Showing posts with label Sumbangan Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Sumbangan Tulisan. Show all posts

Friday, October 31, 2008

Baju-baju yang Menipu

Story of Stanford University

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .
Mereka meminta janji.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.
Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap kali menipu


Kiriman Mas Tuluh.

Monday, October 27, 2008

Balasan Kebaikan

Ini adalah kisah nyata penuh makna teman saya yang pada Tahun 2007 sedang mengikuti perkuliahan fakultas pendidikan di Serang Semester 7. Peristiwa ini terjadi saat perjalanan pulang kuliah dari Serang menuju Cilegon. Berikut kisahnya:

Demi mengejar masa depan, saya melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Pendidikan. Saat itu semester 7 tahun 2007. Studi tsb. diiringi dengan bekerja mencari nafkah untuk anak istri. Saya menjalani dengan penuh hambatan dan rintangan, terkadang malas karena kelelahan. Ketika itu di Kota Serang saya sedang makan bakso di depan Mall Borobudur karena lapar sepulang kuliah. Saya tiba-tiba ditemui seorang kakek yang menceritakan kesulitan dirinya untuk pulang ke kampung halamannya yang berlokasi di Ciomas.

Si kakek berkata,”Nong, kiteke arep jaluk tulung, jaluk ongkos enggo balik neng Ciomas. Kakek tsb. meminta tolong untuk memberinya ongkos pulang ke Ciomas.
Kemudian saya bertanya kepada kakek itu,”Berapa kek ongkos ke Ciomas?”.

Dia bilang,”Selawe ewu cukup nong”. Maksudnya dua puluh lima ribu cukup. Ketika itu dikocek saya hanya ada Rp. 50.000 sebanyak 3 lembar. Saya berikan ke kakek itu Rp.50.000.

“Nuwun Nong..ati-ati!” Kakek itu berterima kasih dan mendoakan saya.

Setelah itu saya berpisah dengan si kakek. Kakek ke arah Ciomas, saya ke arah Cilegon. Tidak lama saya saya melintasi polisi tidur di depan Kopasus Taman Serang. Saya mengendarai sepeda motor perlahan-lahan melalui polisi tidur itu, tiba-tiba saya tersundul dari belakang oleh kendaraan sedan mewah. Saya jatuh terlepas dari kendaraan motor itu, dan orang-orang dipinggir jalan berlari-lari menghampiriku untuk menolong. Kendaraan sedanpun turut berhenti dan menepikan kendaraannya, kemudian seorang Bapak keluar dari mobil mendekatiku.

Beliau bertanya,”Gimana Mas keadaannya, ada yang sakit?”

Saya menjawab,”Ya keadaannya Pak, saya tadi naik sepeda motor tidak apa-apa tiba-tiba Bapak menyundulku dari belakang.”

“Terus yang sakit apanya?”, tanyanya lagi.

“Alhamdulillah Pak, masih dalam lindungan-Nya”, jawabku meyakinkan.

Tiba-tiba bapak itu sibuk menggerakkan tangannya ke dada, ke paha depan kanan kiri, akhirnya langsung ke kantong belakang dan mengeluarkan sebuah dompet. Dan mengambil uang senilai dua ratus ribu rupiah diberikan kepadaku.
Saya bertanya kepada bapak itu, “Apakah Bapak ikhlas memberiku, dengan buru-buru, kelihatannya ada urusan yang lebih penting?”

“Ikhlas Mas”, jawabnya singkat. Akhirnya Bapak itu melanjutkan perjalanannya begitu juga diriku.

Kisah nyata ini memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa orang yang suka memberi dengan ikhlas… akan mendapatkan balasan lebih besar…dari Allah. Melalui berbagai cara, jika Allah menghendakinya.

Oleh : Sudirmanto

Saturday, October 25, 2008

Punokawan

Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-. Contohnya seperti Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh/pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Nala Gareng, juga diadaptasi dari kata arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa, kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Petruk, diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwalLaahi, yang artinya: tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa, setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.

Bagong, berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan. Si “Bayangan Semar” ini karakternya lancang dan suka berlagak bodoh. Secara umum, Panakawan melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Para tokoh panakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada dasarnya setiap manusia umumnya memerlukan pamomong, mengingat lemahnya manusia, hidupnya perlu orang lain (makhluk sosial) yang dapat membantunya mengarahkan atau memberikan saran / pertimbangan.

Pamomong dapat diartikan pula sebagai guru / mursyid terhadap salik yang dalam upaya pencerahan jati diri. Karakter Panakawan sebenarnya muncul berdasarkan penuturan Puntadewa / Dharmakusuma (satu-satunya dari Pandawa yang memeluk Islam) kepada Sunan Kalijaga dalam komunikasi ghaib sesama aulia. Dijelaskan juga bahwa selain Semar, para panakawan yang dinyatakan sebagai anaknya (Gareng, Petruk dan Bagong) sebenarnya adalah dari bangsa Jin.

Tokoh Panakawan dimainkan dalam sesi goro-goro. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan kekerasan antara tokoh-tokohnya hingga lakon goro-goro dimainkan. Artinya adalah bahwa jalan kekerasan adalah alternatif terakhir. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang sama.

Lakon goro-goro pun menggambarkan atau membuka semua kesalahan, dari yang samar-samar menjadi kelihatan jelas sebagaimana sebuah doa: Allahuma arinal haqa-haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba, artinya: Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukillah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya.

Oleh: Tuluh Tumidi (Temen kos H-19 Kuningan Yogyakarta)
Tuluh_tumidi@ptadindo.com