereka memiliki impian besar, berpikir besar, namun juga berbuat. Tidak berhenti hanya pada alam pikiran saja.

Mungkin sama seperti yang sobat blogger rasakan, saya juga merasakannya. Dalam beraktifitas, bekerja sehari-hari. Selalu ada hal-hal yang dipikirkan,tidaklah salah, tetapi yang buruk adalah jika pikiran itu terus berkelabat dan menjadi negatif. Akhirnya kita tidak berani melangkah karena terganggu pikiran sendiri, menjadi diam di tempat. Mau berbuat ini, takut ini, takut itu. Terkadang terpikir juga buat apa saya melakukan hal 'sepele' ini? Apa yang dapat saya peroleh dalam bentuk materi, harta? Inilah sebuah hal yang mengganggu seseorang menjadi orang yang sukses.

Berpikir itu boleh, namun jika terlalu besar porsinya, justru akan menghambat kita dalam mulai melangkah. Berpikirlah, rencanakan kehidupan kita, buat target, tujuan, langkah-langkah, setelah itu ya kerjakan. Jangan pedulikan bisikan-bisikan negatif dari dalam diri sendiri. Malah kebanyakan dari pengalaman kita berbuat, ternyata bisikan-bisikan itu tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi selalu ada solusinya sepanjang kita tidak menyerah dan tetap berpikir positip. Perbuatanlah yang akan menghasilkan karya, manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Bukan sekedar pikiran tanpa aplikasi nyata. Yang sering saya pribadi rasakan adalah, ketika badan kita banyak beristirahat karena menunda pekerjaan dengan alasan masih mempertimbangkan untung ruginya, atau karena malas, maka pikiran atau jiwa akan menjadi lelah. Sebaliknya, ketika badan ini banyak beraktifitas, bergerak, bertindak, mungkin agak lelah, tetapi jiwa/pikiran terasa tenang, lapang dan bahagia. Apalagi jika dilandasi niat ikhlas karena Allah S.W.T. 

Pilih mana, diam tetapi pikiran kusut. Atau bergerak dan pikiran tenang?

Wednesday, April 25, 2012

Jangan Seperti Hewan Sirkus

Satu lagi hal menarik yang aku dapatkan ketika kuliah kemarin, dari seorang dosen mata kuliah Komputer dan Media Pembelajaran. Tadinya aku berpikir paling juga akan mendapatkan pelajaran yang biasa-biasa saja, mengenai dasar-dasar komputer. Ternyata lebih dari itu, walau ini baru hari pertama aku mengikuti mata kuliah tersebut, namun sudah dapat terbayang arah dan gaya belajar dari tutorial yang diberikan.

Hal pertama yang menarik adalah dosen memberikan materi yang berada di luar modul kuliah yang ada. Memang betul juga, kalau modul itu bersifat teori, tinggal bagaimana kita rajin membaca dan mengerjakan latihan-latihan secara mandiri. Tetapi yang bersifat pengalaman kerja dan aplikasi langsung biasanya tidak terdapat di modul. Alhamdulillah materi ini juga sesuatu yang belum begitu aku tekuni, yaitu membuat database menggunakan program pengolah Database. Selama ini hanya membuat database secara sederhana dan masih belum tertata dengan baik. Mudah-mudahan dalam pertemuan-pertemuan mata kuliah berikutnya terutama praktikum dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat, terutama untuk menunjang pekerjaan.

Monday, April 23, 2012

Daya Tahan Ikhlas


Pernahkah kita bekerja untuk kepentingan orang banyak hingga larut malam seorang diri,tidak ada yang menemani, tidak ada yang tahu. Setelah semua urusan beres, dan orang-orang bergembira karena usaha kita, tidak ada yang memberikan penghargaan, bahkan malah tidak ada yang tahu hal-hal besar yang telah kita lakukan untuk mereka. Lebih jauh lagi penghargaan besar malah diberikan kepada orang lain, bukan kepada saya.

Thursday, April 19, 2012

Nikmatnya Khusnudzan (Berpikir Positip)

Sifat pikiran manusia hanya ada 2 jenis, yaitu berpikir positip atau berpikir negatip. Kedua hal ini yang selalu ada di dalam pikiran kita. Ketika dalam satu hari lebih banyak berpikir positip, maka kebahagiaan yang kita dapatkan. Tetapi jika dalam satu hari lebih banyak berpikir negatip, maka yang ada adalah ketidakbahagiaan. Di bawah ini saya buat perbedaan cara berpikir orang yang positip dengan yang negatip, berdasarkan pengalaman sehari-hari atau dari mengamati orang lain, situasi dan kondisi tertentu. Termasuk manakah kita?


Situasi 1: 
Ketika akan berangkat kerja menggunakan motor, turun hujan deras.

Orang yang berpikir negatip: “Aduh, repot nih, ribet pake jas hujan, becek, motor jadi kotor. Capek deh, pulang nanti cuci motor.”
Orang yang berpikir positip: “Alhamdulillah turun hujan, moga menjadi berkah kehidupan. Ntar sore olahraga cuci motor biar sehat, atau bagi-bagi rezeki ke pencucian motor.”

Wednesday, April 18, 2012

Saling berbagi

Kulirik Handphoneku, kutekan tombolnya, hmmm, saat ini sudah pukul 22:34 malam. Lagi semangat-semangatnya ngeblog nih. Dari tadi berjam-jam ngedit header blog..fyuughh, selesai juga, walaupun sempat pusing dengan ukurannya yang tidak selalu pas pada posisi header blog. Untunglah ternyata di dunia online ini permasalahan apapun nyaris selalu ada pemecahannya. Tinggal tanya mbah Google, ada aja yang sudah menulis tentang permasalahan yang kita hadapi.

Itulah dunia internet, yah sarana bagi manusia di bumi ini untuk saling berbagi. Dan uniknya setiap manusia tidak sama dalam membagi apa yang dia miliki. Walaupun bidangnya sama, pasti ada saja yang berbeda, mungkin dari gaya menulis, pilihan kata, dll.

Yah, ilmu pengetahuan memang seharusnya dibagi terhadap sesama. Nggak ada ruginya membantu sesama, walau ngga dibayar. Tetapi kita mendapatkan pahala dari Allah jika ada yang membaca, kemudian dapat membantu kesulitannya. Ada sebuah kepuasan tersendiri ketika kita dapat berbagi. Dan pahala bagi saya nilainya jauh lebih besar dari sekedar uang, harta dan penghargaan dari manusia, walaupun ga akan nolak kalo ada yang ngasih. Tetapi pahala itulah yang nyata adanya, kita panen di akherat kelak. Mungkin wujudnya nanti berupa rumah, kebun, tanah atau istana di surga.

So, jangan pelit untuk berbagi, apapun ilmu, pengalaman, pandangan, pengetahuan, mari kita share. Agar bermanfaat bagi sesama.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Thursday, January 12, 2012

Nikmatnya Shalat Shubuh Berjamaah

Shalat Shubuh termasuk salah satu shalat yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk dilaksanakan. Karena untuk melaksanakannya harus meninggalkan nikmatnya kasur dan selimut hangat. Apalagi jika harus tepat waktu dan berjamaah di Masjid ketika udara sangat dingin. Sementara orang-orang banyak yang masih terlelap dengan nikmatnya. Waktu shalat Shubuh juga sangat pendek, mulai waktu shalat Shubuh itu sendiri hingga terbit matahari. Berbeda dengan waktu shalat lain yang berakhir jika datang waktu shalat berikutnya. Nah, sangat sedikit ummat Islam yang menyadari bahwa ada rahasia besar Allah dibalik pelaksanaan shalat Shubuh. Dan hanya bagi orang-orang yang mau bangun dan melaksanakannya sesuai syarat dan rukunnya serta ikhlas yang akan mendapatkan itu.

Beberapa manfaat yang dapat dirasakan jika kita konsisten melaksanakan shalat Shubuh berjamaah adalah:

1. Badan terasa segar dan bersemangat, ada energi besar di waktu itu
2. Memiliki waktu cukup banyak untuk persiapan beraktivitas sepanjang hari
3. Melakukan apapun setelah shalat Shubuh, misal berpikir, menulis, bekerja, berkarya
lebih terasa optimal dan 'topcer'.
4. Menyiapkan tekad, niat dan rencana selama 1 hari penuh.
5. Mendapatkan pahala shalat satu malam penuh.
6. Sumber cahaya di hari kiamat.
7. Mendapatkan surga yang dijanjikan.
8. Berada di bawah lindungan Allah selama sehari penuh.
9. Penghapus dosa setengah usia.
10.Mendapat berkah di tiap langkah.

Itulah beberapa manfaat yang dapat diraih, tentunya masih banyak yang lainnya.

"Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada suatu hal. Ialah bila jumlah jama'ah shalat Shubuh menyamai jumlah jamaah shalat Jum'at."

Semoga bermanfaat. Tulisan ini saya share setelah membaca buku Misteri Shalat Shubuh karya Dr. Raghib As-Sirjani.

Monday, November 14, 2011

Hidup Seperti Bermain Video Games

Hidup ini sebenarnya mirip seperti bermain video games. Ada level atau tingkatan-tingkatan petualangan yang harus dilalui. Setiap berhasil menyelesaikan sebuah level, kita akan masuk ke level berikutnya yang tentunya menghadapi lawan dan medan yang lebih berat. Dalam setiap level terkadang kita dipaksa untuk berpikir memecahkan sebuah misteri. Jika misteri itu tidak diselesaikan kita akan selalu mengulang level yang sama. Orang yang menyukai permainan video games, tidak akan bosan untuk mencoba dan mencoba lagi hingga pada akhirnya berhasil melalui sebuah level permainan.

Dia tidak merasa beban dalam menyelesaikan setiap level karena ia menyukainya. Dan sebuah kebahagiaan atau kesenangan tersendiri ketika berhasil menuntaskan sebuah misteri dan masuk ke level berikutnya. Kalau seseorang menyerah tentunya ia hanya akan berada di level yang sama terus-menerus.Begitu juga dalam kehidupan ini. Kita senantiasa diberikan masalah-masalah, tantangan dan rintangan yang harus dilalui. Jika kita menyerah dan malas untuk menuntaskannya, kita tidak akan pernah dapat beranjak ke tingkatan hidup yang lebih baik. Karena Allah tidak akan membebankan kepada kita sesuatu yang kita tidak mampu menghadapinya kan?

Hidup adalah untuk menyelesaikan tantangan, dan setiap menyelesaikan suatu tantangan akan senantiasa muncul tantangan-tantangan baru. Tantangan itu baru akan berhenti ketika manusia pindah alam. Di alam sana nanti manusia tinggal menghitung score dari games hidup yang dimainkan.

Jadi ketika ada orang mengeluh hidup saya penuh masalah. Sebenarnya bukan masalah itu sendiri yang jadi masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi masalah.

Thursday, October 27, 2011

Pembelajar Sejati

Apa yang dirasakan ketika kita terus belajar dan berlatih? Apakah kita menjadi merasa cukup pintar dan semakin hebat, atau justru semakin merasa kurang dan kecil karena begitu banyak hal yang belum terjelajahi. Jika hal kedua yang dirasakan, maka itu adalah pertanda baik sebagai seorang pembelajar. Pembelajar sejati senantiasa merasa kurang dan kurang.

Ilmu pengetahuan memang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk dapat didokumentasikan. Satu bidang ilmu akan senantiasa melahirkan cabang-cabang ilmu yang setiap cabangnya akan melahirkan cabang-cabang lagi yang banyak. Maka tidak pantas bagi seorang pembelajar untuk bersikap sombong. Karena tidak ada seorangpun yang mampu menguasai seluruh bidang ilmu. Tetapi setiap orang pasti ahli dalam bidang tertentu jika ia menekuninya.

Mengapa semakin kita belajar semakin merasa kecil? Ya, karena semakin seseorang mengetahui sesuatu, maka semakin tahulah ia ketidaktahuannya yang banyak. Sebaliknya seseorang yang merasa cukup pintar, justru akan malas belajar, dan mungkin ia merasa sombong karena ia tidak tahu bahwa sebenarnya banyak yang ia tidak ketahui.

Dalam ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk. Artinya semakin seseorang memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian, semakin rendah hati. Sedangkan dalam pepatah yang berbunyi, “Tong kosong nyaring bunyinya”. Kebanyakan orang yang tidak mengetahui apa-apa justru banyak berbicara dan membual.

Mari kita instrospeksi diri sendiri, tipe orang seperti apakah kita?

Monday, August 8, 2011

Membuat Rencana atau Mengalir?

Ketika kita ditanya, apa prinsip hidupmu? Mengalir bagaikan air ataukah selalu merencanakan tindakan? Saya pribadi jika hanya diberi pilihan seperti itu tidak bisa menjawabnya, karena kedua hal itu adalah prinsip hidup yang tidak bisa dipisahkan. Justru keduanya saling menguatkan satu sama lain, bukannya saling bertentangan. Jika ditanya demikian, saya akan menjawab hidup saya memiliki perencanaan yang mengalir menuju target.

Membuat perencanaan berarti menyusun jadwal, dalam satu hari apa saja kegiatan yang akan saya lakukan. Bahkan untuk satu minggu, satu bulan dan satu tahun. Sehingga tindakan-tindakan yang dilakukan selalu terkendali dan terarah menuju target hidup. Akan tetapi dalam perjalanannya, terkadang banyak terjadi hal-hal di luar perencanaan yang telah disusun. Sebagian orang akhirnya memutuskan tidak perlu membuat perencanaan, mengalir sajalah. Karena membuat perencanaan itu hanya mengekang kebebasan dan menjadi kaku terhadap waktu. Akhirnya tidak perlu membuat perencanaan, jadi mengalir saja. Apa yang ingin dikerjakan saat ini ya dikerjakan. Apa yang disukai dikerjakan. Jika hati dalam kondisi bosan dan malas, ya ditinggalkan. Akibatnya arah hidup kita menjadi tidak jelas, karena kita akan mengikuti ke mana arus yang kuat membawa perjalanan hidup.

Sebenarnya idealisme itu diperlukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Idealisme bukanlah hanya untuk masa muda, masa belajar. Tetapi hendaknya dipertahankan hingga akhir hayat. Karena ini menyangkut keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin di dunia dan akherat. Idealisme yang dimaksud dalam tulisan ini adalah masalah kedisiplinan waktu. Dalam bahasa mudahnya adalah jadwal. Tetaplah kita harus memiliki jadwal yang ideal dalam keseharian. Sehingga hidup akan teratur dan terarah. Tetapi ketika terjadi hal-hal yang mengharuskan kita keluar dari jalur jadwal yang telah ditetapkan, maka sebaiknyalah kita bersikap fleksible. Menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi, asalkan tindakan kita masih dalam rangka target/tujuan hidup.

Contoh yang ada di alam adalah misalnya adalah kawat yang dialiri listrik. Idealnya adalah energi listrik yang masuk akan sama dengan energi listrik yang keluar. Namun pada kenyataannya akan berkurang. Sebagian menghilang menjadi panas akibat jauhnya perjalanan listrik dalam kawat. Tetapi bukan berarti ini diabaikan. Manusia berusaha meminimalkan energi yang hilang ini dengan berbagai cara. Misalnya memperpendek panjang kawat dan mengecilkan hambatan kawat. Walaupun tetap akan ada energi yang terbuang, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap kebutuhan energi. Karena jumlahnya yang kecil.

Jadi, perencanaan tetap diperlukan sebagai acuan. Walaupun dalam pelaksanaannya tidak 100% sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Tetapi itu lebih baik, daripada tidak membuat rencana sama sekali, sehingga arah hidup menjadi tidak jelas. Namun kelenturan dalam menyikapi jadwal dalam kondisi tertentu diperlukan agar kita tidak menjadi kaku. Karena ketika kita berencana, Allah juga berencana terhadap diri kita.

Kesimpulannya, kita membuat rencana dan mengalir dalam melaksanakannya. Punya pendapat lain? Silahkan isi komentarnya di bawah ini, terima kasih...

Sunday, August 7, 2011

Amal yang Tidak Terputus

Manusia modern abad ini selalu mencari cara untuk membuat suatu sistem yang bekerja secara otomatis dan menghasilkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sistem yang tetap bekerja dan memberikan kesejahteraan walaupun ia tidak berkecimpung lagi di dalamnya. Ini adalah sistem dalam bidang ekonomi yang sering disebut sebagai passive income.

Passive income adalah penghasilan yang terus mengalir walaupun seseorang sudah tidak bekerja lagi. Ini adalah cara cerdas manusia dalam mengefektifkan dan mengefisienkan waktu. Robert Kiyosaki mengenalkan teori Cashflow Quadrant yang membagi manusia dalam empat quadrant dalam memperoleh penghasilan. Yaitu tipe pegawai, pekerja lepas, pemilik usaha, dan penanam modal. Quadrant keempat adalah yang tertinggi, di mana seseorang tidak perlu bekerja lagi untuk mendapatkan penghasilan, karena sudah terbentuk sebuah sistem yang bekerja 24 jam menghasilkan profit bagi dirinya. Namun teori Cashflow Quadrant ini hanyalah untuk kesejahteraan di dunia.

Ternyata 14 abad yang lalu, jauh sebelum Robert Kiyosaki mempopulerkan teori Cashflow Quadrant, Rasulullah Muhammad SAW telah mengenalkannya, walaupun bukan dalam bidang ekonomi, tetapi jauh lebih luas lagi menembus dimensi alam dunia hingga alam kubur dan akherat. Ini dapat dibaca dalam hadits Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:

عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)


“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.

Dalam bidang amal, ternyata terdapat juga teori Cashflow Quadrant ini. Ketika kita berbuat suatu amal kebaikan misalnya, maka kita mendapatkan pahala. Namun ketika kita tidak melakukannya, tentu tidak mendapatkan pahala. Apalagi setelah kita mati, terputuslah kesempatan untuk beramal dan mendapatkan pahala. Hanya tinggal menunggu hisab (perhitungan amal), jika lebih banyak kebaikannya, kita akan beruntung. Jika sebaliknya kita merugi. Tetapi ada cara cerdas agar pahala dari suatu amal tsb. akan terus mengalir walaupun kita sedang tidak melakukannya atau karena sudah meninggal dunia. Yaitu dengan mengajarkan amal tsb. kepada orang lain. Mengajarkan ilmu kepada orang lain, tentunya ilmu yang bermanfaat. Maka, setiap seseorang mengamalkan ilmu yang bermanfaat yang didapatkan dari usaha kita mendidiknya, kitapun akan ikut mendapatkan bagian pahalanya. Bagaimana jika banyak orang yang kita ajarkan, dan bagaimana pula jika setiap orang-orang tsb. mengajarkannya lagi. Tentu pahala akan mengalir deras ke pundi-pundi rekening akherat kita. Mirip seperti profit yang didapatkan seorang pengusaha pemasaran jaringan berjenjang yang sukses. Ilmu yang bermanfaat dapat diabadikan dalam bentuk catatan, tulisan, buku dan lain-lain sehingga itu akan menjadi investasi akherat kita.

Selain ilmu yang bermanfaat, dalam hadits tsb. juga disebutkan anak yang sholeh. Suatu ketika di akherat nanti seorang akan merasa heran dengan derajat tinggi yang diperolehnya dari Allah SWT di surga. Padahal ia merasa tidak pernah melakukan suatu amaliyah yang spesial. Ternyata ketinggian derajat itu disebabkan oleh istighfar sang anak yang soleh dan terus mendoakan orang tuanya. Maka, anak adalah investasi kita juga untuk keselamatan di akherat. Maka, mari kita didik dan bekali ia dengan ilmu, terutama ilmu untuk mengenal Sang Pencipta. Jika kita berhasil dan sukses mendidiknya, dengan mengorbankan harta, waktu, uang dan tenaga, maka bersiaplah menerima ketinggian derajat dari Allah SWT.

Yang berikutnya adalah sedekah jariyah. Yaitu suatu sedekah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun si pemberi sedekah telah meninggal dunia. Contohnya adalah, mewakafkan sebuah tanah dan membangun sebuah Masjid, mendirikan sebuah yayasan untuk mendidik anak-anak jalanan, membagi-bagikan Al-qur'an, menanam pohon sehingga orang lain dapat menikmati buahnya atau berteduh di bawahnya, dan lain-lain.

Ummat rasulullah Muhammad SAW memang diberikan usia yang pendek. Mungkin antara 60 tahun, dan jika sudah 90 tahun merupakan usia yang cukup panjang. Tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang usianya hingga mencapat ratusan. Tetapi bukan berarti usia yang pendek, maka kesempatan beramal dan memperoleh bekal untuk kehidupan di akherat kita menjadi terbatas. Banyak cara-cara cerdas yang sudah diajarkan oleh Rasul, salah satunya dari hadits tsb. di atas. Belum lagi pada bulan Ramadhan kali ini, Allah melipatgandakan pahala amal menjadi sangat besar, bahkan ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itulah malam lailatul qadar.

Friday, August 5, 2011

Berpandangan ke Depan

Setiap hari manusia yang masih bernafas pasti melakukan aktivitas. Tidak ada yang diam, karena diam itu sendiri adalah aktivitas. Kecuali seseorang itu telah mati di dunia, walau matipun sebenarnya ruh masih ada dan beraktivitas.

Secara wujud lahiriah kita melihat semua manusia sama saja dalam melakukan suatu aktivitas. Tetapi jika dicermati sebenarnya ada yang berbeda secara batiniah dan pikiran. Apa yang berbeda? Misalkan ada dua orang yang bekerja sebagai buruh tani. Mereka bekerja menanam dan merawat padi di sawah hingga panen. Sebut saja pak A dan pak B. Pak A berpikir bahwa saya bekerja di sawah dan memang pekerjaan saya sebagai petani yang diberi upah oleh majikan. Sehingga saya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan dalam pekerjaan yang sama pak B berpikir bahwa pekerjaan sebagai buruh tani memang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun selain itu juga ia berpikir lebih, yaitu melalui tangan saya, padi ini akan saya rawat, saya beri pupuk, hingga tumbuh subur dan dapat dipanen. Saya kemudian mengolahnya menjadi beras yang siap disalurkan. Sehingga karena pekerjaan saya, banyak orang dapat menikmati nasi yang menjadi makanan pokok. Misalnya seorang anak kecil yang akan berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu, di pagi hari akan makan nasi dari hasil jerih payah saya. Sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat, kuat, belajar dan berkembang menjadi manusia yang berguna. Artinya saya ikut andil dalam pembangunan bangsa ini.

Lebih jauh ke depan, tentunya saya akan mendapatkan pahala dan balasan yang melimpah dari Sang Pencipta padi itu sendiri. Dan ini akan menjadi bekal hidup saya di akherat nanti. Pahala yang saya peroleh akan berubah menjadi sebuah istana di surga kelak. Walaupun di dunia rumah saya hanyalah sebuah rumah gubug biasa. Begitu pikir pak B. Terlihat jelas perbedaannya ketika kita menyelami isi hati dan pikiran pak A dan pak B.

Apapun yang kita lakukan, aktivitas sekecil apapun, jika kita berpandangan ke depan akan terasa menyenangkan dan berguna. Sehingga ini bisa menjadi motivasi untuk tidak mudah menyerah akan setiap kegagalan yang dialami. Karena setiap perbuatan baik yang diniatkan untuk ibadah maka ia akan bernilai pahala. Walaupun di dunia misalnya mengalami kegagalan-kegagalan, maka sebenarnya kita sudah memperoleh pahala dari proses yang kita lakukan. Dan pahala artinya adalah bekal untuk di akherat. Jika kita terus berbuat dan belajar dari kegagalan-kegagalan itu, maka kita akan berhasil. Dan akan lebih banyak lagi pahala yang didapat dari keberhasilan yang dinikmati oleh orang banyak.

Ketinggian seseorang di mata Allah tidaklah dinilai dari seberapa banyak harta, seberapa tinggi jabatan, seberapa besar pengaruh dan kekuasaan. Tetapi Allah hanya menilai dari sisi keimanan dan ketakwaannya. Bisa jadi seorang buruh bangunan yang ikhlas dan berpandangan ke depan memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan seorang pejabat negara yang korup. Walaupun di mata masyarakat dunia seorang pejabat negara tsb. memiliki status yang tinggi, dapat mempengaruhi orang banyak, memiliki harta dan kemewahan di mana-mana. Dengan harta dan uangnya ia mampu membeli apapun yang diinginkan. Ia dapat mempengaruhi kebijakan negara melalui undang-undang yang dibuat. Namun jika pejabat tsb. bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, melakukan korupsi, dan kecurangan-kecurangan lainnya. Maka, di kehidupan berikutnya (akherat), bisa jadi ia adalah seseorang yang paling merugi. Habis semua amal kebaikannya tertutup oleh do'a orang-orang yang teraniaya, habis oleh dosa akibat harta haram yang didapat. Sebaliknya seorang buruh bangunan yang bekerja ikhlas karena Allah, memberikan kemampuan yang terbaik. Melalui keterampilan tangannya ia dapat membuat sebuah bangunan rumah yang kokoh dan nyaman, indah. Sehingga sang pemilik rumah dapat tinggal di dalamnya bersama keluarganya. Di rumah itu sang pemilik dapat beristirahat dari pekerjaannya, berteduh dari panas matahari, dari hujan. Dari rumah itu juga akan lahir anak-anak yang cerdas dan calon pemimpin bangsa. Tentunya akan menjadi amal saleh dan pahala yang tiada terputus bagi sang buruh bangunan ketika ia berpikir ke depan seperti itu. Dan tentunya derajatnya akan jauh lebih tinggi dari sang pejabat yang melakukan korupsi. Dan derajat dalam pandangan Allah, tentunya bukan sekedar gelar, status dan sertifikat. Tetapi derajat itu benar-benar akan mengantarkannya ke kehidupan yang sejahtera secara materi dan spiritual, bahagia di dunia dan akherat yang abadi.

Nah, bagaimana dengan kita? Sebaiknya kita tidak menyepelekan lagi apapun bidang profesi atau pekerjaan yang kita tekuni. Juga tidak menyepelekan aktivitas positip sekecil apapun yang dilakukan. Ketika kita berpandangan ke depan, segala aktivitas positip sekecil apapun akan memiliki arti. Misal, ketika kita membuang sampah pada tempatnya, kita niatkan agar lingkungan menjadi bersih dan indah, orang lain yang melihatpun akan senang, terhindar dari penyakit, akhirnya kita memperoleh pahala sebagai bekal kita. Ketika kita makan, kita membaca basmallah, kemudian menyadari ini adalah rezeki dari Allah. Dengan makan, maka saya menjadi bertenaga kembali, lalu dengannya saya bisa bekerja dan beribadah, maka pahala lagi buat bekal saya. Ketika saya berolahraga, saya niatkan supaya badan selalu sehat dan kuat, tidak mudah terserang penyakit, sehingga saya bisa menghemat pengeluaran saya untuk berobat, dan uang penghematan tsb. bisa lebih saya manfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih besar daripada sekedar mengobati penyakit, pahala lagi buat saya. Ketika saya bekerja sebagai cleaning service misalnya, saya harus pulang sore hari, karena harus membersihkan kantor, menyapu, mengepel, mencuci piring-piring dan gelas, padahal saat itu tidak ada seorangpun yang melihat saya. Tetapi jika berpikiran ke depan, walaupun tidak ada seorangpun, saya akan lakukan tugas saya sebaik mungkin. Sehingga esok pagi kantor dalam keadaan bersih, sehingga siap digunakan untuk aktivitas kembali oleh para pegawainya. Pahala buat saya.

Alangkah indahnya jika setiap manusia khususnya di Indonesia sudah berpikir dan bertindak seperti ini. Berpandangan ke depan, tidak hanya sebatas bekerja dan menerima gaji, tetapi jauh ke depan untuk melayani sesama, dan jauh ke depan lagi untuk kepentingan dirinya sendiri di akherat. Saya yakin negara ini akan menjadi negara yang maju dan disegani bangsa-bangsa di dunia.

Kalau sudah berpandangan ke depan, masihkah berpikir bahwa hidup kita tiada arti? Marilah kita baca dan renungkan hadits berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu." (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, setiap kita adalah pemimpin. Dan pemimpin adalah orang yang penting. Artinya kita adalah orang yang penting, tentunya dalam bidang yang kita geluti, sekecil apapun itu.

Kemudian mari kita baca dan renungkan puisi dari Douglas Mallock berikut ini:


Jika kau tak dapat menjadi pohon meranti di puncak bukit
Jadilah semak belukar di lembah,
Jadilah semak belukar yang teranggun di sisi bukit
Kalau bukan rumput, semak belukar pun jadilah
Jika kau tak boleh menjadi rimbun, jadilah rumput
Dan hiasilah jalan di mana-mana
Jika kau tak dapat menjadi ikan mas, jadilah ikan sepat
Tapi jadilah ikan sepat terlincah di dalam paya
Tidak semua dapat menjadi nahkoda, lainnya harus menjadi awak kapal dan penumpang
Pasti ada sesuatu untuk semua.
Karena ada tugas berat, maka ada tugas ringan
Di antaranya dibuat yang lebih berdekatan
Jika kau tak dapat menjadi bulan, jadilah bintang
Jika kau tak dapat menjadi jagung, jadilah kedelai
Bukan dinilai kau kalah ataupun menang
Jadilah dirimu sendiri yang terbaik


Demikian, semoga bermanfaat..

Sunday, July 17, 2011

Tetap Berbuat

Postingan kali ini sebenarnya masih melanjutkan postingan sebelumnya yang berjudul "Membuat Daftar Aktivitas." Dah jam 11 malam nih, orang-orang di rumah dah pada molor, tapi nulis dulu bentar, karena seharian ini baru saat ini ketemu waktunya buat nulis, hehe. Harus setor nih buat melengkapi checklist daftar aktivitas...apply..apply...

Kali ini saya akan berbagi perasaan saya ketika saya beraktivitas. Ketika kita beraktivitas atau melakukan suatu kegiatan tertentu, pastilah ada energi di dalam diri yang membuat kita mau melakukan aktivitas tsb. Atau secara sederhana kita menyebutnya sebagai motivasi, semangat, kesenangan, kegembiraan, kesukaan. Sehingga ketika keadaan motivasi/mood kita sedang tinggi, pasti dengan suka cita dan ringan kita melakukan suatu aktivitas. Tetapi bagaimana jika motivasi/mood kita sedang rendah? Bagaimana jika pikiran kita tiba-tiba diserang oleh hal-hal yang negatif, seperti malas, perasaan lemah, tidak berguna melakukan itu, itu hal sepele, buang-buang waktu saja, tidak akan menjadi apa-apa, percuma, dan sejuta pikiran negarif lainnya. Saya yakin bahwa setiap diri kita pasti pernah merasakan itu, bahkan mungkin sering.

Nah, pada postingan pertama kita telah belajar dan membuat "Daftar Aktivitas." Lalu ketika dalam perjalanan aktivitas kita tiba-tiba diserang perasaan dan pikiran-pikiran negatif tadi, apa yang harus kita lakukan?

Sobat pembaca, ternyata yang harus kita lakukan adalah ya tetap berbuat, dan biarkan saja pikiran-pikiran negatif itu. Sedikit paksakan diri untuk tetap berbuat, dan sambil berbicara dalam diri sendiri bahwa pikiran-pikiran negatif itu salah semua. Aktivitas positif yang saya lakukan ini sangat bermanfaat bagi masa depan saya, ini bukan hal sepele, hal yang besar semuanya dimulai dari langkah-langkah dan kebiasaan-kebiasaan kecil. Maka, saya harus tetap melaksanakannya. Kita melawan perasaan-perasaan atau pikiran-pikiran negatif itu dengan pikiran-pikiran positif sambil terus berbuat. Ingat, sambil terus berbuat, misal sambil kita tetap berolahraga, sambil kita tetap membaca buku, sambil kita tetap bekerja, dll. Dan sobat, sungguh ajaib hasilnya, sedikit demi sedikit motivasi itu bangkit kembali. Ternyata, perasaan negatif itu hanya bersifat sementara. Dan akan hilang dengan sendirinya dengan kita tetap bergerak, bertindak, berbuat dan action..

Andaikata kita menuruti pikiran-pikiran negatif tadi, kita berhenti bertindak, maka kita sudah rugi dalam hal waktu, hanya untuk menunggu semangat itu datang lagi. Akan lebih mantap jika kita kombinasikan dengan variasi-variasi dalam berbuat, mencari hal-hal baru dan suasana baru. Sehingga pikiran-pikiran negatif itu tidak mudah menyerang. Seperti air, jika ia diam saja, tergenang, lama kelamaan akan menjadi keruh, kotor dan berpenyakit, tetapi jika air itu berputar, bersiklus, mengalir, ia akan selalu terlihat segar, bertenaga dan hidup.

Betul ternyata, jangan menunggu termotivasi untuk berbuat, tetapi berbuatlah maka kau akan termotivasi. Semoga bermanfaat...

Saatnya tidur, sampai jumpa besok lagi yaaa...

Wednesday, July 13, 2011

Knowing Is Not Enough, We Must Apply


Sungguh sederhana apa yang pernah dikatakan oleh Bruce Lee: "Knowing is not enough, we must apply, willing is not enough, we must do." Artinya adalah bahwa pengetahuan saja tidak cukup, kita harus menerapkannya, keinginan saja tidak cukup, kita harus bertindak. Sederhana, tetapi itulah kunci orang-orang sukses.

Kuncinya ada pada tindakan, perbuatan, amal, penerapan, yang bersifat nyata. Sehingga apa yang berupa konsep, ide, cita-cita, harapan, keinginan, tujuan, dan impian akan menjelma menjadi wujud nyata. Tidak lagi berada dalam dimensi pikiran saja. Pikiran adalah yang utama, tetapi tidak sempurna tanpa adanya amal perbuatan nyata. Sebaliknya perbuatan juga tidak akan baik dan terarah tanpa pikiran, impian dalam melakukannya. Tanpa impian dan cita-cita tidak akan sampai ke manapun tindakan kita. Hanya terombang-ambing dihempas tsunami zaman.

Pertama kita memiliki impian, target, cita-cita. Lalu kita melihat bahwa untuk mencapai target itu ada jalan yang panjang yang harus ditempuh. Satu-satunya cara untuk mencapai target tersebut ya kita tempuh jalan tersebut. Siapkan perbekalan, rencanakan tindakan, lalu berjalan. Kebanyakan orang biasa berhenti pada tahap menyiapkan perbekalan dan merencanakan tindakan hingga sempurna dan matang. Akan tetapi mereka tidak lanjut ke hal yang nyata, yaitu mulai melangkah dan berjalan. Dalam perjalanan dan melangkah, tentunya tidak akan sempurna sama persis seperti rencana yang dibuat, bisa jadi ada kegagalan, ada kesalahan, jatuh, dan lain-lain. Tetapi sebenarnya tidak ada kegagalan kecuali kita berhenti melangkah. Selama kita bangun lagi setelah jatuh dan kembali melangkah, kita akan sampai juga ke tujuan. Orang yang sukses itu jatuhnya ke depan, bukan ke belakang. Jadi jatuh juga sebenarnya semakin mendekatkan diri kepada tujuan.

Jadi, mulai sekarang koreksi diri kita. Sudah sejauh mana hari ini saya berjalan menerapkan ilmu pengetahuan saya, bukan sejauh mana saya berpikir dan merencanakan dan merencanakan lagi, tapi ragu-ragu dalam berjalan.

Monday, April 25, 2011

Rasa

Kehidupan ini ternyata banyak sekali rasa dengan berbagai warna-warninya. Dan itu yang membuat hidup ini begitu bermakna. Ada rasa cinta, benci, senang, sedih, semangat, lemah, gairah, lesu, bingung, harapan, putus asa, percaya diri, rendah diri, galau, yakin, dll. Apa maksud Allah menciptakan itu semua?

Perasaan itu terkadang berganti-ganti, berbolak-balik, kadang senang, kadang sedih, kadang yakin, kadang galau. Itulah hidup manusia, dan tidak lain semua itu adalah ujian. Ujian bagi keimanan seseorang. Karena surga Allah itu tidak murah, perlu ujian-ujian yang berat untuk memperolehnya. Semua ujian itu melibatkan rasa di dalam diri manusia.

Di surga, tidak ada lagi penderitaan itu, jika manusia menyadari. Hal yang menyiksa manusia hidup di dunia tidak lain adalah perasaannya sendiri. Di surga, tidak ada lagi rasa dendam, sakit hati, iri, lemah, takut, cemas, sedih. Semua adalah rasa-rasa yang menyenangkan. Jadi, jangan bersedih, La Tahzan, jika hidup di dunia ini penuh cobaan. Ingat ada surga Allah di akherat, mari berusaha menggapainya. Amin.

Friday, February 4, 2011

Kestabilan Emosi

Saya sangat mengagumi orang-orang yang memiliki kestabilan emosi. Orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah, tanpa amarah, tanpa beradu fisik. Mampu menyampaikan yang benar tanpa kekerasan dan tanpa merendahkan orang lain. Inilah menurut saya orang-orang yang kuat. Orang yang kuat itu bukan yang mampu mengalahkan orang lain dengan fisiknya. Tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dirinya sendiri.
Hmmm, kira-kira siapa orang yang saya kagumi itu. Tentu saja yang pertama adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah orang yang paling kuat menurut saya. Bagaimana tidak, beliau yang diludahi, dilempar kotoran unta, dihina, tetapi tetap bisa tersenyum ikhlas, bukan senyum pahit seperti kita. Bahkan ketika giliran orang yang menyakiti beliau itu sakit, justru beliau adalah orang yang pertama menjenguknya, Subhaanallah, betapa luhur akhlak yang beliau contohkan. Masih banyak contoh-contoh lain yang Rasulullah berikan.

Suatu ketika beliau sedang duduk seorang diri beristirahat di bawah pohon kurma, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Da'tsur. Ia menghunus pedang di depan Rasulullah dan menodongkannya ke leher beliau dan berkata, "Siapa yang akan menolongmu?" Dengan tenang dan mantap rasulullah menjawab,"Allah". Mendengar jawaban tersebut Da'tsur langsung gemetar, lemas sekujur tubuhnya hingga terjatuh pedangnya, lalu rasulullah mengambil pedang itu dan balik menodongkannya ke leher Da'tsur,"Sekarang siapa yang akan menolongmu?", seru beliau. "Tidak ada wahai Muhammad, kecuali engkau mau menolongku!" Saya benar-benar terkesan membaca atau mendengar kisah tersebut, walaupun tidak menyaksikan langsung dan hidup di zaman itu, tetapi terbayang ketenangan dan keyakinan hati seorang Rasulullah.

Bagaimana dengan kita? Kita yang setiap hari menghadapi masalah dalam kehidupan. Dibutuhkan kestabilan emosi dalam menghadapinya. Dan itu tidak mudah untuk dilaksanakan. Tetapi nikmat rasanya ketika berhasil menguasainya. Ini memang perlu latihan dan latihan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita berada di posisi yang benar, dan orang lain salah, tetapi kita menyerang orang tsb. dan menyampaikan kebenaran itu dengan marah-marah, merendahkan orang tsb. Maka tidak akan baik juga hasilnya. Yang terjadi justru orang tsb. akan semakin lari dan jauh dari kebenaran. Apalagi jika kita berada di posisi yang salah. Sudah salah, ngotot lagi. Alangkah malunya ketika menyadari bahwa kita salah.

Mungkinkah bertarung tanpa emosi atau hawa nafsu? Nampaknya dalam pertarungan tidak mungkin dapat dipisahkan dari emosi atau hawa nafsu amarah. Karena energi marah inilah yang membuat kita menyerang orang lain, baik secara fisik, dengan kata-kata atau mental. Namun sebenarnya inilah rahasia kemenangan orang-orang besar sepanjang zaman. Mereka memiliki kemampuan menahan diri, tidak mudah terpancing, sehingga selalu dapat memenangkan pertarungan dengan cantik, bahkan tanpa melukai atau menghancurkan lawan. Bahkan lawan akan berbalik menjadi kawan.

Monday, January 17, 2011

Berpikir dan Bertindak...

Mana di antara aktivitas yang terbaik menurut Anda, berpikir atau bertindak? Sebetulnya keduanya baik dan bermanfaat daripada diam. Berpikir membuat manusia lebih berhati-hati dan cerdas dalam bersikap. Bertindak dapat membuat hasil yang nyata. Yang menjadi masalah adalah porsinya. Ketika manusia terlalu banyak berpikir tanpa melakukan tindakan, maka ilmu pengetahuan dan konsep yang dipikirkan tsb. selamanya hanya akan ada di alam pikiran. Sehingga tidak ada manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya terus bertindak tanpa pernah berpikir juga berbahaya, ia akan berbuat sesuai kehendak hati dan tidak mempedulikan sekitar. Apakah perbuatannya baik atau tidak.

Orang-orang yang sukses dan banyak bermanfaat bagi orang lain kebanyakan memang adalah orang-orang yang 'nekat'. Tetapi kenekatan yang dimaksud adalah kenekatan yang terarah. Setelah berpikir dan meyakini kebaikan akan suatu tindakan, ya sudah dilakukan saja. Tidak lantas terus berpikir dan berpikir, menimbang dan merencanakan hingga sempurna. Padahal kesempurnaan itu akan terbentuk dengan sendirinya dari pengalaman-pengalaman melakukan tindakan.

Beberapa sumber hikmah yang dapat diambil adalah:

1. Q.S 13:11

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Jelas, bahwa kita harus bertindak mengubah keadaan diri kita sendiri, harus berbuat, melakukan hal yang nyata. Sehingga Allah akan menolong kita.

2. Bruce Lee

Kata Bruce Lee, master kungfu Jet Kun Do: "Knowing is not enough; we must apply. Willing is not enough; we must do."

Artinya: "Pengetahuan saja tidaklah cukup; kita harus mengaplikasikannya. Keinginan saja tidaklah cukup; kita harus bertindak."

3. Stop Dreaming, Start Action

Ini bukan berarti mematikan mimpi. Mimpi harus tetap ada dan menyala di dalam hati dan pikiran, tetapi berhentilah untuk terus memimpikannya tanpa berbuat apa-apa, tetapi mulailah mengambil tindakan nyata. Sehingga mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan pada saatnya nanti.

4. Suri tauladan Rasulullah SAW

Tengoklah sejarah rasulullah. Beliau yang mulia mengatakan sesuatu yang memang telah dilaksanakannya. Beliau menyampaikan kebenaran dengan tindakan dan akhlak yang mulia. Tidak hanya dengan kata-kata.

5. Orang-orang sukses

Lihatlah orang-orang sukses, mereka semua berbuat sesuatu. Thomas Alva Edison menciptakan lampu pijar dengan cara melakukan eksperimen demi eksperimen yang terus-menerus gagal hingga akhirnya sukses. Soichiro Honda menjadi legenda motor bebek karena tindakannya bereksperimen dan berkecimpung di dunia mesin motor. Seorang petinju profesional setiap hari tentunya berlatih dan berlatih secara fisik dan mental sehingga menjadi semakin kuat dan kuat.

Masih banyak contoh-contoh dan hikmah lainnya. Maka, sebaiknya kita juga meniru mereka yang sudah sukses, apapun bidang dan profesi yang ditekuni.

Lebih baik lelah fisik dalam berbuat kebaikan, karena pikiran akan tenang, sedangkan kelelahan fisik itu akan hilang. Daripada lelah pikiran, karena fisik tidak melakukan kewajiban yang harus dilakukan. Lelah pikiran lebih berbahaya karena akan menyerang fisik juga, tetapi lelah fisik akan mudah disembuhkan dengan beristirahat asalkan pikiran tenang.

Tuesday, August 10, 2010

Jangan berkata "nanti"

Jangan pernah berkata nanti untuk kesempatan melakukan pekerjaan-pekerjaan/tindakan yang mulia. Berkata "nanti" adalah ciri-ciri dari seorang perfeksionis yang selalu menunda pekerjaan karena ingin segala sesuatunya sempurna terlebih dahulu. Ketika kita menunda-nunda pekerjaan yang baik, maka waktu sudah terlalu banyak terbuang. Apa yang kita impikan tidak pernah tercapai, dan kita hanya melihat impian-impian itu terjadi pada orang lain yang cepat bertindak.

Di bawah ini contoh pekerjaan-pekerjaan mulia yang harus segera dilaksanakan:
1. Shalat tepat waktu
2. Zakat, infaq, shodaqoh
3. Mengaji, membaca
4. Bersilaturahmi
5. Menyelesaikan pekerjaan kantor
6. Membayar hutang
6. Menolong orang lain
7. Bersih-bersih/beres-beres
8. Menjalankan usaha
9. dll...

Masih banyak tentunya pekerjaan-pekerjaan mulia yang tidak dapat disebutkan semuanya. Kapan kita akan melaksanakannya, jawabnya adalah "sekarang". Kalau kita berkata "nanti, aku masih sibuk". Kesibukan apa sebenarnya yang membuat kita lalai mengerjakannya. Waktu demikian cepat berjalan, berputar. Tau-tau sudah besar, tau-tau sudah nikah, tau-tau sudah punya anak, tau-tau sudah tua. Alangkah menyesalnya jika menyadari diri kita sudah tua, tetapi banyak kesempatan besar yang kita lewati di masa muda. Sedangkan kita tidak dapat kembali lagi ke masa itu. Tidak ada yang bisa melawan penuaan diri. Semuanya atas kehendak Allah. Maka, bangkitlah, sekarang saatnya, jangan bagaimana nanti, tetapi nanti bagaimana. Pikirkan akibatnya jika terus menunda-nunda pekerjaan.


Demi Masa
Sesungguhnya Manusia dalam kerugian. Kecuali Orang-orang yang beramal shaleh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. (QS : Al-Ashr 1-3)


Saturday, April 24, 2010

Efek Kebersamaan



Pernahkah kita berjalan kaki bersama seorang teman menuju suatu lokasi tertentu yang cukup jauh sambil berbincang-bincang, kemudian tanpa terasa ternyata kita sudah sampai? Kemudian pernahkah kita berjalan kaki seorang diri menuju lokasi yang sama, dan ini terasa sangat jauh dan melelahkan? Saya rasa setiap orang pernah merasakan hal yang sama. Apa sebenarnya yang membedakan dari kedua hal di atas?

Masih banyak pengalaman lain yang dapat menjadi contoh. Penulis pernah mengikuti kegiatan Achievement Motivation Learning bersama teman-teman guru sekolah dasar. Dalam suatu kegiatan outbond, kami membentuk lingkaran, di tengah-tengah sudah disediakan papan-papan kayu yang saling disusun bersilang. Di tengah papan kayu tersebut dipilih seorang teman kami yang memiliki bobot tubuh besar. Dan kami diminta untuk mengacungkan telunjuk ke atas langit. Lalu pelan-pelan sambil mengucap Basmallah jari kami turunkan dan diletakkan di bawah papan untuk mencoba mengangkatnya. Kami pikir apa mungkin mampu mengangkat teman kami yang cukup berbobot dan berdiri di atas papan-papan kayu hanya dengan menggunakan jari telunjuk saja? Lalu kami menarik nafas bersama-sama, sang motivator memerintahkan kami untuk saling percaya dan yakin bisa. "Angkat...", teriak sang pelatih. Kamipun mengangkatnya, ajaib, ringan sekali rasanya, teman kami di tengah papan berdiri dapat terangkat ke atas seperti mengangkat sebuah papan kecil saja. Seperti ada kekuatan lain yang ikut mengangkatnya.

Tadinya penulis berpikir sang motivator menggunakan magic dalam melakukannya. Tetapi setelah dijelaskan secara logika ternyata masuk akal juga. Kami menghitung bobot teman kami plus papan-papan yang ada, kira-kira 80 Kg, lalu dibagi 25 orang, jadi sebenarnya setiap orang hanya mengangkat berat 3,2 kg saja menggunakan telunjuk. Jadi kekuatan lain itu memang ada, yaitu kekuatan teman-teman kita selain diri sendiri yang mengangkatnya, dan tentunya dengan izin-Nya.

Contoh lain lagi adalah shalat, ternyata akan terasa lebih nikmat, ringan dan khusyuk dalam menjalankannya jika berjamaah. Terasa berbeda jika hanya menjalankannya seorang diri, biasanya akan terburu-buru, bacaan surat yang pendek-pendek saja dan tidak khusyuk. Pahalanyapun jauh lebih besar, yakni 27 kali lipat.

Berikutnya adalah burung angsa yang terbang, kita melihat angsa di udara terbang bersama-sama dan membentuk formasi huruf V. Ternyata setelah diteliti oleh para ilmuwan, formasi terbang seperti itu tidaklah kebetulan saja. Kepakan sayap angsa yang terdepan akan memberi daya dukung bagi angsa yang di belakangnya, sehingga angsa yang di belakang tidak perlu susah payah menembus dinding udara di depannya. Sehingga mereka dapat menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dan jika angsa terdepan lelah, ia akan mundur ke belakang dan digantikan oleh angsa yang lain. Luar biasa...

Model bisnispun sekarang sudah sangat banyak yang menggunakan sistem jaringan dalam pemasarannya. Dan hasilnya luar biasa, perusahaan dapat memasarkan produknya jauh lebih berhasil dibandingkan jika memasarkannya dengan cara biasa. Dan setiap orang di dalam sistem bisnis jaringan ini berkesempatan untuk ikut meraih kesuksesan. Mereka bekerja bersama-sama, saling membantu, memberikan semangat dan motivasi untuk sukses.

Masih banyak tentunya contoh lainnya, teman-teman bisa menambahkannya sendiri, sekian dulu, terima kasih. Sampai jumpa lagi pada judul yang lain....

Friday, March 26, 2010

Antisipasi

Wow, sobat blogger...lama nih ga posting. Yah, postingnya memang pas ada ide aja, kalo lagi ga ada ide ya bisa lama ga nulis-nulis, dipaksakan nulis juga jelek hasilnya. Ok, judul yang diambil kali ini adalah mengenai antisipasi, idenya dari sebuah film yang pernah penulis saksikan ketika di Sekolah Dasar, tentunya dengan tambahan-tambahan bumbu racikan sendiri supaya lebih menarik, selamat membaca...............

Sedia payung sebelum hujan adalah sebuah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kata "antisipasi". Antisipasi adalah sebuah kemampuan untuk dapat membaca masa depan (tapi bukan peramal ya!) melalui tanda-tanda yang dapat dilihat saat ini. Orang yang memiliki sifat antisipasi selalu siap dalam menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan.

Pernah di suatu film kungfu, Li Shou Lu adalah seorang jagoan di kampusnya. Suka menolong teman-temannya yang teraniaya. Kemampuan kungfunya juga dapat diandalkan, sehingga ia dijuluki master kungfu di kampusnya tersebut dan tidak ada saingannya. Hal ini membuat Li Shou Lu bangga diri, ia merasa cukup dengan kemampuan kungfunya, sehingga tidak pernah mencoba mempelajari hal-hal dan teknik baru dalam dunia perkungfuan. Hingga suatu ketika masuklah seorang mahasiswa baru di tempat Li Shou Lu kuliah. Mahasiswa baru ini bersifat pendiam, tidak bergaul dan misterius. Pernah suatu ketika Li Shou Lu mencoba mendekatinya, mengajaknya bicara, namun ia pergi begitu saja. Hal ini membuat sekelompok jahil ingin mencoba mengganggunya. Dalam perjalanan pulang, mereka mencegat si "misterius", meledeknya, meminta uang, bahkan memukulnya. Si "misterius" ini hanya diam saja, ketika dipukul perutnyapun terlihat meringis kesakitan, namun tidak banyak bicara. Li Shou Lu yang kebetulan melihat itu tentunya tidak tinggal diam, ia langsung membela si "misterius" yang teraniaya. Teman-teman jahil tersebut tentunya segan melihat kedatangan Li Shou Lu dan mereka tidak mau membuat masalah. Tetapi si "misterius" tetap diam dan tidak bicara apapun kepada Li Shou Lu. Ia hanya sedikit merapikan pakaiannya, menepuk-nepuk pasir dibaju dan celana yang dikenalan, mengambil tas yang terjatuh di tanah. Lalu dengan ucapan pendek saja "terima kasih", lalu pergi meninggalkan Li Shou Lu.

Li Shou Lu tentu saja penasaran memperhatikan sikap teman misteriusnya itu. Sebagai seorang ahli kungfu Li Shou Lu dapat memahami bahwa si misterius ini bukan orang sembarangan, terlihat dari sikap dan caranya berjalan. Hingga di suatu ketika ia mengikuti si misterius pulang kuliah. Ternyata ia memiliki sebuah tempat latihan kungfu tersembunyi di sebuah gua yang jauh dari keramaian. Li Shou Lu melihat gerakan-gerakan, hentakan, hantaman dan daya tahan yang luar biasa dari si "misterius" ini ketika berlatih. Sebuah latihan keras yang tidak pernah ia saksikan selama ini.

Singkat cerita, hingga suatu ketika Li Shou Lu harus berhadapan satu lawan satu dengan si "misterius". Si misterius yang dahysat ini sayangnya diperdaya oleh sekelompok mafia pengedar narkoba untuk membunuh Li Shou Lu. Dalam 'pertempuran' kungfu itu Li Shou Lu dapat dikalahkan dengan telak dan mengakibatkan ia terluka parah dan hampir terbunuh. Tetapi beruntung, ia ditolong oleh teman-temannya yang memanggil polisi dan ambulance, namun Lee dan kelompoknya lolos dari kejaran polisi. Li Shou Lu harus dirawat di rumah sakit selama berbulan-bulan karena terluka parah dan beberapa tulangnya patah.

Selama masa penyembuhan inilah sang jagoan kungfu banyak merenung dan mengumpulkan segenap kekuatannya. Seorang teman akrabnya yang setia dan selalu menemani Li Shou Lu menasehatinya dan mengatakan bahwa ia memiliki kelemahan, yaitu kurang antisipasi, sehingga dapat dikalahkan dengan mudah oleh si "misterius".

Kata-kata temannya itu terus mengiang-ngiang dan berulang-ulang muncul di pikiran Li Shou Lu.

"Kurang antisipasi...kurang antisipasi, tidak bisa membaca gerakan yang akan dilakukan oleh lawan...".

"Yaaa...itu dia, aku kurang antisipasi..aku terlalu terlena dengan kemampuanku saat ini, sehingga tidak mampu melihat bahwa ternyata di luar sana banyak sekali orang-orang yang lebih hebat, kemampuan yang luar biasa, teknik-teknik yang baru..."

Ok, pembaca tentunya sudah dapat menebak akhir ceritanya kan?

Ya, selama di rumah sakit Li Shou Lu banyak membaca buku-buku tentang kebijaksanaan hidup. Tentang teknik-teknik baru dunia perkungfuan. Bahkan ia mempraktekkan gerakan-gerakan itu sambil berbaring. Sehingga terkadang ia mendapat teguran dari pasien lain dan tentu saja dokter yang menanganinya. Ketika keadaan Li Shou Lu sudah lebih baik, ia bahkan turun dari tempat ia berbaring dan mempraktekkan gerakan-gerakan kungfu di sekitar halaman rumah sakit. Dan ini sering membuat masalah dengan pihak rumah sakit.

Sekeluarnya Li Shou Lu dari rumah sakit, ia berlatih sangat giat dan keras. Mempelajari gerakan-gerakan dan teknik-teknik baru dalam dunia kungfu. Hingga suatu ketika ia kembali berhadapan dengan sang "misterius". Keadaan menjadi seimbang, namun sedikit demi sedikit sang "misterius" dapat dikalahkan.

Di bagian akhir cerita, sang "misterius" yang ternyata bernama Lee ini malah menjadi sahabat baik Li Shou Lu. Lee bertobat dan mengatakan bahwa ia terjerat dalam sindikat perdagangan narkoba karena membutuhkan dana besar untuk mengobati orang tuanya yang sakit keras.

Mereka berduapun berjuang keras untuk menumpas mafia jahat ini. Li Shou Lu juga mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang ia dapat dari pertandingan-pertandingan kungfu dan pertunjukan-pertunjukan yang ia lakukan untuk membantu menyembuhkan orang tua Lee.

Sunday, December 20, 2009

Melawan Diri Sendiri

Sebenarnya yang harus ditakutkan dalam hidup ini adalah bukan apa yang kita takutkan, tetapi rasa takut itu sendiri. Rasa takut yang ada di dalam diri. Contohnya adalah seseorang yang pernah mengalami suatu peristiwa yang tidak menyenangkan di dalam hidupnya. Biasanya seseorang akan mengalami perasaan yang sama ketika terjadi suatu keadaan yang mirip dengan peristiwa buruk yang pernah ia alami sebelumnya. Padahal belum tentu sama dan belum tentu tidak menyenangkan, bisa jadi malah sebenarnya itu adalah sebuah kesempatan yang seharusnya jangan dilewatkan.

Contoh nyata adalah seseorang yang pernah mengalami kecelakaan, mungkin ada sebagian yang menyatakan tidak akan pernah membawa kendaraan bermotor lagi dalam hidupnya. Atau orang yang pernah jatuh dari tempat yang tinggi, setelah selamat bersumpah tidak akan berada di tempat-tempat yang tinggi lagi dalam hidupnya. Atau orang yang pernah disakiti oleh temannya, maka selamanya menganggap temannya adalah orang yang buruk dan tidak pernah akan memaafkannya. Jika ini yang terjadi, maka berarti pikiran telah dikalahkan oleh perasaan takut yang berlebihan.

Antara pikiran dan perasaan harulah seimbang. Jika pikiran yang terlalu berlebihan, maka akan cenderung menjadi orang yang kaku dan tidak menyenangkan. Namun jika perasaan yang digunakan terlalu berlebihan, maka akan cenderung buta dan menutup mata terhadap kenyataan yang ada.

Ketika kita pernah mengalami sebuah peristiwa yang buruk di dalam hidup kita, lalu kita selamat dari peristiwa tsb, maka seharusnya kita berinstrospeksi dengan menggunakan akal sehat. Apa yang menyebabkan peristiwa tsb. terjadi, kesalahan-kesalahan apa yang pernah kita perbuat? Kemudian bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Setelah itu jika suatu keadaan yang sama terjadi kembali kita sudah siap dan yakin dan berani menghadapinya. Jika tiba-tiba perasaan takut itu kembali datang, sedangkan segala persiapan sudah matang, segala kesalahan dan kemungkinan kegagalan sudah diperhitungkan. Maka, katakan pada diri sendiri, pergilah kau rasa takut, aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk ini. Dan kau datang hanya untuk mengganggu aku, tidak ada alasan untuk kehadiranmu. Jika rasa takut tidak juga hilang, maka tetap lakukan saja apa yang sudah direncanakan. Abaikan rasa takut itu dan tunjukkan rasa berani. Kalaupun tindakan yang telah kita lakukan tidak menghilangkan rasa takut, maka sebenarnya kita sudah mengalahkannya dengan tindakan. Dan tindakan positip yang terus-menerus akan mengikis habis rasa takut tersebut.