Perumpamaan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia adalah kita layaknya seorang musafir. Seseorang yang sedang mengembara jauh, untuk pulang kembali menuju kampung halaman yang sebenarnya. Kampung yang dulu pernah menjadi tempat tinggal dari nenek moyang semua manusia, Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa.
Jika hidup bagai seorang musafir, maka apa yang biasanya dilakukan? Ya, seorang musafir memiliki tujuan yang jelas dalam perjalanannya. Seorang musafir memerlukan perbekalan yang cukup untuk sampai pada tujuannya. Seorang musafir tidak berdiam terlalu lama dan terlena pada suatu tempat yang ia lalui. Betapapun tempat tsb. adalah tempat yang sangat indah dan banyak kesenangan. Namun ia meyakini bahwa tujuan perjalanan yang sebenarnya adalah tempat yang jauh lebih indah dan terindah dari segala tempat terindah. Seorang musafir tidak membawa beban terlalu banyak yang dapat menghambat perjalanannya.
Tujuan perjalanan kita adalah akherat, untuk menemui Sang Pencipta. Dan di akherat itu ada dua tempat ekstrim. Yang satu ekstrim penuh kesenangan, yang satu lagi ekstrim penuh kesengsaraan. Tentunya pilihan yang mana kita semua mengetahui.
الحديث الأربعون
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. [رواه البخاري]
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: “Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara”, Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (Riwayat Bukhari).
Seorang musafir memerlukan perbekalan yang cukup dan tidak membawa beban yang dapat menghambat perjalanannya. Bekal itu adalah iman dan takwa yang menghasilkan pahala, sedangkan beban itu adalah dosa.
Musafir modern abad ini ketika bepergian tentunya tidaklah membawa begitu banyak barang-barang keperluan hidupnya. Karena akan merepotkan perjalanan dan memakan biaya besar. Cukuplah ia membawa bekal makanan dan minuman secukupnya,pakaian. Dan yang terpenting adalah uang dan ATM (Automatic Teller Machine). Sehingga kapanpun ia membutuhkan suatu makanan, minuman atau barang-barang tertentu, ia dapat membelinya dengan uang. Jika uangnya habis, ia dapat mengambil uang lagi menggunakan ATM yang dibawa. Praktis dan tidak merepotkan.
Seorang musafir yang sedang menuju negeri akherat juga tidak perlu membawa barang-barang dunia, karena itu akan merepotkan. Dan jangan membawa beban-beban yang dapat menghambat, yaitu dosa. Jadikan barang-barang tsb. 'uang' dan simpan dalam bentuk pahala 'ATM'. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menjadikan barang-barang dan jasa yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak. Tidak dinikmati dan dibawa sendiri. Dengan demikian barang-barang dan jasa itu akan berubah menjadi ATM dan uang yang menjadi perbekalan praktis kita di negeri akherat nanti. Tidak menjadi beban. Bahkan uang dan pahala ATM itu akan berkembang dan dilipatgandakan oleh Allah S.W.T. jika kita ikhlas melakukannya.
Barang yang dinikmati sendiri bukanlah milik kita. Tetapi milik kita adalah apa yang bermanfaat bagi orang lain.
Musafir tidak akan terlena dengan keindahan dunia, karena ia mengetahui tujuan yang sebenarnya. Ia hanya numpang lewat di dunia. Hanya tempat persinggahan sementara. Ketika orang-orang berlomba-lomba memperkaya diri sendiri, menikmati semua keindahan dan kemewahan. Seorang musafir juga memperkaya diri, tetapi tidak semua kekayaan itu dinikmatinya, ia mengambil barang-barang keperluan secukupnya saja agar dapat bertahan hidup. Namun selebihnya ia tabung dalam bentuk pahala, dengan cara menshadaqahkan, sehingga dapat dinikmati oleh orang banyak manfaatnya.
Dan tujuan tertinggi sebenarnya bukanlah akherat, atau pahala yang didapat. Melainkan bertemu dengan Sang Maha Pencipta serta mendapat keridhoan-Nya. Itulah kebahagiaan tertinggi yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang tetap bertahan dalam keistiqomahan di tengah-tengah kegilaan dunia.
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Wednesday, August 10, 2011
Thursday, January 14, 2010
Sebuah Perjalanan
"Ngga kok, Bapak ga nanya harta ngga, yang penting agama, yang penting agama."
Itulah kata-kata terbaik yang pernah kudengar dari Bapak ketika aku bersilaturahmi ke rumah istriku dengan maksud ta'aruf 3 tahun yang lalu. Kini Bapak telah tiada, beristirahat dengan tenang di kampung kelahirannya, di desa Bengkalok, kecamatan Walantaka, Serang.
"Yan, kadieu Yaann." Getar suara teh Ani, kakak perempuan istriku yang menelpon tengah malam pukul 00:30 tepat pada hari Selasa tanggal 12 Januari 2010. Yah, Bapak telah tiada, setelah perjuangan panjang melawan penyakit asam urat dan ginjal yang dideritanya. Malam itu juga kami bergegas menuju Lebakgede, Merak di antar oleh adik menggunakan mobil Carry dan bersama istri dan ibuku, dan si kecil Naureen yang masih berusia 10 bulanpun mau tidak mau harus dibangunkan dari tidurnya, kasihan juga, tetapi kami harus berangkat.
Anehnya sebelum handphone istriku berdering tengah malam itu aku bermimpi bertemu dengan Bapak dan beliau mengatakan, "semuanya 100 juta". Setelah mengatakan itu beliau pergi begitu saja. Entah apa maksud mimpi itu tetapi mungkin itu adalah pertanda akan kepergiannya.
"Allah memberikan masalah demi masalah itu untuk mendewasakan kita." Demikian ustad Unang mengatakan ketika beliau bertakziyah ke rumah Bapak. Memang benar pikirku, semua musibah yang menimpa kita sebenarnya adalah sebuah proses pendewasaan diri. Segala sesuatunya memiliki maksud dan tujuan.
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, kelahiran, kehidupan di dunia dan kematian adalah proses yang akan kita alami. Bukanlah kematian yang seharusnya kita takutkan, akan tetapi apa yang akan menimpa diri kita setelahnya. Anak, istri, keluarga, saudara hanya akan mengantar kita hingga ke pemakaman, namun setelahnya mereka akan pergi dan kita bisa mendengar suara sendal-sendal yang bergerak menjauh meninggalkan kita.
Sendiri, sepi, sunyi, dingin, gelap, di dunia yang berbeda, alam barzakh. Ulat-ulat, cacing dan bakteri mulai akan menggerogoti dan menguraikan tubuh kita yang menjadi tempat tinggal ruh selama hidup. Sedih, takut, bingung, cemas, mungkin itulah yang akan kita rasakan di sana. Atau mungkin lebih mengerikan dari yang kita bayangkan. Kita berteriak sekeras-kerasnya memanggil-manggil, tetapi tidak ada yang mendengar. Yah, sadarlah kita saat itu bahwa "AKU SUDAH MATI". Tidak ada yang dapat menolong AKU, hanya amalan temanku nanti, entah amal baik atau buruk.
Lalu aku akan mendengar langkah-langkah kedatangan 2 makhluk cahaya. Munkar dan Nakir, mereka akan menanyakan beberapa hal, tentang Tuhan, Nabi, Agama, Saudara, Kitab Suci. Jika kita bisa menjawab semuanya dengan tenang dan benar, maka selamatlah kita seterusnya hingga hari pengadilan, tetapi jika kita tidak dapat menjawab, maka celakalah kita.
Sepohon kayu daunnya rimbun
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya
Kami bekerja sehari-hari
Untuk belanja rumah sendiri
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya
Ya, Allah, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi diriku semasa aku kecil.
Ampunilah segala dosa Bapak. Dosa yang besar, yang samar dan yang kecil. Dosa yang disadari atau tidak disadari. Terimalah segala amal baktinya, luaskan dan terangilah kuburnya, permudah segala urusannya. Amin...
Posting dan do'a ini kupersembahkan untuk ayahku yang telah meninggal dunia pada tahun 2001 yang lalu. Dan juga kepada Bapak mertuaku yang baru meninggal Selasa, tanggal 12 Januari 2010. Semoga mereka berdua beristirahat dengan tenang. Amin...
Itulah kata-kata terbaik yang pernah kudengar dari Bapak ketika aku bersilaturahmi ke rumah istriku dengan maksud ta'aruf 3 tahun yang lalu. Kini Bapak telah tiada, beristirahat dengan tenang di kampung kelahirannya, di desa Bengkalok, kecamatan Walantaka, Serang.
"Yan, kadieu Yaann." Getar suara teh Ani, kakak perempuan istriku yang menelpon tengah malam pukul 00:30 tepat pada hari Selasa tanggal 12 Januari 2010. Yah, Bapak telah tiada, setelah perjuangan panjang melawan penyakit asam urat dan ginjal yang dideritanya. Malam itu juga kami bergegas menuju Lebakgede, Merak di antar oleh adik menggunakan mobil Carry dan bersama istri dan ibuku, dan si kecil Naureen yang masih berusia 10 bulanpun mau tidak mau harus dibangunkan dari tidurnya, kasihan juga, tetapi kami harus berangkat.
Anehnya sebelum handphone istriku berdering tengah malam itu aku bermimpi bertemu dengan Bapak dan beliau mengatakan, "semuanya 100 juta". Setelah mengatakan itu beliau pergi begitu saja. Entah apa maksud mimpi itu tetapi mungkin itu adalah pertanda akan kepergiannya.
"Allah memberikan masalah demi masalah itu untuk mendewasakan kita." Demikian ustad Unang mengatakan ketika beliau bertakziyah ke rumah Bapak. Memang benar pikirku, semua musibah yang menimpa kita sebenarnya adalah sebuah proses pendewasaan diri. Segala sesuatunya memiliki maksud dan tujuan.
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, kelahiran, kehidupan di dunia dan kematian adalah proses yang akan kita alami. Bukanlah kematian yang seharusnya kita takutkan, akan tetapi apa yang akan menimpa diri kita setelahnya. Anak, istri, keluarga, saudara hanya akan mengantar kita hingga ke pemakaman, namun setelahnya mereka akan pergi dan kita bisa mendengar suara sendal-sendal yang bergerak menjauh meninggalkan kita.
Sendiri, sepi, sunyi, dingin, gelap, di dunia yang berbeda, alam barzakh. Ulat-ulat, cacing dan bakteri mulai akan menggerogoti dan menguraikan tubuh kita yang menjadi tempat tinggal ruh selama hidup. Sedih, takut, bingung, cemas, mungkin itulah yang akan kita rasakan di sana. Atau mungkin lebih mengerikan dari yang kita bayangkan. Kita berteriak sekeras-kerasnya memanggil-manggil, tetapi tidak ada yang mendengar. Yah, sadarlah kita saat itu bahwa "AKU SUDAH MATI". Tidak ada yang dapat menolong AKU, hanya amalan temanku nanti, entah amal baik atau buruk.
Lalu aku akan mendengar langkah-langkah kedatangan 2 makhluk cahaya. Munkar dan Nakir, mereka akan menanyakan beberapa hal, tentang Tuhan, Nabi, Agama, Saudara, Kitab Suci. Jika kita bisa menjawab semuanya dengan tenang dan benar, maka selamatlah kita seterusnya hingga hari pengadilan, tetapi jika kita tidak dapat menjawab, maka celakalah kita.
Sepohon kayu daunnya rimbun
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya
Kami bekerja sehari-hari
Untuk belanja rumah sendiri
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya
Ya, Allah, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi diriku semasa aku kecil.
Ampunilah segala dosa Bapak. Dosa yang besar, yang samar dan yang kecil. Dosa yang disadari atau tidak disadari. Terimalah segala amal baktinya, luaskan dan terangilah kuburnya, permudah segala urusannya. Amin...
Posting dan do'a ini kupersembahkan untuk ayahku yang telah meninggal dunia pada tahun 2001 yang lalu. Dan juga kepada Bapak mertuaku yang baru meninggal Selasa, tanggal 12 Januari 2010. Semoga mereka berdua beristirahat dengan tenang. Amin...
Saturday, October 17, 2009
Data-data yang Beterbangan
Terkadang aku memikirkan, bahwa di udara ini sedang beterbangan banyak sekali data dan informasi berupa sms, suara obrolan, film, gambar, dll . Namun kita tidak dapat melihatnya dengan mata. Kita baru dapat melihat, membaca atau mendengarnya jika data-data itu sudah ditangkap oleh peralatan elektronik dan digital. Data-data tsb. beterbangan dan bisa sampai tepat pada alamat yang dituju, misalnya no. telepon, alamat email, alamat blog, facebook, dll. Jarang sekali data itu menyangkut atau hilang dalam perjalanannya di udara. Andaikata kita bisa melihatnya dengan mata telanjang di udara, tentu berbagai rahasia komunikasi antar manusia dapat kita lihat di udara tsb. Bayangkan, saat ini kita telah memasuki era komunikasi nirkabel (tanpa kabel). Karena lebih praktis, mudah berpindah tempat dengan tetap terhubung. Peralatan seperti telepon seluler, laptop yang terhubung ke internet, PDA, dll telah mulai menggeser fungsi dari telepon kabel.
Yang ingin dibahas dalam tulisan ini bukanlah tentang teknologi peralatan tsb. Tetapi hanyalah sebuah renungan kecil saja. Apa hikmah yang dapat kita ambil dari teknologi komunikasi udara tsb?
Artinya di udara ini tidaklah kosong. Ada medium yang mengantarkan data-data tsb. ke peralatan digital. Sedemikian canggihnya penemuan manusia hingga dapat melakukan komunikasi yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh manusia zaman dahulu kala. Tentunya ini membuka sedikit tabir tentang adanya alam gaib di dunia ini. Alam yang tidak bisa dilihat tetapi sebetulnya ada secara nyata.
Kita dapat menyimpulkan bahwa di udara ini terdapat data-data yang beterbangan dibawa oleh gelombang, sinyal dan frekuensi yang berbeda-beda. Kita mempercayainya walaupun kita tidak dapat melihatnya. Mengapa? Karena kita dapat menerima data-data tsb. lewat peralatan digital nirkabel kita. Lewat mana data-data itu sampai, jika tidak melalui udara?
Al-qur'an telah banyak bercerita tentang adanya Allah, para malaikat, adanya jin, adanya surga dan neraka, adanya hari pembalasan, adanya ruh, dll. Kita semua tidak dapat melihatnya dengan mata biasa. Tetapi kita dapat meyakini keberadaannya dari akibat yang terjadi. Misalnya adanya alam semesta dengan segala isinya ini tentu ada yang menciptakannya yaitu Allah S.W.T. Karena akal kita tidak akan dapat menerima keberadaan sesuatu tanpa ada yang menciptakannya. Akherat, walaupun kita tidak dapat melihatnya saat ini, tetapi kita meyakininya. Hari pembalasan itu ada, untuk menyelesaikan urusan antara manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia dan dengan sesama makhluk. Akal kita tidak bisa menerima seseorang yang berbuat jahat, bebas hidup di dunia ini penuh dengan kesenangan tanpa pernah tersentuh hukum, lalu mati begitu saja tanpa ada pengadilan di akherat untuk pertanggungjawaban.
Kesimpulannya alam gaib itu ada, bukan sesuatu yang diada-adakan, dia ada, hanya tidak terlihat, atau belum terlihat. Karena sesuatu yang ada tidak harus selalu terlihat. Kita telah tertipu dengan panca indera yang disebut mata. Padahal panca indera manusia itu bukan hanya mata, ada mata hati (batin). Benda-benda yang ada di dunia ini sebenarnya hanya bayangan yang kita lihat di otak melalui mata kita, bukanlah benda sebenarnya? Buktinya apa? Buktinya, jika mata kita ditutup semua benda itu tidak ada kan?
Friday, October 2, 2009
Gempa di Sumatera Barat

Rabu sore sekitar pukul 17:15 terjadi gempa dengan kekuatan 7.6 skala richter di Sumatera Barat. Padang adalah daerah yang mengalami penderitaan paling besar akibat peristiwa alam tsb. Gempa ini terasa juga hingga ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.
Bayangkan, di sore hari ketika masyarakat masih sibuk beraktifitas, ada yang di gedung-gedung perkantoran, hotel, mall, rumah, jalan, tiba-tiba bumi bergoncang dengan begitu dahsyatnya. Mengakibatkan ribuan rumah rusak parah, bahkan rata dengan tanah, beberapa mengalami kebakaran. Wargapun panik dan berhamburan ke jalan, mengakibatkan kacaunya lalu-lintas, suara sirene meraung-meraung, warga lari ke bukit karena khawatir akan terjadi bencana Tsunami. Bahkan sebuah hotel terbesar di Padang dengan 3 lantai ambruk, mengakibatkan 200 orang terjebak dalam timbunan reruntuhan. Ibu-ibu ada yang menangis kehilangan suaminya, anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Kemudian listrikpun padam, sehingga dalam suasana mencekam, di malam hari tanpa adanya penerangan, ditambah lagi hujan, saudara-saudara kita kebingungan mencari perlindungan.
Pertanyaannya adalah, bagaimana jika itu semua terjadi di tempat kita, pada orang tua, anak-anak, suami dan istri kita? Maka, sudah sepantasnyalah bagi kita sebagai satu bangsa yang besar untuk dapat memberikan bantuannya. Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Ada yang berangkat menjadi relawan, menyumbang dengan harta berupa uang, pakaian, makanan dan obat-obatan. Tidak lupa juga bersimpati dengan do'a.
Maut memang salah satu yang menjadi rahasia Allah. Manusia tidak pernah dapat mengetahui kapan datangnya. Jika belum waktunya, bencana sedahsyat apapun tidak akan menyebabkan kematian bagi dirinya. Seorang ibu yang selamat dari reruntuhan hotel ketika mengikuti kegiatan training di antara 35 orang lainnya membuktikan itu, walaupun ia mengalami cedera di wajah, kaki dan punggungnya. Ia dapat diselamatkan dan diangkat dari reruntuhan. Sebaliknya, dalam keadaan alam yang tenang, tubuh yang sehat, bisa saja seseorang meninggal dunia begitu saja jika memang sudah waktunya.
Kita memang dipesankan oleh Rasulullah agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan nyawa sendiri, namun jangan pula kita takut menghadapinya. Karena maut adalah sesuatu yang pasti terjadi. Yang menjadi masalah adalah apakah kita telah siap menghadapi peristiwa panjang yang akan dialami setelah kematian? Siapkah kita menjawab pertanyaan malaikat kubur? Siapkah kita mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan di dunia?
Tidak ada jalan lain bagi manusia, makhluk yang lemah kecuali kembali kepada-Nya. Bencana adalah sarana kembalinya hati manusia kepada sang Pencipta. Sarana kembali tersungkur sujudnya kepala ini. Sarana persatuan ummat manusia yang senang bertikai. Sarana merenungkan kembali tujuan penciptaan manusia. Yakni untuk ta'at, tunduk dan beribadah kepada penggenggam alam semesta. Dia yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada, dialah Allah S.W.T.
"Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah)." (QS. 51:56)
Subscribe to:
Posts (Atom)