Wednesday, September 30, 2009

Sediakan Waktu untuk Cita-citamu

Setiap orang dalam hidup tentunya memiliki cita-cita. Sebuah tujuan atau goal yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Tetapi tidak banyak manusia yang mau menyediakan waktu untuk cita-citanya tsb. Sehingga lebih banyak orang-orang yang hanya bermimpi dan bermimpi tanpa pernah terus melangkah untuk menggapainya.

Orang yang telah menentukan tujuan hidupnya secara jelas dan tertarget tentunya dapat melihat jalan yang terbentang panjang menuju cita-citanya tsb. Dalam jalan itu, ia sudah mengetahui apa saja yang harus dilakukan dan menghadapi berbagai resikonya. Ia selalu menyediakan waktu untuk melakukan yang terbaik menuju goal hidup. Rutin, fokus dan terarah adalah kuncinya.

Memiliki berbagai alasan dan menunda pekerjaan adalah salah satu ciri orang yang jauh dari keberhasilan menggapai cita-citanya.

“Saya terlalu sibuk dan lelah…”. Ini merupakan alasan yang sering kita mendengarnya. Terkadang kita ini sibuk pada pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan tujuan hidup. Atau mungkin memang kita belum menentukan target hidup. Akhirnya kita terus sibuk dan sibuk tetapi tidak terarah dan tidak jelas hasil yang ingin dicapai. Ini terus terjadi sampai akhirnya tanpa terasa usia sudah terlalu tua ketika menyadarinya. Teringat cerita Nasrudin Affandi yang diminta tolong untuk mengangkat sebuah batu, ia mengatakan, “Saya akan mengangkatnya nanti …”. Terus ia menundanya karena tidak yakin dengan kekuatannya hingga ketika sudah tua ia berkata, “Saya mau mengangkatnya sekarang, tetapi saya sudah tidak kuat…”.

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali segera tentukan tujuan hidup, baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Jika sudah menentukan, jangan hanya diam, sediakan waktu untuk melakukan perjalanan menuju cita-cita tsb. Tidak malas dan menundanya dengan berbagai alasan, karena jika tidak mungkin kita hanya akan numpang lewat saja dalam kehidupan di dunia ini tanpa memberikan sesuatu yang berarti bagi kehidupan. Itu artinya adalah kesia-siaan yang membuat hidup menjadi merugi.


Sunday, September 27, 2009

Tidak Ada yang Sempurna

Sebuah peribahasa mengatakan bahwa "tiada gading yang tak retak" yang berarti tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap orang dilahirkan dengan bidang dan keahlian yang berbeda-beda. Semua itu dengan tujuan agar manusia dapat saling mengenal dan bekerja sama. Jadi tidak ada yang pantas untuk disombongkan apapun prestasi yang telah kita peroleh. Semua itu tidak akan berhasil dicapai tanpa bantuan orang lain dan tentunya atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Teringat kata-kata guruku ketika di sekolah dasar yang pernah mengatakan bahwa kita tidak mungkin dapat bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Misalnya rumah dimana kita tinggal yang diperoleh dengan keringat hasil kerja tidak akan pernah bisa berdiri jika tidak dikerjakan oleh seorang pekerja bangunan. Nasi yang ada dipiring telah melalui proses yang panjang hingga tersedia di meja makan kita. Mulai dari membajak sawah, menyemai, mengairi, menjaganya dari hama, hingga panen dan dipasarkan tentunya telah melibatkan orang banyak.

Tidak ada satupun manusia yang seperti superman yang mampu mengerjakan segala sesuatu dengan kekuatannya sendiri. Jika ada orang yang mengatakan tidak membutuhkan orang lain, coba kita bertanya padanya, siapa yang akan menguburkan jasadnya nanti bila ia meninggal dunia. Apakah ia mampu menguburkan sendiri jasadnya?

Semua yang bernama makhluk memiliki ketidaksempurnaan. Yang sempurna dan pantas untuk sombong hanya Allah S.W.T yang Maha Berdiri Sendiri tanpa perlu bantuan siapapun.

“..angkuh dan sombong itu adalah pakaian Allah, siapa yang menyaingi pakaian-Nya. Allah Ta'ala akan menyiksanya. (HR. Muslim) “

Friday, September 25, 2009

Busana Muslim Berkualitas

Masih dalam suasana lebaran Idul Fitri 1430 H, saya mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, semoga segala amal ibadah kita selama bulan suci Ramadhan diterima oleh-Nya, dan semoga juga diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini pada tahun yang akan datang, amin.

Salah satu kebiasaan ummat Islam di hari lebaran adalah mengenakan pakaian yang serba baru. Walaupun tidak menjadi kewajiban, akan tetapi merupakan suatu kebahagiaan tersendiri jika melihat saudara-saudara kita dapat mengenakan pakaian baru di hari yang fitri ini.

Walaupun sudah lewat beberapa hari lebaran, namun tidak ada salahnya kalau kita ingin membeli baju baru untuk diri sendiri atau sebagai hadiah/kado bagi sahabat dan keluarga. Sebagai seorang muslim, tentunya pakaian harus sesuai dengan yang disyariatkan, yaitu menutup aurat. Namun tentunya ingin juga tetap mengikuti mode dan gaya yang terkini/modern. Alhamdulillah, kini banyak sekali tersedia bermacam-macam busana muslim yang dapat menjadi pilihan sesuai selera kita. Tentunya dengan bahan yang bermutu dan berkualitas tinggi. Saya mendapatkan informasi sebuah alamat website yang menjual busana dan baju muslim. Contoh busana muslim yang ada adalah baju koko Shafa, busana muslim Elfadha, mukena Amaly lengkap dengan paket tas eksklusif, sajadah dan bergo, songkok Awing.

Ibu Ati Wicaksono, seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak laki yang masih balita. Setelah satu tahun lebih berjualan baju hamil di MomsMiracle.com, kemudian memberanikan diri untuk membuka toko online yang kedua, khusus berjualan busana muslim yaitu ButikAqilla.com.

ButikAqilla.com beralamat sama dengan MomsMiracle.com yaitu di Citra Raya blok M1 No.3 Cikupa Tangerang. Silakan bagi yang ingin mampir dapat melihat langsung koleksi busana muslimnya. Dapat juga memesan secara online dengan mengirim sms/telepon atau email. Tentang detailnya secara lengkap silahkan kunjungi alamat websitenya.

Tuesday, September 22, 2009

Selepas Ramadhan

Apa indikator dari keberhasilan kita menjalani latihan di bulan Ramadhan? Tentunya peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah S.W.T. Seseorang yang telah melaksanakan latihan satu bulan penuh tentunya diharapkan kemampuannya akan meningkat, bukan malah sebaliknya. Tetapi begitulah keadaan yang kita lihat setiap tahun berulang-ulang. Di bulan suci Ramadhan orang beramai-ramai pergi ke Masjid untuk beribadah. Al-qur’an rajin dibaca hingga khatam dan dikaji. Shalat malam dan shalat-shalat sunnah, dzikir, zakat dan shadaqoh, semuanya begitu terasa. Tetapi apa yang terjadi setelah bulan Ramadhan usai? Atau bahkan pada setengah perjalanan bulan Ramadhan? Dapat kita saksikan sendiri.

Selepas bulan Ramadhan, kepadatan jama’ah shalat wajib, khususnya di waktu Isya kembali normal (walaupun seharusnya tidak hanya di waktu Isya saja), sama seperti arus mudik. Ke mana para sahabat kita yang di bulan suci kemarin bersama-sama menghadiri shalat berjama’ah? Jumlahnya berkurang begitu drastis. Lalu apa hasil dari latihan selama ini? Apakah ini hanya ritual tahunan belaka yang sama saja seperti budaya dan adat-istiadat lainnya? Tentu kita tidak mengharapkan demikian. Ramadhan bukanlah bulan pengekangan sesaat dari hawa nafsu, yang jika telah usai kembali menjadi liar dan merusak. Tetapi Ramadhan adalah sarana pelatihan untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya.

Pertarungan sesungguhnya baru akan dimulai selama 11 bulan ke depan. Pertarungan melawan hawa nafsu yang tidak pernah berakhir. Maka, seharusnya kita pertahankan atau bahkan tingkatkan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah dikerjakan selama bulan suci Ramadhan sehingga terasa hasilnya.

Demikian, semoga tulisan singkat ini cukup bermanfaat untuk memotivasi khususnya pribadi penulis sendiri dan siapapun yang membacanya. Terima kasih, kirim-kirim komentarnya ya di bawah ini…

Alam Pikiran dan Alam Kenyataan

Kita sebenarnya hidup di dua alam yang berbeda, yaitu alam pikiran dan alam kenyataan. Orang yang sukses adalah orang yang seimbang antara alam pikiran dan alam kenyataannya. Artinya apa yang ada dipikirannya atau dapat juga disebut impiannya itu sama dengan apa yang dialaminya secara nyata. Dengan kata lain ia mampu mewujudkan impian hidupnya.

Sedangkan orang gagal, apa yang ada dipikirannya tidak sama dengan apa yang dialaminya dalam hidup. Impiannya besar, keinginannya banyak, tetapi pada kenyataan hidupnya tidak satupun mimpi itu terwujud. Sehingga yang ada pada dirinya adalah penderitaan dan disiksa oleh pikiran dan impian tersebut.

Mengapa bisa seperti itu? Sederhana saja jawabannya, yaitu tindakan. Orang yang sukses adalah orang yang segera berbuat, bertindak, tidak menunda untuk meraih impiannya. Sedangkan orang yang gagal adalah orang yang malas, tidak berbuat karena terlalu banyak pertimbangan atau takut melangkah. Sehingga impiannya hanya sebatas khayalan, karena tidak ada kemauan untuk mewujudkannya. Akhirnya ia hanya membangun kerajaan di alam pikirannya saja, tidak di dunia nyata.

Coba saja Anda praktekkan, dalam 1 hari diam saja tidak melakukan kegiatan apapun, padahal tugas dan kewajiban Anda banyak. Pasti yang hadir ke dalam jiwa adalah kegelisahan dan pikiran yang tidak menentu. Walaupun fisik Anda diam, beristirahat dari aktivitas, tetapi jiwa Anda gelisah karena merasa ada tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan. Bandingkan jika Anda bergerak, berbuat sesuatu, menyelesaikan tugas dan kewajiban, maka ketenangan jiwa yang didapatkan. Walaupun fisik lelah, tetapi jiwa Anda tenang dan beristirahat. Lihatlah perbedaan antara air yang tergenang dengan air yang mengalir, tentu lebih segar air yang mengalir. Air yang tergenang akan menjadi sumber penyakit, menjadi bau dan tidak segar.

Maka, seimbangkan impian di dalam pikiran itu dengan tindakan. Maka kesuksesan itu akan dicapai. Di dalam agama Islam juga iman saja tidak cukup bukan? Harus disertai dengan taqwa (melakukan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya).

"sesungguhnya Allah swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasibnya sendiri-sendiri..." (Q.S. Ar-Ra'd: 13)



Friday, September 18, 2009

Hari Raya Idul Fitri



Tanpa terasa bulan suci Ramadhan akan segera berlalu. Ada rasa sedih bahwa kita akan ditinggalkan oleh bulan yang benuh dengan rahmat, pahala dan ampunan. Bulan di mana ibadah dilaksanakan bersama-sama seluruh ummat Islam di dunia.

Kita akan memasuki hari raya Idul Fitri. Hari di mana bagi yang berhasil menjalankan ibadah shaum selama sebulan penuh merupakan hari kemenangan, hari yang fitri. Kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Semoga segala amal kita selama bulan suci Ramadhan diterima oleh Allah S.W.T. Amin.

Selamat hari raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin

Wednesday, September 16, 2009

Mengatasi Bosan

Pernahkah Anda merasa bosan dalam menjalani hidup? Sebagai manusia normal pasti pernah bahkan mungkin sering. Saya sendiri sering merasa bosan, terkadang merasa apa yang telah dilakukan selama ini tidak ada artinya, mungkin sia-sia tanpa hasil. Pikiran jadi terbolak-balik, menjadi tidak fokus dan mengambang tidak jelas. Menjadi malas mengerjakan apapun, kalaupun dipaksakan mengerjakan tidak maksimal hasilnya. Menjadi serba salah dan plin-plan mengambil keputusan. Bagaimana mengatasinya?

Jika ini yang terjadi, mungkin setan sedang menyerang hati kita. Penyakit was-was yang selalu dibisiki oleh setan memang berbahaya. Ia merusak secara rohani dan pikiran. Maka yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak dari pekerjaan dan rutinitas kita. Mungkin hati dan pikiran menjadi tumpul karena terus-menerus digunakan untuk bekerja dan bekerja. Walaupun memang bekerja itu ibadah. Saya coba berhenti sejenak, tinggalkan semua pekerjaan memusingkan, lalu mengambil air wudhu dan shalat sunnah (bisa Dhuha, Hajat, dll.). Lalu berdzikir, berdo'a, merenung dan membaca Al-Qur'an. Hasilnya? Alhamdulillah pikiran menjadi tenang kembali, tajam dan terfokus, keyakinan kembali menguat. Berangsur-angsur saya mulai bisa kembali melihat arah tujuan hidup saya, rencana-rencana jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga hati kembali menjadi tenang.

Setelah hati menjadi tenang, berangsur-angsur mulailah bekerja kembali, jangan malah menjadi 'tenang' seterusnya. Karena ini juga jebakan setan, jangan terlena dengan ketenangan hati yang telah didapatkan. Kembali action dan bertindak. Ok, mungkin ini tips sederhana mengatasi rasa bosan (futur).

Tuesday, June 23, 2009

Optimalkan Waktu

Di saat waktu sempit begitu banyak yang harus dikerjakan, di dalam pikiran sering kita menginginkan waktu luang untuk beristirahat. Tetapi ketika waktu luang itu datang, kita malah bosan, bingung karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Mengapa begitu?

Ini terjadi karena dalam berbuat dan bertindak kita hanya sekedar memenuhi permintaan, tuntutan dan keharusan-keharusan. Tanpa berpikir arah dan tujuan kita berbuat dan bertindak. Perbuatan-perbuatan kita hanya mengikuti arus dan ke mana arah angin bertiup. Sehingga ketika waktu terasa sempit dan mendesak kita bekerja keras untuk membereskan keharusan-keharusan itu. Tetapi ketika waktu luang datang, maka sikap dan perbuatan kita justru ikut meluang, melonggar seakan-akan menyesuaikan dengan kelonggaran waktu yang ada. Lalu ketika waktu sempit itu datang lagi, kembali kita bekerja dan bekerja memenuhi tuntutan dan keharusan-keharusan. Maka, jika seperti ini keadaannya berarti kendali hidup bukan pada diri sendiri.

Sesungguhnya setiap detik, menit, jam yang ada akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akherat kelak. Maka, bagi orang yang mengerti tentang hal ini maka tidak ada bedanya antara waktu luang dan waktu sempit. Setiap saat adalah berharga untuk beramal kepada-Nya. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kita memiliki pekerjaan tetap, tetapi sebaliknya berpikirlah untuk tetap bekerja, berbuat dan bertindak. Pekerjaan tetap tidak menjamin kebahagiaan dan kesuksesan, tetapi tetap bekerja dan memanfaatkan waktu dengan baik adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan.

Selamat liburan semester, tetapi tetaplah berkarya, berbuat dan bertindak.

Friday, June 12, 2009

Sepenuh Hati



Tidak ada pilihan lain dalam hidup ini kecuali memang harus berbuat dan bekerja secara penuh. Seseorang yang menghindar dari berbuat dan bekerja justru akan semakin dikejar oleh pekerjaan demi pekerjaan. Dan itu akan membuatnya menderita secara psikologis.

Banyak dari kita yang mungkin mendapatkan pekerjaan atau profesi yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Tidak sesuai dengan cita-cita, tetapi tidak ada pilihan atau kemauan dirinya untuk keluar dari pekerjaan tsb. Sehingga yang terjadi adalah ketidakprofesionalan dalam pekerjaan. Akibatnya adalah bekerja secara asal-asalan, sembarangan, malas,yang penting asal tetap digaji. Itu terjadi karena tidak ada kecocokan antara hati dan pekerjaan.

Apakah Anda pernah mengalami hal seperti ini?

Jika jawabannya adalah ya, maka ada 3 pilihan yang dapat kita lakukan. Pertama, jika kita orang yang memiliki keyakinan tinggi maka segera keluar dari pekerjaan tsb. dan mencari pekerjaan sesuai impian. Pilihan kedua, tetap bekerja sambil Anda mencari peluang baru pada pekerjaan yang sesuai keinginan, namun tetap menjaga loyalitas pada pekerjaan awal sebelum beralih. Pilihan ketiga adalah belajar menyukai dan berbuat sepenuh hati pada pekerjaan tsb.

Ketiga pilihan di atas menurut saya tidak ada yang salah, semuanya benar sesuai keyakinan diri. Justru yang salah adalah jika kita tidak sepenuh hati, plin-plan dalam bekerja. Kita mengeluh dengan pekerjaan yang kita lakukan karena gaji yang minim misalnya, tekanan yang tinggi, waktu yang sempit, tidak menyukai bidang tsb. tetapi tetap saja bekerja walaupun tidak profesional. Karena hanya mengeluh tanpa membuat keputusan di antara ke-3 pilihan di atas. Tidak ada tindakan untuk mengubah diri, belajar dan berusaha. Jika ini yang terjadi maka ia hanya akan menjadi beban bagi perusahaan.

Saya akan membahas pada pilihan ke-3, yaitu belajar menyukai dan berbuat sepenuh hati pada pekerjaan tsb.

Pertama, kita harus sadari bahwa bekerja adalah ibadah kepada Allah S.W.T semata. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di akherat. Jadi bukan hanya pertanggungjawaban di dunia kepada Bos atau Pimpinan saja. Karena pertanggungjawaban kepada bos biasanya bisa dimanipulasi. Tetapi pertanggungjawaban kepada Bos dari semua Bos yaitu Allah S.W.T tidak bisa dimanipulasi atau dimainkan datanya.

Nah, berangkat dari keyakinan tsb. mulailah kita belajar menyukai bidang apapun yang sedang kita kerjakan. Lakukan secara sepenuh hati 100%. Mungkin ketidaksukaan kita akan berubah menjadi kesukaan bahkan kecintaan. Dan setelah berubah menjadi kecintaan, maka Insya Allah akan diberi cabang-cabang jalan menuju kesejahteraan dan kelayakan hidup yang sangat banyak oleh-Nya. Melalui jalan yang tidak disangka-sangka...Amin.

KATA MUTIARA:

"Berbuatlah sepenuh hati dimanapun kita bekerja, karena itu adalah jalan untuk membuka peluang-peluang baru dalam hidup"

Saturday, April 18, 2009

Lupa Itu Nikmat

Pada tulisan yang lalu saya pernah menulis tentang sifat manusia yang membuatnya lalai, yaitu lupa. Lupa akan nikmat Allah, lupa akan hari kebangkitan, lupa akan negeri akherat, lupa akan mati. Itu semua adalah lupa yang berbahaya. Tetapi ternyata lupa juga ada yang berupa nikmat.

Coba kita bayangkan sejak kita lahir hingga menjadi seperti sekarang ini. Tentunya begitu banyak peristiwa, pengalaman hidup dan kesan yang tergambar dalam ingatan kita. Dan diantara sekian banyak peristiwa dalam lembar kehidupan itu ada yang menyenangkan, ada pula yang mengerikan, menyedihkan, memilukan, atau menakutkan. Tetapi Alhamdulillah Allah S.W.T membuat otak kita untuk tidak terus-menerus dalam keadaan mengingat kejadian menakutkan tsb. Dan ini adalah salah satu nikmat Allah dari jutaan nikmat lainnya. Bagaimana jika kita memiliki ingatan yang kuat terhadap peristiwa-peristiwa mengerikan secara terus menerus sepanjang hidup. Tentunya akan mengganggu aktivitas keseharian, dan sangat tidak menyenangkan. Memang adakalanya dalam kondisi tertentu ingatan menakutkan itu akan muncul, tetapi dengan segera kita akan melupakannya kembali. Apalagi jika seseorang it uterus-menerus mendekatkan diri kepada Allah, tentunya ia akan berusaha membuat hari-hari yang dijalaninya menjadi semakin baik dan baik. Sehingga akhirnya lupa dan tidak mempedulikan lagi peristiwa buruk yang pernah menimpa dirinya.

KATA MUTIARA


Aku tidak menyesalkan masa lalu karena aku tidak dapat kembali kepadanya. Aku juga tidak merisaukan masa depan karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya melakukan yang terbaik pada hari ini di mana aku hidup dan yakin kepada-Nya.

Thursday, April 16, 2009

Caleg Gila



Wah, dah lama tidak menulis di blogku ini. Yah, terkadang ada jenuh juga namanya manusia, tetapi sekarang lagi pengen nulis lagi nih, eh lebih tepatnya ngetik...

Hmmm...yang menarik perhatianku adalah tentang pemilu legislatif yang baru saja berlangsung di negeri multi partai ini 9 April 2009 lalu. Sungguh fenomena yang aneh menurut kacamata orang normal melihat dan mendengar tingkah polah para caleg yang gagal memperoleh suara. Ada yang gila, stress, sumbangan yang telah diberikan diminta lagi hanya karena tidak terpilih, bahkan ada yang sampai meninggal dan bunuh diri.

Apa sebenarnya yang terjadi dengan bangsa ini. Begitu parahkah penyakit bangsa ini? Apa yang ada di pikiran para calon wakil rakyat itu? Lebih tepatnya apa niatan mereka sehingga rela menghabiskan dana jutaan bahkan milyaran rupiah untuk sebuah pertarungan memperebutkan kursi kekuasaan? Kalo aku sih punya uang 100 juta (Amin, terkabul), mending buat buka usaha, sehingga bisa membuka lapangan pekerjaan. Daripada dihambur-hamburkan buat pesta demokrasi jika niatnya salah. Yah, itulah jika niatnya adalah sekedar harta, uang, kekayaan, kekuasaan. Siap-siap saja menjadi sakit jiwa.

Tetapi Alhamdulillah caleg-caleg yang sakit jiwa itu tidak terpilih, bagaimana jika terpilih? Sudah dapat ditebak apa yang akan mereka lakukan jika terpilih, tentunya bagaimana bisa balik modal dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya, astaghfirullah. Mudah-mudahan caleg-caleg yang sudah terpilih tidak banyak yang berpenyakit jiwa, karena jika betul alangkah akan semakin terpuruknya bangsa ini.

Coba baca dan renungkah pidato khalifah Abu Bakar Shidiq 14 abad yang lalu di bawah ini wahai para wakil rakyat!!!

” Saudara-saudara, aku dipilih menjadi pemimpin bukan karena aku terbaik diantara kalian. Bantulah aku jika aku berbuat baik dan luruskan aku jika berbuat salah. Sifat jujur adalah amanah dan kebohongan adalah khianat. ‘Orang lemah’ diantara kalian aku pandang kuat posisinya disisiku dan aku akan melindungi hak-haknya. ‘Orang kuat’ diantara kalian aku pandang lemah posisinya disisiku. Aku akan mengambil hak-hak yang mereka peroleh dengan jalan zalim untuk kemudian dikembalikan kepada yang berhak. Janganlah meningalkan jihad, sebab Allah akan menimpakan kehinaan kepada kaum yang meinggalkan jihad. Patuhlah kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Dan janganlah mematuhiku jika aku durhaka kepada Allha dan Rasul-Nya. Kini marilah mendirikan Shalat. Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat-Nya kepada kita semua”.

Saturday, January 3, 2009

Oh, Palestina...

Mendengar, membaca, dan menyaksikan berita-berita seputar kejadian di Palestina baik melalui koran, televisi dan internet akan membuat marah, sedih, gemas, haru, dan bermacam perasaan lainnya bagi yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani. Kecuali bagi yang sudah mati hatinya. Tetapi ironis memang, di tengah-tengah duka yang mendalam bagi saudara-saudara kita di sana masih banyak di antara kita khususnya kaum muslimin di seluruh dunia yang berpesta pora merayakan tahun baru, bahkan dengan menghabiskan dana jutaan hingga milyaran untuk pesta tsb. Seolah-olah tidak peduli dengan apa yang terjadi di Palestina. Mungkin mereka hanya berpikir itu persoalan bangsa Arab saja yang berkonflik dengan Zionist Israel. Padahal persoalan Palestina adalah persoalan dasar bagi yang mengaku sebagai ummat Islam di dunia ini. Atau bagi siapa saja yang mengaku memperjuangkan HAM, demokrasi dan kedaulatan sebuah negara.

Saat ini, yang diperlukan ummat Islam adalah persatuan dan kesatuan. Kembali kepada Al-qur'an dan Sunnah, dan satu kesepakatan untuk kemerdekaan Palestina. Melepaskan segala sekat-sekat negara, kepentingan politik, pribadi dan golongan. Membantu Palestina dengan segala apa yang dimiliki sesuai kemampuan. Dengan harta, tenaga, tulisan, pikiran, waktu, uang bahkan nyawa. Keberanian bangsa Israel mengobrak-abrik tanah dan negara Palestina adalah karena kelemahan bangsa Arab dan ummat Islam sendiri.

Apa yang terjadi yaitu konflik di antara bangsa Palestina sendiri yaitu antara kelompok Fatah dan Hamas merupakan bukti belum adanya persatuan di tubuh ummat Islam. Mungkin yang terjadi di Palestina saat ini adalah politik adu domba yang digunakan penjajah Zionist Israel untuk melemahkan persatuan. Sama ketika bangsa Indonesia dijajah Belanda, mereka menggunakan politik 'Devide et Impera' atau politik adu domba. Dan terbukti setelah bangsa Indonesia mau bersatu, satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa pada Sumpah Pemuda maka akhirnya mampu mengusir penjajah Belanda pada waktu itu.

Ummat Islam juga merindukan lahirnya tokoh-tokoh besar yang mampu mempersatukan seluruh kekuatan ummat di bawah satu khilafah. Kami merindukan datangnya tokoh-tokoh sekaliber Umar bin Khatab, Shalahudin Al-ayubi, dll. yang mampu menciptakan kedamaian, persatuan, persaudaraan di Jerusalem, Palestina. Dan proses pengembalian peradaban yang hancur adalah proses yang sangat panjang. Tetapi sudah menjadi sunatullah bahwa kebenaran akan selalu menang. Kehancuran ummat Islam adalah karena ummat Islam sendiri meninggalkan ajaran-Nya. Dan kebangkitan ummat Islam adalah jika kita kembali kepada ajaran-Nya dengan penuh pengabdian kepada Allah S.W.T.

Friday, January 2, 2009

Hamzah Bin Abdul Mutthalib - Singa Allah

Thabarani telah mengeluarkan dari Al-Harits At-Taimi dia berkata: Adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib r.a. pada hari pertempuran di Badar membuat tanda dengan bulu burung Na'amah (Bangau). Sesudah selesai peperangan, maka seorang dari kaum Musyrikin bertanya: Siapa orang yang bertanda dengan bulu burung Na'amah itu? Maka orang berkata: Dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib. Sambut orang itu lagi: Dialah orang yang banyak memalukan kita di dalam peperangan itu. (Majma'uz Zawa'id 6:81)
Bazzar mengeluarkan dari Abdul Rahman bin Auf ra. dia berkata: Bertanya Umaiyah bin Khalaf kepadanya: Hai Abdullah! Siapa orang yang memakai bulu burung Na'amah di dadanya pada perang Badar itu? jawabku: Dia itu paman Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. Berkata lagi Umaiyah bin Khalaf: Dialah orang yang banyak memalukan kita dengan senjatanya sehingga dia dapat membunuh ramai di antara kita. (Majma'uz Zawa'id 6:81)

Hakim telah mengeluarkan dari Sabir bin Abdullah ra. dia berkata: Rasulullah SAW mencari-cari Hamzah pada hari Ubud setelah selesai peperangan, dan setelah semua orang berkumpul di sisinya: Di mana Hamzah? Maka salah seorang di situ menjawab: Tadi, saya lihat dia berperang di bawah pohon di sana, dia terus menerus mengatakan: Aku singa Allah, dan singa RasulNya! Ya Allah, ya Tuhanku! Aku mencuci tanganku dari apa yang dibawa oleh mereka itu, yakni Abu Sufyan bin Harb dan tentera Quraisy. Dan aku memohon uzur kepadamu dari apa yang dibuat oleh mereka itu dan kekalahan mereka, yakni tentera Islam yang melarikan diri! Lalu Rasulullah SAW pun menuju ke tempat itu, dan didapati Hamzah telah gugur. Bila Beliau melihat dahinya, Beliau menangis, dan bila melihat mayatnya dicincang-cincang, Beliau menarik nafas panjang. Kemudian Beliau berkata: Tidak ada kain kafan buatnya?! Maka segeralah seorang dari kaum Anshar membawakan kain kafan untuknya. Berkata Jabir seterusnya, bahwa Rasulullah SAW telah berkata: Hamzah adalah penghulu semua orang syahid nanti di sisi Allah pada hari kiamat. (Hakim 3:199)

Ibnu Ishak telah mengeluarkan dari Ja'far bin Amru bin Umaiyah Adh-Dhamri, dia berkata: Aku keluar bersama Abdullah bin Adiy bin Al-Khiyar pada zaman Mu'awiyah ra... dan disebutkan ceritanya hingga kami duduk bersama Wahsyi (pembunuh Hamzah ra.), maka kami berkata kepadanya: Kami datang ini untuk mendengar sendiri darimu, bagaimana engkau membunuh Hamzah ra. Wahsyi bercerita: Aku akan memberitahu kamu berdua, sebagai mana aku sudah memberitahu dahulu kepada Rasulullah SAW ketika Beliau bertanya ceritanya dariku.

Pada mulanya, aku ini adalah hamba kepada Jubair bin Muth'im, dan pamannya yang bernama Thu'aimah bin Adiy telah mati terbunuh di perang Badar. Apabila kaum Quraisy keluar untuk berperang di Uhud, Jubair berkata kepadaku: Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad untuk menuntut balas kematian pamanku di Badar, engkau akan aku merdekakan. Bila tentera Quraisy keluar ke medan Uhud, aku turut keluar bersama mereka. Aku seorang Habsyi yang memang mahir untuk melempar pisau bengkok, dan sebagaimana biasanya orang Habsyi, jarang-jarang tidak mengenai sasaran apabila melempar. Apabila kedua belah pihak bertempur di medan Uhud itu, aku keluar mencari-cari Hamzah untuk kujadikan sasaranku, sehingga aku melihatnya di antara orang yang bertarung, seolah-olahnya dia unta yang mengamuk, terus memukul dengan pedangnya segala apa yang datang menyerangnya, tiada seorang pun yang dapat melawannya. Aku pun bersiap untuk menjadikannya sasaranku. Aku lalu bersembunyi di balik batu berdekatan dengan pohon yang dia sedang bertarung, sehingga apabila dia datang berdekatan denganku, mudahlahlah aku melemparkan pisau racunku itu.
Tatkala dia dalam keadaan begitu, tiba-tiba datang menyerangnya Sibak bin Abdul Uzza. Apabila Hamzah melihat Sibak datang kepadanya, dia berteriak: Mari ke sini, siapa yang hendak mencari maut! Dipukulnya dengan sekali pukulan kepalanya terus berguling di tanah. Maka pada ketika itulah, aku terus mengacung-acungkan pisau bengkokku itu, dan apabila aku rasa sudah tepat sasaranku, aku pun melemparnya kepada Hamzah mengenai bawah perutnya terus rnenembusi bawah selangkangnya. Dia mencoba hendak menerkamku, tetapi dia sudah tidak berdaya lagi, aku lalu meninggalkannya di situ sehinggalah dia mati. Kemudian aku kembali lagi untuk mengambil pisau bengkokku itu, dan aku membawanya ke perkemahan kami. Aku duduk di situ menunggu, dan aku tidak punya hajat yang lain, selain dari hendak membunuh Hamzah agar aku dapat dimerdekakan oleh tuanku.

Apabila kami kembali ke Makkah, seperti yang dijanjikan oleh tuanku, aku dimerdekakan. Aku terus tinggal di Makkah. Dan apabila kota Makkah ditakluki oleh Rasulullah SAW aku pun melarikan diri ke Tha'if dan menetap di sana. Apabila rombongan orang-orang Tha'if bersiap-siap hendak menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Islam, aku merasa serba salah tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Aku berfikir, apakah aku harus melarikan diri ke Syam, atau ke Yaman, ataupun ke negeri-negeri lainnya, sampai kapan aku akan menjadi orang buruan?! Demi Allah, aku merasakan diriku susah sekali. Tiba-tiba ada orang yang datang kepadaku memberi nasehat: Apa yang engkau susahkan? Muhammad tidak membunuh orang yang masuk ke dalam agamanya, dan menyaksikan syahadat kebenaran! Aku tidak ada jalan melainkan menerima nasehat itu. Aku pun menuju ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW Memang tiada disangka-sangkanya melainkan dengan tiba-tiba Beliau melihatku berdiri di hadapannya menyaksikan syahadat kebenaran itu. Beliau lalu menoleh kepadaku seraya berkata: Apakah engkau ini Wahsyi? Jawabku: Saya, wahai Rasulullah! Beliau berkata lagi: Duduklah! Ceritakanlah bagaimana engkau rnembunuh Hamzah?! Aku lalu menceritakan kepadanya seperti aku menceritakan sekarang kepada kamu berdua.

Apabila selesai bercerita, Beliau berkata kepadaku: Awas! Jangan lagi engkau datang menunjukkan wajahmu kepadaku! Kerana itu aku terus-menerus menjauhkan diri dari Rasulullah SAW supaya Beliau tidak melihat wajahku lagi, sehinggalah Beliau wafat meninggalkan dunia ini. Kemudian apabila kaum Muslimin keluar untuk berperang dengan Musailimah Al-Kazzab, pemimpin kaum murtad di Yamamah, aku turut keluar untuk berperang dengannya. Aku bawa pisau bengkok yang membunuh Hamzah itu. Ketika orang sedang gawat bertempur, aku mencuri-curi masuk dan aku lihat Musailimah sedang berdiri dan di tangannya pedang yang terhunus, maka aku pun membuat persiapan untuk melemparnya dan di sebelahku ada seorang dari kaum Anshar yang sama tujuan denganku. Aku terus mengacung-acungkan pisau itu ke arahnya, dan apabila aku rasa sudah boleh mengenai sasarannya, aku pun melemparkannya, dan mengenainya, lalu orang Anshar itu menghabiskan hidupnya dengan pedangnya. Aku sendiri tidak memastikan siapa yang membunuh Musailimah itu, apakah pisau bengkokku itu, ataupun pedang orang Anshar tadi, hanya Tuhan sajalah yang lebih mengetahui. Jika aku yang membunuhnya, maka aku telah membunuh orang yang terbaik pada masa hayat Rasulullah SAW dan aku juga sudah membunuh orang yang paling jahat sesudah hayat Beliau. (Al-Bidayah Wan-Nihayah 4:18)

Bukhari telah mengeluarkan dari Ja'far bin Amru sebagaimana cerita yang sebelumnya, cuma apabila orang ramai berbaris untuk berperang, lalu keluarlah Sibak seraya menjerit: Siapa yang akan melawanku? Hamzah pun keluar untuk melawannya, lalu Hamzah berkata kepadanya: Hai Sibak! Hai putera Ummi Anmar, tukang sunnat orang perempuan! Apakah engkau hendak melawan Allah dan RasulNya? Hamzah lalu menghantamnya dengan suatu pukulan yang keras menghabiskannya.


Thursday, December 18, 2008

Lupa

Sifat manusia yang membuatnya rugi di dalam kehidupan adalah lupa. Bukan sekedar lupa membayar tagihan internet, lupa memenuhi janji kepada seseorang, lupa membayar pajak kendaraan bermotor, lupa mengerjakan tugas kantor, dll. Tetapi yang paling berbahaya adalah lupa akan tujuan aku diciptakan, lupa akan perjanjian dengan Allah ketika berada di alam rahim sebelum lahir ke dunia, lupa akan kewajibanku untuk sholat 5 waktu, lupa akan kewajibanku menolong sesama, lupa bahwa diriku akan mati, lupa akan datangnya hari kiamat, lupa akan dahsyatnya siksa api neraka, lupa akan pertanyaan di alam kubur, lupa bahwa diriku dulu tidak ada, lupa bahwa di sebelah kiri dan kananku ada malaikat yang menyaksikan segala tingkah laku diriku di dunia, lupa akan hari berkumpulnya milyaran manusia sejak zaman Adam hingga manusia terakhir di padang mahsyar nanti, lupa bahwa aku akan menyebrang jembatan shiratal mustaqim, lupa akan pertemuan dengan Allah di akherat nanti.

Aku tenggelam di dalam rutinitas pekerjaanku, bangun pagi, mandi, makan, mengetik, rapat, mengajar, makan siang, bercanda, tertawa, olahraga, piknik, membayar tagihan, membaca koran, bermain, nonton, dll. Aku tenggelam akan kekhawatiranku pada masa depan dan penyesalanku akan masa lalu. Aku tenggelam di dalam bayang-bayang rutinitas yang harus selalu di selesaikan.

Padahal setiap hari lima kali Allah selalu memanggil aku untuk mendekat kepada-Nya. Dia memanggil aku, menanyakan apa kesulitanku, menanyakan apa masalahku, menanyakan apa permintaanku, Dia yang telah menciptakanku, menciptakan langit dan bumi tempat aku tinggal, akupun damai bersama-Nya, dekat dalam dekapan-Nya.

Tetapi aku sering mengabaikan ajakan-Nya, aku lupa atau pura-pura lupa, tetapi suara itu tidak pernah berhenti memanggil, 5 kali dalam sehari semalam berputar mengelilingi bumi mengajak manusia untuk mendekat kepada-Nya.

Oleh: Yoga
http://istanayoan.blogspot.com

Friday, November 28, 2008

Membekukan Waktu



Pernah terlintas sebuah pikiran khayalanku. Ketika aku sedang sibuk sekali bekerja, terkadang ada juga rasa bosan di dalam hati ini dengan segala rutinitas yang ada. Ingin rasanya mengerjakan sesuatu yang berbeda, menekuni hal yang baru, menjadi manusia baru. Pikiran itu adalah andaikata waktu dapat dihentikan atau dibekukan. Biarlah waktu diam dulu, dan aku tetap beraktivitas menyelesaikan semua tugas-tugasku. Aku mengejar semua ketertinggalanku dalam kebekuan waktu itu. Mungkin aku bisa berolahraga, membaca buku, belajar berbagai jenis bahasa, berlatih dan berlatih. Sama seperti dalam film Dragon Ball, di mana Songgoku pernah masuk ke dalam sebuah ruangan khusus "Waktu dan Jiwa" di mana 1 hari di luar sama dengan 1 tahun di dalam ruangan tsb. Sehingga bisa berlatih meningkatkan kekuatan tubuh secara maksimal sebelum kembali bertarung melawan Iblis.

Hehehe...tetapi itu hanya khayalan belaka. Tetapi berdasar teori relativitas Einstein, bahwa gerakan itu bersifat relativ dan bergantung pada acuannya. Maka, aku kaget juga memikirkannya. Rasanya itu bisa saja terjadi. Konsep tentang waktu itu sendiri apa? Apakah detik, menit, jam, bulan dan tahun itu yang disebut waktu? Setelah dipikir-pikir waktu tidak lain kehidupan itu sendiri. Dan menghentikan waktu berarti menghentikan kehidupan. Perubahan alam semesta dan segala sesuatunya inilah yang menyebabkan munculnya konsep waktu. Semua yang dari tidak ada menjadi ada, dan menjadi tidak ada lagi itulah yang menyebabkan adanya waktu.

Yah, berdasar pengertian itu, maka menghentikan waktu berarti menghentikan semua aktivitas kehidupan. Misalnya, menghentikan pergerakan elektron pada inti atom, menghentikan tumbuhnya kecambah, menghentikan tumbuhnya rambut kita, menghentikan perputaran bumi, planet-planet, bintang, matahari, galaksi, nebula. Dan, makhluk tidak ada yang sanggup melakukan itu, hanya Allah S.W.T saja.

Nah, karena kita mentok tidak mungkin menghentikan waktu yang terus berputar, maka tidak ada jalan lain kecuali kitalah yang harus meredam kecepatan waktu itu dengan percepatan kita bertindak.

Waktu tidak bisa kita hentikan. Tetapi waktu dapat kita imbangi sedikit kecepatannya dengan percepatan tindakan kita. Bahkan dengan percepatan tindakan kita yang tinggi, waktu seolah-olah akan berhenti. Artinya itu terjadi juga. Dan titik acuannya adalah diri kita sendiri.

Jika kita mendengar istilah orang berkata "saya tidak punya waktu". Apa artinya itu? Apakah karena kesibukannya? Justru kesibukannya itulah waktu yang ia miliki. Jika ada orang berkata "waktu saya sangat luang". Tidak ada istilah luang dalam waktu, diam dirinya dalam kesenggangan waktu itu tetaplah waktu yang ia miliki. Dan setiap orang akan diminta pertanggungjawaban atas modal waktu yang Allah berikan.

Manfaatkan baik-baik setiap detik yang kita miliki untuk beribadah kepada Allah. Setiap detik yang berlalu jadikan ladang amal sebagai bekal kita menghadap-Nya kelak.

Oleh: Yoga
http://istanayoan.blogspot.com

Monday, November 3, 2008

Selalu Belajar, Berubah dan Berkembang

Adakah batasan waktu dalam belajar di dalam hidup ini? Apakah kita menetapkan batas usia tertentu untuk menyelesaikan kegiatan belajar? Sampai usia 25 misalnya? Karena usia muda pikiran juga dalam kondisi terbaik? Apakah belajar itu mulai dari TK, SD, SMP, SMA, D1, D2, D3, S1, S2 sampai S3? Usia muda memang cocok untuk belajar, bergiat-giatlah mempelajari bidang yang kita tekuni dengan sungguh-sungguh karena di usia muda pikiran kita sangat segar dan mudah menerima perubahan. Standar gelar juga cukup baik untuk memberikan sertifikasi bahwa seseorang telah memiliki kompetensi bidang ilmu tertentu asal memang ia menempuhnya dengan kesungguhan belajar. Tetapi rasanya terlalu sempit jika kita membatasi standar belajar hanya dari gelar dan usia.

Zaman terus berubah dan berkembang dengan demikian pesatnya. Media pembelajaran terus berubah mulai dari zaman menulis di pasir, batu, kayu, papan tulis (black board), white board, keyboard, sampai yang tercanggih adalah virtual board. Metoda, sistem, cara pembelajaran juga terus berkembang demikian pesat. Belajar sistem klasikal, ceramah, kelompok, individu, eksplorasi, games, outbond, studi wisata, quantum learning, sistem esq, sistem online, dll. Semuanya berkembang dan berubah karena sifat manusia yang memang memiliki akal pikiran dan kehendak untuk ingin lebih dan lebih.

Nah, terkadang bahkan selalu perubahan itu jauh lebih cepat daripada pertambahan usia kita atau dari masa studi kita untuk mendapatkan gelar akademik tertentu. Maka, diperlukan kemauan untuk terus belajar, berubah dan berkembang tanpa harus menunggu usia tertentu atau mendapat gelar akademik tertentu. Karena akan terlalu telambat bagi diri kita jika itu yang menjadi standar.

Ada orang yang berkata bahwa dirinya sudah terlalu tua untuk memiliki cita-cita. Terlalu tua untuk belajar. Atau ada pula yang berkata, sudah cukup apa yang saya dapatkan saat ini, saya sudah memiliki pekerjaan yang mapan dan saya merasa nyaman, saya tidak memiliki cita-cita menjadi apapun lagi. Adapula yang berkata saya sudah cukup mendapat gelar S2 dengan perjuangan berat, waktu, tenaga, biaya dan pikiran. Sehingga ia tidak ada keinginan belajar lagi karena pikirannya sudah terpatok pada gelar, pekerjaan yang ia peroleh atau usianya saat ini.

Cita-cita ketika sudah berumur tua memang tidak harus selalu berupa materi, harta, dll. Sekedar bercita-cita menjadikan anak cucunya pandai shalat saja sudah merupakan cita-cita yang tinggi. Bercita-cita memiliki aneka tanaman obat di kebun halaman rumah juga merupakan sebuah cita-cita.

Rasulullah SAW. pernah bersabda : “Apabila esok kiamat terjadi, sementara di tanganmu ada bibit kurma, maka jika mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, tanamlah!” (H.R. Ahmad). Sangat jelas nasehat Rasulullah dalam hadits tsb. Mengandung pengertian tidak mudah menyerah bahkan walaupun akan menghadapi hari kiamat, selama masih hidup dan ada yang dapat ditanam (bibit kurma) maka tanamlah. Allah melihat kesungguhan dan keikhlasan kita serta membalas dengan pahala dan surga, tidak sekedar dari hasil yang diperoleh.

Ada pepatah yang mengatakan "belajarlah dari buaian sampai liang lahat" . Artinya hanya maut yang menghentikan proses belajar dan mengejar cita-cita kita. Hanya maut satu-satunya batasan yang menghentikan proses belajar. Belajar itu juga memiliki nilai ibadah jika kita niatkan ikhlas mencari keridhoan Allah, mentafakuri kebesaran dan keagungan Allah, sehingga semakin kita belajar, semakin banyak ilmu dan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara maka semakin menyadari kelemahan diri, semakin merunduk seperti padi. Semakin aku berilmu, maka semakin aku mengetahui betapa kecil diriku di hadapan-Nya.

Oleh: Yoga
http://istanayoan.blogspot.com

Friday, October 31, 2008

Baju-baju yang Menipu

Story of Stanford University

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .
Mereka meminta janji.

Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.
Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap kali menipu


Kiriman Mas Tuluh.

Tuesday, October 28, 2008

Berani Sukses Berani Gagal

Sukses...itulah sebuah keadaan yang diinginkan setiap orang yang hidup di dunia ini. Tetapi apakah setiap orang dapat mewujudkannya? Tidak, ternyata tergantung dari keberaniannya. Yaitu Keberanian untuk sukses dan keberanian untuk gagal.

Keberanian untuk sukses memang harus disertai dengan keberanian untuk gagal jika memang ingin sukses. Kegagalan memang tidak diinginkan setiap orang, tetapi jika tidak berani gagal dalam arti mengambil resiko maka sukses itu tidak akan pernah diraih. Intinya berani memulai.

Berani gagal bukan berarti bertindak tanpa perhitungan dan persiapan. Justru berani gagal itu ditanamkan setelah segala sesuatunya dipersiapkan dan diperhitungkan. Jika berani gagal tanpa perhitungan itu memang ingin gagal namanya. Di bawah ini jalur yang membedakan orang sukses dan orang gagal.

A.Bagaimana skema orang gagal bertindak?

1. Memperhitungkan dengan matang -> takut gagal -> tidak bertindak -> gagal
2. Tidak diperhitungkan -> bertindak -> gagal -> tidak evaluasi -> gagal
3. Memperhitungkan dengan matang -> bertindak -> gagal -> tidak evaluasi -> gagal

B. Bagaimana skema orang sukses bertindak?

1. Memperhitungkan dengan matang -> berbuat -> gagal -> evaluasi ->bertindak-> sukses
2. Memperhitungkan dengan matang -> berbuat -> sukses
3. Tidak diperhitungkan -> bertindak -> gagal -> evaluasi -> bertindak -> sukses

Kegagalan hanya kesuksesan yang tertunda.

Oleh: Yoga
http://istanayoan.blogspot.com

Monday, October 27, 2008

Ukuran Segala Sesuatu

Kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari banyaknya hati bersyukur dan ikhlas berbagi.

Jabatan tidak diukur dari tingginya, tetapi dari amanatnya pemegang jabatan itu kepada Allah.

Waktu tidak diukur dari banyaknya kesempatan, tetapi dari apa yang kita lakukan di dalam kesempatan itu sendiri.

Kecerdasan tidak diukur dari tingginya nilai di atas kertas, tetapi dari banyaknya manfaat kecerdasan itu bagi diri sendiri dan sesama manusia.

Kebaikan tidak diukur dari sebanyak apa dilakukan, tetapi dari seberapa ikhlas melakukannya karena Allah.

Keikhlasan tidak diukur oleh banyaknya berbuat kebaikan, tidak juga oleh pernyataan keikhlasannya, tidak juga oleh sikap diamnya, tetapi keikhlasan memang tidak dapat diukur oleh manusia, kita hanya dapat melihat sikap luarnya saja, hanya Allah yang mengetahui hatinya.

Kecantikan dan ketampanan tidak diukur dari wajah dan fisik, tetapi dari kecantikan dan ketampanan bersikap dan bertingkah laku.

Bahkan surga tidak mengukur seseorang yang paling banyak berbuat baik untuk dapat memasukinya, tetapi ukurannya adalah keridhoan Allah.

Maka, jangan tertipu ukuran di dunia ini, gunakan ukuran standar yang baku dari Allah saja.

Oleh: Yoga
http://istanayoan.blogspot.com

Kapan Mulai Berbuat Baik?

Jika engkau menunggu kaya untuk bershodaqoh, bagaimana jika engkau tidak pernah kaya?

Jika engkau menunggu waktu luang untuk memulai kebaikan,bagaimana jika waktu luang itu tidak pernah ada?

Jika engkau menunggu jabatan tinggi untuk memulai menegakkan kebenaran, bagaimana jika jabatan itu tidak pernah engkau dapatkan?

Mungkin engkau mendapatkan itu semua, kekayaan, waktu luang, dan jabatan, tetapi mungkin juga sudah terlambat untuk dapat berbuat begitu banyak kebaikan, karena engkau sudah terlalu tua.

Maka, jangan menunggu apapun untuk memulai, tetapi mulailah saat sekarang juga.
Karena kita memang diciptakan untuk mengisi dan berkarya di dunia ini.

Bukan untuk menunggu.

Balasan Kebaikan

Ini adalah kisah nyata penuh makna teman saya yang pada Tahun 2007 sedang mengikuti perkuliahan fakultas pendidikan di Serang Semester 7. Peristiwa ini terjadi saat perjalanan pulang kuliah dari Serang menuju Cilegon. Berikut kisahnya:

Demi mengejar masa depan, saya melanjutkan studi ke Fakultas Ilmu Pendidikan. Saat itu semester 7 tahun 2007. Studi tsb. diiringi dengan bekerja mencari nafkah untuk anak istri. Saya menjalani dengan penuh hambatan dan rintangan, terkadang malas karena kelelahan. Ketika itu di Kota Serang saya sedang makan bakso di depan Mall Borobudur karena lapar sepulang kuliah. Saya tiba-tiba ditemui seorang kakek yang menceritakan kesulitan dirinya untuk pulang ke kampung halamannya yang berlokasi di Ciomas.

Si kakek berkata,”Nong, kiteke arep jaluk tulung, jaluk ongkos enggo balik neng Ciomas. Kakek tsb. meminta tolong untuk memberinya ongkos pulang ke Ciomas.
Kemudian saya bertanya kepada kakek itu,”Berapa kek ongkos ke Ciomas?”.

Dia bilang,”Selawe ewu cukup nong”. Maksudnya dua puluh lima ribu cukup. Ketika itu dikocek saya hanya ada Rp. 50.000 sebanyak 3 lembar. Saya berikan ke kakek itu Rp.50.000.

“Nuwun Nong..ati-ati!” Kakek itu berterima kasih dan mendoakan saya.

Setelah itu saya berpisah dengan si kakek. Kakek ke arah Ciomas, saya ke arah Cilegon. Tidak lama saya saya melintasi polisi tidur di depan Kopasus Taman Serang. Saya mengendarai sepeda motor perlahan-lahan melalui polisi tidur itu, tiba-tiba saya tersundul dari belakang oleh kendaraan sedan mewah. Saya jatuh terlepas dari kendaraan motor itu, dan orang-orang dipinggir jalan berlari-lari menghampiriku untuk menolong. Kendaraan sedanpun turut berhenti dan menepikan kendaraannya, kemudian seorang Bapak keluar dari mobil mendekatiku.

Beliau bertanya,”Gimana Mas keadaannya, ada yang sakit?”

Saya menjawab,”Ya keadaannya Pak, saya tadi naik sepeda motor tidak apa-apa tiba-tiba Bapak menyundulku dari belakang.”

“Terus yang sakit apanya?”, tanyanya lagi.

“Alhamdulillah Pak, masih dalam lindungan-Nya”, jawabku meyakinkan.

Tiba-tiba bapak itu sibuk menggerakkan tangannya ke dada, ke paha depan kanan kiri, akhirnya langsung ke kantong belakang dan mengeluarkan sebuah dompet. Dan mengambil uang senilai dua ratus ribu rupiah diberikan kepadaku.
Saya bertanya kepada bapak itu, “Apakah Bapak ikhlas memberiku, dengan buru-buru, kelihatannya ada urusan yang lebih penting?”

“Ikhlas Mas”, jawabnya singkat. Akhirnya Bapak itu melanjutkan perjalanannya begitu juga diriku.

Kisah nyata ini memberikan pelajaran kepada kita. Bahwa orang yang suka memberi dengan ikhlas… akan mendapatkan balasan lebih besar…dari Allah. Melalui berbagai cara, jika Allah menghendakinya.

Oleh : Sudirmanto

Allah Maha Pembuat Perhitungan (Al-Hasiib)


Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S. Az-Zalzalah ayat 7 dan 8).

Sering kita mendengar orang yang berkata di kantor atau perusahaan tempat kita bekerja: “Ah, buat apa bekerja sungguh-sungguh dan maksimal, toh gajinya sama saja…”. Atau ada juga yang berkata : “ Ga papa kok ga masuk sehari atau dua hari, ngga akan mengurangi gaji, paling juga diberi peringatan aja…”. Ada juga yang bersantai-santai pada jam kerjanya, banyak bercanda, bermain, bahkan terkadang membolos dengan jalan-jalan berbelanja di mall. Mari kita merenung sejenak, apa sebenarnya yang kita cari di dalam hidup ini? Hanya sekedar uang dan gajikah? Kalau memang itu saja yang dicari mungkin memang seperti itulah kata-kata yang akan kita dengar. Padahal gaji dan uang adalah sebagian kecil saja dari rezeki Allah yang tidak terhitung jumlahnya.
Cukuplah Q.S. Az-Zalzalah ayat 7-8 menjadi prinsip kita dalam bekerja. Menjadi pegangan hidup. Bahwa cukup Allah saja yang akan membalas semua amalan. Tidak akan ada satu amalpun yang lewat dari pengawasan-Nya. Intinya manusia tidak akan dirugikan sedikitpun. Dalam bahasa Al-Qur’an tidak akan dirugikan walau seberat dzarrahpun. Kita melihat dan membaca ayat ini juga mesti memahami dan mengamalkannya. Ayat ini bagi orang-orang yang yakin tidaklah menjadi sekedar penghibur, sekedar penyemangat dalam bekerja. Tetapi sadarkah kita bahwa balasan dari Allah itu benar-benar ada dan kita tidak akan dirugikan sedikitpun. Bentuk balasan itu dapat bermacam-macam bentuknya. Terkadang lewat jalan yang tidak kita sangka-sangka.

Perbuatan baik seberat dzarahpun akan dihitung oleh Allah. Misalnya kita menyingkirkan batu atau paku dari jalan agar orang terhindar dari kecelakaan, atau seorang satpam yang membantu menyebrangkan anak-anak sekolah, senyum kecil kita kepada teman, keluarga atau sahabat, menyikat kamar mandi, seorang ayah yang mengantar anaknya ke sekolah, dll. Semua itu pasti ada balasannya, belum lagi amal-amal yang besar, pasti balasannya jauh lebih besar juga jika kita ikhlas karena Allah saja dalam melakukannya.

Jika di kantor kita bekerja dengan tekun, rajin, disiplin, mencurahkan segenap tenaga, pikiran dan waktu untuk kemajuan perusahaan, sedangkan kita melihat beberapa rekan kita bekerja dengan malas dan tidak disiplin. Kemudian di akhir bulan kita menerima penghasilan atau gaji yang sama, bahkan mungkin rekan kita yang malas dan tidak disiplin itu lebih besar gajinya, maka janganlah mengubah kebiasaan tekun dan rajin yang sudah menjadi kebiasaan kita hanya karena perbedaan gaji. Bahkan sebaliknya harus terus dipertahankan dan tingkatkan. Karena kita meyakini Q.S. Az-Zalzalah ayat 7 dan 8. Bahwa Allah tidak akan merugikan diri kita sedikitpun. Pasti akan dibalas sesuai amalan kita lewat jalan yang tidak akan disangka-sangka di suatu saat nanti yang nilainya akan jauh lebih besar dari sekedar gaji.


Duri yang Banyak Dagingnya

Di saat aku sedang mengikuti perkuliahan Fisika, pernah suatu ketika dosen mengatakan bahwa dalam menghadapi kesulitan-kesulitan belajar janganlah berpikir daging yang banyak durinya, tetapi dibalik menjadi ‘duri yang banyak dagingnya’. Saat itu Fisika memang menjadi pelajaran yang menakutkan bagi sebagian mahasiswa dan mahasiswi. Terlepas dari suka atau tidak suka kita terhadap ilmu Fisika, tetapi ungkapan sang dosen mengenai ‘duri yang banyak ikannya’ memang membuat diriku bersemangat pada waktu itu. Semangat tidak sekedar di dalam pelajaran tsb. yang pada dasarnya aku sendiri tidak begitu memahami rumus-rumus yang rumit itu. Tetapi kita dapat mengaplikasikan ungkapan tsb. di dalam kehidupan sehari-hari.

Seringkali dalam menghadapi masalah kehidupan, kita ini begitu stres dan terasa segala sesuatunya menjadi tidak menyenangkan. Itu terjadi karena kita berpikir hidup ini bagaikan daging yang banyak durinya. Tetapi jika pikiran kita adalah duri yang banyak dagingnya, maka masalah yang dihadapi akan terasa ringan, karena betapapun duri yang harus kita hadapi toh setelah itu banyak daging yang akan kita nikmati, seperti makan ikan. Kenapa pusing dengan duri ikan, padahal ikan tsb. banyak dagingnya, iya kan? Seekor lebah ketika akan menghisap madu di bunga mawar tidaklah begitu memikirkan duri yang banyak, tetapi ia memikirkan madu yang manis. Begitu juga kita, seorang atlet yang ingin mencapai prestasi puncak tidaklah terbebani dengan latihan yang keras, rutin, tidak juga terbebani oleh saran dan kritikan pelatih, atau oleh caci-maki orang. Ia hanya memikirkan kesehatan yang akan ia peroleh dari latihannya, ia hanya memikirkan prestasi yang akan diperolehnya, kebanggaan, kekuatan dan kemenangan. Seorang ayah yang bekerja dari pagi hingga sore hari tidak akan terbebani dengan kesibukannya, tetapi yang terbayang adalah kebahagiaan istri dan anak-anaknya di rumah. Begitu juga seorang ibu tidak akan begitu mempersoalkan kerewelan anaknya, ompolnya, tangisnya, karena ia membayangkan seorang anak yang akan tumbuh dewasa dan berguna kelak serta menjadi kebanggaannya.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(Q.S. Alam Nasyrah ayat 5-6)

Kesempatan

Sebetulnya begitu banyak kesempatan yang Allah berikan kepada kita di dalam hidup ini. Peluang begitu banyak, jalan menuju kesuksesan, kesejahteraan dan kebahagiaan begitu terbentang luas. Sikap kita sebagai manusia berbeda-beda dalam memanfaatkan kesempatan hidup tsb. Ada manusia yang tidak menyadari kesempatan tersebut, dirinya buta, mengeluh, menuntut, protes dan menggerutu saja di dalam hidupnya, sehingga habislah usianya hanya dalam kesia-siaan. Ada manusia yang menyadari kesempatan itu tetapi tidak memanfaatkannya, karena malas, tidak yakin dan tidak percaya diri, sehingga lewatlah terus kesempatan demi kesempatan di depan matanya. Ia tidak melakukan apapun untuk meraihnya, namun ketika orang lain mendapatkannya ia hanya menyesal dan itu tidak berguna bagi dirinya. Ia hanya berkata, andai dulu saya begini, andai begitu, hanya berandai-andai. Adapula manusia yang menyadari kesempatan itu, dan ia segera bertindak untuk meraihnya dengan segenap usaha. Ia manfaatkan sebaik-baiknya waktu sehingga hidupnya tidak habis dalam kesia-siaan. Impian adalah kenyataan baginya. Inilah manusia yang beruntung. Lalu apakah kesempatan itu? Inilah kesempatan-kesempatan yang jangan kita lewatkan:

1. Kesehatan
2. Kekayaan
3. Usia muda
4. Waktu luang
5. Waktu hidup di dunia

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-‘Ashr ayat 1-3)



Menata Keuangan Rumah Tangga

Sering kita mendengar para suami dan istri mengeluh tentang kondisi keuangan mereka. Tidak cukuplah, karena penghasilan yang kecil, atau bahkan walaupun penghasilan sudah besar masih saja merasa kurang. Namun ada juga yang penghasilannya biasa saja, tetapi mampu untuk menabung dan memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi. Apa yang membedakan mereka? Jika kita perhatikan maka berarti ada sesuatu yang harus dibenahi di dalam rumah tangga itu sendiri, khususnya dalam menata keuangan.

Prioritas adalah kunci utama dalam mengatur keuangan rumah tangga. Kita harus dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Pertama kita harus mengatur keuangan untuk menutupi kebutuhan utama kita dan menabung, baru setelah itu jika memang ada sisa, maka itu untuk memenuhi keinginan. Namun tentunya keinginan yang sesuai dengan kemampuan. Tetapi untuk dapat melaksanakan itu semua kita harus memiliki tekad yang kuat dan mempraktekkannya setiap hari. Pada awalnya memang berat bagi yang belum terbiasa. Apalagi bagi mereka yang tidak begitu memikirkan masalah pengeluaran. Tetapi kebiasaan itu harus dipraktekkan terus-menerus maka suatu saat kebiasaan itu yang akan membentuk kita menjadi pribadi yang cerdas secara finansial.

Kebanyakan dari kita membelanjakan uang sesuai keinginan, selera, mengikuti trend dan mode. Terutama bagi para remaja dan kaum wanita, mungkin karena mereka memang belum begitu menyadari arti pentingnya mengatur keuangan. Padahal jika kebiasaan ini dibentuk dari masa remaja maka akan sangat bermanfaat di saat mereka berumah tangga nanti.

Peran wanita sangat penting di dalam mengatur keuangan rumah tangga. Karena di dalam sehari -hari para istrilah yang mengetahui persis kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. Seperti biaya makan sehari-hari, belanja dapur, kebutuhan anak-anak, kebutuhan suami dan kebutuhan istri itu sendiri. Para suami pada umumnya tidak begitu memahami secara detail belanja operasional rumah tangga. Mereka hanya memberikan jatah uang belanja selama satu bulan yang dipercayakan kepada sang istri untuk mengaturnya. Maka, ini merupakan tugas berat para istri untuk dapat memegang amanah tsb.

Perincian merupakan salah satu faktor penting yang sering diabaikan oleh kaum ibu. Mereka asal menerima dan membelanjakan tanpa perencanaan. Merinci di sini berarti membuat daftar kebutuhan selama satu bulan, memisahkan berdasarkan pos-pos kebutuhan. Misalnya membuat pos untuk menabung, pos untuk cicilan barang, pos untuk belanja bulanan, pos untuk kebutuhan sekolah anak, pos untuk membayar listrik dan telepon, membayar pembantu, dan tidak lupa pos untuk zakat. Setelah membuat daftar tsb. kita harus disiplin mematuhinya. Jangan sampai ada pengeluaran di luar perincian. Kecuali jika memang ada hal-hal mendadak yang tidak terduga. Maka dalam hal ini musti ada pos untuk dana darurat.

Potensi juga merupakan hal yang dahsyat jika kita mampu memanfaatkannya. Yaitu mencari peluang-peluang penghasilan tambahan. Potensi sekecil apapun jika kita kembangkan maka akan menjadi peluang yang luar biasa. Misalnya, seorang ibu rumah tangga dapat melakukan usaha mengkreditkan barang, membuka kios kecil, kursus menjahit, kerajinan, counter hp, usaha catering dll. yang dapat dilakukan di rumah tanpa mengabaikan peran utamanya sebagai ibu rumah tangga.

Demikianlah tulisan singkat ini semoga dapat bermanfaat.