Thursday, May 23, 2013

Berpikir Mendalam

Agak terkejut juga setelah saya mencoba berdialog dengan teman-teman yang memiliki paham Atheisme dalam sebuah grup di facebook. Ternyata kelompok-kelompok seperti ini memang ada. Bahkan di negara Indonesia yang religius, dan mayoritas muslim. Ternyata ada orang-orang di dunia ini yang begitu meninggikan rasionalitas, akal, ilmu pengetahuan dan teknologi di atas segalanya. Hmmm..tidak ada yang salah memang, manusia modern memang harus rasional, menggunakan akal dan memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Akan tetapi jangan sampai tercabut dari fitrah kesejatian diri manusia. Orang-orang yang mengagungkan otak dan akal ini tidak mengakui, menolak keberadaan Tuhan, hari kebangkitan, negeri akherat (surga dan neraka), bahkan anehnya lagi menolak keberadaan ruh yang artinya menolak keberadaan diri mereka sendiri.

Wednesday, May 22, 2013

Jangan banyak berpikir, kerjakan saja...

Lama sekali nih tidak menulis di blog ini, mungkin karena terlalu banyak berpikir, jadi gak berbuat nih :). Yah, judul yang mungkin pernah juga aku tulis, tentang just do it. Orang yang sukses itu kebanyakan adalah orang-orang yang berbuat, dan tidak terlalu banyak berpikir, dalam artian yang lebih khusus adalah berpikir negatif. Mereka memiliki impian besar, berpikir besar, namun juga berbuat. Tidak berhenti hanya pada alam pikiran saja.

Mungkin sama seperti yang sobat blogger rasakan, saya juga merasakannya. Dalam beraktifitas, bekerja sehari-hari. Selalu ada hal-hal yang dipikirkan,tidaklah salah, tetapi yang buruk adalah jika pikiran itu terus berkelabat dan menjadi negatif. Akhirnya kita tidak berani melangkah karena terganggu pikiran sendiri, menjadi diam di tempat. Mau berbuat ini, takut ini, takut itu. Terkadang terpikir juga buat apa saya melakukan hal 'sepele' ini? Apa yang dapat saya peroleh dalam bentuk materi, harta? Inilah sebuah hal yang mengganggu seseorang menjadi orang yang sukses.

Berpikir itu boleh, namun jika terlalu besar porsinya, justru akan menghambat kita dalam mulai melangkah. Berpikirlah, rencanakan kehidupan kita, buat target, tujuan, langkah-langkah, setelah itu ya kerjakan. Jangan pedulikan bisikan-bisikan negatif dari dalam diri sendiri. Malah kebanyakan dari pengalaman kita berbuat, ternyata bisikan-bisikan itu tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi selalu ada solusinya sepanjang kita tidak menyerah dan tetap berpikir positip. Perbuatanlah yang akan menghasilkan karya, manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Bukan sekedar pikiran tanpa aplikasi nyata. Yang sering saya pribadi rasakan adalah, ketika badan kita banyak beristirahat karena menunda pekerjaan dengan alasan masih mempertimbangkan untung ruginya, atau karena malas, maka pikiran atau jiwa akan menjadi lelah. Sebaliknya, ketika badan ini banyak beraktifitas, bergerak, bertindak, mungkin agak lelah, tetapi jiwa/pikiran terasa tenang, lapang dan bahagia. Apalagi jika dilandasi niat ikhlas karena Allah S.W.T. 

Pilih mana, diam tetapi pikiran kusut. Atau bergerak dan pikiran tenang?

Wednesday, May 23, 2012

Lakukan dengan Full Power



Tulisan ini kubuat karena teringat pesan Sensei ketika dahulu di SMP aku mengikuti ujian kenaikan tingkat karateka dari sabuk kuning ke sabuk hijau. Sensei adalah panggilan untuk seorang guru karate. Ya, aku mengikuti kegiatan ekstra kurikuler karate di sekolah, kegiatan yang berada di bawah naungan Lemkari (Lembaga Karatedo Indonesia). Ujian dilaksanakan di Polres Serang selama dua hari satu malam, Sabtu dan Minggu benar-benar menguras tenaga, namun ada suatu hikmah menarik dari kegiatan yang aku alami waktu itu.

Saat itu pagi hari Sabtu di sebuah lapangan upacara yang biasa digunakan polisi untuk apel pagi dan upacara. Kami dengan nikmat menyantap sarapan pagi berupa bubur kacang hijau, satu butir telur rebus dan minuman air mineral. Selama seharian ini kami akan mengikuti sebuah latihan yang cukup padat hingga sore hari. Ya, latihan fisik dan mental. 

Wednesday, April 25, 2012

Jangan Seperti Hewan Sirkus

Satu lagi hal menarik yang aku dapatkan ketika kuliah kemarin, dari seorang dosen mata kuliah Komputer dan Media Pembelajaran. Tadinya aku berpikir paling juga akan mendapatkan pelajaran yang biasa-biasa saja, mengenai dasar-dasar komputer. Ternyata lebih dari itu, walau ini baru hari pertama aku mengikuti mata kuliah tersebut, namun sudah dapat terbayang arah dan gaya belajar dari tutorial yang diberikan.

Hal pertama yang menarik adalah dosen memberikan materi yang berada di luar modul kuliah yang ada. Memang betul juga, kalau modul itu bersifat teori, tinggal bagaimana kita rajin membaca dan mengerjakan latihan-latihan secara mandiri. Tetapi yang bersifat pengalaman kerja dan aplikasi langsung biasanya tidak terdapat di modul. Alhamdulillah materi ini juga sesuatu yang belum begitu aku tekuni, yaitu membuat database menggunakan program pengolah Database. Selama ini hanya membuat database secara sederhana dan masih belum tertata dengan baik. Mudah-mudahan dalam pertemuan-pertemuan mata kuliah berikutnya terutama praktikum dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat, terutama untuk menunjang pekerjaan.

Monday, April 23, 2012

Daya Tahan Ikhlas


Pernahkah kita bekerja untuk kepentingan orang banyak hingga larut malam seorang diri,tidak ada yang menemani, tidak ada yang tahu. Setelah semua urusan beres, dan orang-orang bergembira karena usaha kita, tidak ada yang memberikan penghargaan, bahkan malah tidak ada yang tahu hal-hal besar yang telah kita lakukan untuk mereka. Lebih jauh lagi penghargaan besar malah diberikan kepada orang lain, bukan kepada saya.

Saturday, April 21, 2012

Jalan Bercabang

Hidup terkadang lurus, terkadang menemui jalan bercabang, ketika menemui itu harus menentukan pilihan, dan siap menanggung resiko apapun yang dipilih. Pertimbangkan baik-baik tetapi jangan terlalu berpikir, segera melangkah, karena hidup harus terus berjalan menggapai cita-cita dan tujuan

Thursday, April 19, 2012

Nikmatnya Khusnudzan (Berpikir Positip)

Sifat pikiran manusia hanya ada 2 jenis, yaitu berpikir positip atau berpikir negatip. Kedua hal ini yang selalu ada di dalam pikiran kita. Ketika dalam satu hari lebih banyak berpikir positip, maka kebahagiaan yang kita dapatkan. Tetapi jika dalam satu hari lebih banyak berpikir negatip, maka yang ada adalah ketidakbahagiaan. Di bawah ini saya buat perbedaan cara berpikir orang yang positip dengan yang negatip, berdasarkan pengalaman sehari-hari atau dari mengamati orang lain, situasi dan kondisi tertentu. Termasuk manakah kita?


Situasi 1: 
Ketika akan berangkat kerja menggunakan motor, turun hujan deras.

Orang yang berpikir negatip: “Aduh, repot nih, ribet pake jas hujan, becek, motor jadi kotor. Capek deh, pulang nanti cuci motor.”
Orang yang berpikir positip: “Alhamdulillah turun hujan, moga menjadi berkah kehidupan. Ntar sore olahraga cuci motor biar sehat, atau bagi-bagi rezeki ke pencucian motor.”

Wednesday, April 18, 2012

Saling berbagi

Kulirik Handphoneku, kutekan tombolnya, hmmm, saat ini sudah pukul 22:34 malam. Lagi semangat-semangatnya ngeblog nih. Dari tadi berjam-jam ngedit header blog..fyuughh, selesai juga, walaupun sempat pusing dengan ukurannya yang tidak selalu pas pada posisi header blog. Untunglah ternyata di dunia online ini permasalahan apapun nyaris selalu ada pemecahannya. Tinggal tanya mbah Google, ada aja yang sudah menulis tentang permasalahan yang kita hadapi.

Itulah dunia internet, yah sarana bagi manusia di bumi ini untuk saling berbagi. Dan uniknya setiap manusia tidak sama dalam membagi apa yang dia miliki. Walaupun bidangnya sama, pasti ada saja yang berbeda, mungkin dari gaya menulis, pilihan kata, dll.

Yah, ilmu pengetahuan memang seharusnya dibagi terhadap sesama. Nggak ada ruginya membantu sesama, walau ngga dibayar. Tetapi kita mendapatkan pahala dari Allah jika ada yang membaca, kemudian dapat membantu kesulitannya. Ada sebuah kepuasan tersendiri ketika kita dapat berbagi. Dan pahala bagi saya nilainya jauh lebih besar dari sekedar uang, harta dan penghargaan dari manusia, walaupun ga akan nolak kalo ada yang ngasih. Tetapi pahala itulah yang nyata adanya, kita panen di akherat kelak. Mungkin wujudnya nanti berupa rumah, kebun, tanah atau istana di surga.

So, jangan pelit untuk berbagi, apapun ilmu, pengalaman, pandangan, pengetahuan, mari kita share. Agar bermanfaat bagi sesama.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Tuesday, April 17, 2012

Amal Jariyah

Hmm, lama gak nulis di blog. Kali ini saya mau nulis tentang amal jariyah. Yah, suatu amal yang sangat bermanfaat sekali bagi kelangsungan pahala kita walaupun kita telah meninggalkan dunia fana ini nanti. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan pahala jariyah, bagi yang memiliki harta dapat menyumbangkannya, bagi yang memiliki ilmu dapat mengajarkannya, bagi yang memiliki tenaga dapat memanfaatkannya. Saya teringat ceramah Ustad Yusuf Mansur, beliau mengatakan bahwa anak kita sendirilah sesungguhnya dapat dijadikan ladang amal jariyah. Sebelum anak itu masuk sekolah dan belajar membaca, menulis, berhitung, mengaji, sebaiknya kitalah yang pertama mengajarkan itu di rumah. Mengapa? Supaya pahala jariyah akan selalu mengalir kepada kita selama anak mengamalkan ilmu pengetahuan yang didapatkannya sepanjang masa. Dan yang terpenting adalah mengajarkan tentang tauhid (keesaan Allah).

Friday, April 13, 2012

Bersikap Adil

Janganlah kejelekan seseorang membuatmu membencinya sepenuhnya, karena ia pasti memiliki sisi kebaikan. Sebaliknya janganlah kebaikan seseorang membuatmu begitu memujanya karena ia hanya manusia biasa yang memiliki kejelekan juga...Benci sifat jeleknya, bukan pribadinya.

Saturday, January 28, 2012

Try Out Matematika

Cklik...kujepret wajah-wajah anak kelas 6 yang sedang serius mengerjakan latihan soal Try Out Matematika. Semangat ya, semoga sukses dan siap menghadapi Ujian Nasional yang sudah semakin dekat. Semoga memperoleh hasil yang terbaik dan yang terpenting adalah mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapatkan dalam kehidupan, amin.

Wednesday, January 18, 2012

Pembelajaran yang Menyenangkan


Manusia selalu menyukai kegiatan yang menyenangkan. Segala aktivitas apapun yang menyenangkan pasti banyak yang mau mengikutinya dengan sukarela tanpa harus dipaksa. Contohnya jika kita mengundang untuk mengadakan acara makan dan piknik gratis pasti akan banyak peserta yang mendaftar. Sebaliknya tidak mudah bagi kita untuk mengundang orang mengikuti kegiatan kerja bakti misalnya. Termasuk dalam kegiatan belajar dan mengajar, jika dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan tentu banyak peserta didik yang menyukainya.

Sunday, January 15, 2012

Pemimpin yang Meneladani Rasulullah dan Sahabat

Kita sangat merindukan seorang pemimpin di negara ini yang benar-benar menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladannya. Tidak hanya sebatas mengagumi dan memuji sikap kepemimpinan beliau tetapi benar-benar berusaha mengamalkannya. Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang pemimpin yang benar-benar menjadikan ummat dan rakyatnya sebagai fokus perhatiannya. Ini terbukti dari ucapan terakhir beliau ketika akan menghadap Sang Khaliq, yaitu "ummatii, ummatii, ummatii.." yang artinya "ummatku, ummatku, ummatku". Betapa beliau sangat cinta kepada kita dan sangat mengkhawatirkan keadaan kita sepeninggalnya.


Para pejabat, petinggi dan pemimpin negara ini mustinya betul-betul meneladani kepemimpinan Rasulullah tidak hanya dengan perkataan saja. Tetapi juga dengan perbuatan atau amal nyata. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia kita lebih banyak melihat pemimpin-pemimpin negeri ini masih lebih mengutamakan kejayaan, kekayaan dan kesejahteraan diri dan keluarganya sendiri. Kalaupun ada yang benar-benar mengutamakan rakyat sebagai tanggung-jawabnya masih sangat sedikit dan langka. 

Saturday, January 14, 2012

Pengetahuan Saja Tidak Cukup

Belajar merupakan perbuatan yang mulia dan bernilai ibadah. Dengan belajar juga kita akan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan. Pada umumnya belajar itu di pendidikan formal mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Seluruh biaya, tenaga, waktu dan pikiran kita korbankan untuk kepentingan pendidikan. Kita berharap setelah menyelesaikan pendidikan dapat menjadi orang yang sukses, berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Tetapi apa yang diharapkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Ini terbukti dengan begitu banyaknya sarjana-sarjana yang menganggur setelah selesai menamatkan pendidikan. Lapangan pekerjaan yang sempit dan persaingan dengan sesama pencari kerja lainnya yang begitu ketat membuat frustasi. Padahal mungkin dalam menempuh pendidikan selama ini sudah begitu banyak ilmu pengetahuan yang didapatkan. Lalu mau dikemanakan semua ilmu pengetahuan itu? Padahal setiap ilmu pengetahuan yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak.

Ada dua faktor yang menyebabkan semua ini terjadi. Yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor internal

Penyebab utama dapat disebabkan faktor internal dari pembelajar itu sendiri. Kebanyakan pembelajar terjebak belajar hanya untuk berprestasi, memperoleh nilai, rapot, piagam, nem, piala, IPK yang tinggi, dan simbol-simbol prestasi lainnya. Merekapun belajar dengan giat, membaca, menghafal, dan mengerjakan soal-soal ujian. Akhirnya memperoleh hasil yang memuaskan setelah pengumuman nilai. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Tetapi kita sering terjebak dengan kepuasan semu. Setelah memperoleh nilai yang tinggi, kitapun menganggap kewajiban sudah selesai. Padahal semua pengetahuan yang didapatkan itu belumlah bermanfaat sama sekali sebelum kita menerapkan, mengamalkan, atau mengaplikasikannya dalam tindakan, perbuatan, amal yang nyata. Sehingga pengetahuan hanya menjadi pengetahuan saja hingga lulus perguruan tinggi. Ini yang mengakibatkan tidak siapnya para sarjana dalam menghadapi persaingan di dunia sebenarnya. Karena selama belajar hanya mengasah kecerdasan kognitif dan pengetahuan saja. Tanpa menerapkannya dalam tindakan nyata.

Contoh sederhana adalah ketika kita belajar IPA di sekolah tentang perkembangbiakan pada tumbuhan, hanya dengan membaca buku, menghafal dan ujian, atau praktek sederhana di sekolah, itu tidaklah cukup. Seorang pelajar yang kreatif akan mencoba mempraktekkan menanam, mencangkok, stek, okulasi di pekarangan rumahnya, dan hasilnya dapat dilihat secara nyata minimal untuk dirinya sendiri atau dinikmati bersama.


2. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar. Dalam hal ini adalah budaya dan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan tentunya akan ikut menentukan keberhasilan seseorang. Sistem pendidikan yang baik, yang mengukur kesuksesan dari semua sisi dan tidak hanya dari sisi pengetahuan kognitif saja. Tetapi juga sikap dan tindakan atau afektif dan psikomotorik.

Sistem pendidikan di Indonesia nampaknya belum dapat mengukur kesuksesan seorang pembelajar secara utuh. Karena lulus dan tidaknya seseorang masih hanya ditentukan dari ujian nasional yang hanya mengukur kemampuan menjawab soal-soal di kertas. Tidak menilai sisi-sisi kecerdasan lain dari proses seseorang selama menempuh pendidikan.

Harus ada suatu sistem di mana seorang individu dapat dinilai secara utuh dari segala sisi. Tidak hanya kemampuan akademik dan intelektual. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kecerdasan. Dan setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sistem yang mengukur semua kecerdasan, tetapi dapat diujikan secara praktis, efektif dan efisien.

Kesuksesan seseorang tidaklah ditentukan dari sekolah atau tidak sekolah. Tidak berarti orang yang sekolah akan lebih sukses dari orang yang tidak sekolah begitu juga sebaliknya. Bahkan, banyak sekali contoh orang-orang yang tidak menempuh pendidikan secara formal justru jauh lebih sukses, bahagia dan sejahtera. Apa yang menyebabkan itu terjadi? ya, karena mereka terus belajar dan menerapkan dari pengalaman secara langsung dalam tindakannya.

Orang yang mau belajar dan menerapkan apa yang dipelajari, itulah yang akan sukses. Dan belajar itu luas ruang lingkupnya, bisa di masyarakat, sekolah atau rumah dan lain-lain.



Thursday, January 12, 2012

Nikmatnya Shalat Shubuh Berjamaah

Shalat Shubuh termasuk salah satu shalat yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi untuk dilaksanakan. Karena untuk melaksanakannya harus meninggalkan nikmatnya kasur dan selimut hangat. Apalagi jika harus tepat waktu dan berjamaah di Masjid ketika udara sangat dingin. Sementara orang-orang banyak yang masih terlelap dengan nikmatnya. Waktu shalat Shubuh juga sangat pendek, mulai waktu shalat Shubuh itu sendiri hingga terbit matahari. Berbeda dengan waktu shalat lain yang berakhir jika datang waktu shalat berikutnya. Nah, sangat sedikit ummat Islam yang menyadari bahwa ada rahasia besar Allah dibalik pelaksanaan shalat Shubuh. Dan hanya bagi orang-orang yang mau bangun dan melaksanakannya sesuai syarat dan rukunnya serta ikhlas yang akan mendapatkan itu.

Beberapa manfaat yang dapat dirasakan jika kita konsisten melaksanakan shalat Shubuh berjamaah adalah:

1. Badan terasa segar dan bersemangat, ada energi besar di waktu itu
2. Memiliki waktu cukup banyak untuk persiapan beraktivitas sepanjang hari
3. Melakukan apapun setelah shalat Shubuh, misal berpikir, menulis, bekerja, berkarya
lebih terasa optimal dan 'topcer'.
4. Menyiapkan tekad, niat dan rencana selama 1 hari penuh.
5. Mendapatkan pahala shalat satu malam penuh.
6. Sumber cahaya di hari kiamat.
7. Mendapatkan surga yang dijanjikan.
8. Berada di bawah lindungan Allah selama sehari penuh.
9. Penghapus dosa setengah usia.
10.Mendapat berkah di tiap langkah.

Itulah beberapa manfaat yang dapat diraih, tentunya masih banyak yang lainnya.

"Pernah, salah seorang penguasa Yahudi, menyatakan bahwa mereka tidak takut dengan orang Islam kecuali pada suatu hal. Ialah bila jumlah jama'ah shalat Shubuh menyamai jumlah jamaah shalat Jum'at."

Semoga bermanfaat. Tulisan ini saya share setelah membaca buku Misteri Shalat Shubuh karya Dr. Raghib As-Sirjani.

Wednesday, January 11, 2012

Menjaga Perut

Nabi Muhammad SAW bersabda “Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim)

Ingin menjaga kesehatan? Maka jagalah perut Anda, karena itulah sumber dan gudang penyakit sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Bagaimana cara menjaga perut?

Manusia memiliki nafsu yang cukup besar, salah satunya adalah nafsu makan. Ketika manusia melihat berbagai jenis makanan yang enak-enak, ingin rasanya semua dimasukkan ke dalam perut. Lidah menikmati semuanya, sedangkan perut yang mengolah, mengaduk dan menjadi gudang makanan.

Orang yang terlalu banyak makan, tanpa memperhatikan apa yang dimakan, yang penting enak, ditambah lagi orang tsb. malas atau hampir tidak pernah beraktifitas fisik. Maka dapat dipastikan berbagai penyakit akan mudah menyerangnya.

Makan berlebihan akan mengakibatkan lemak menumpuk di perut, usus menjadi kotor sehingga berbagai macam penyakit akan hinggap. Mulai dari penyakit perut itu sendiri, penyakit pencernaan, atau penyakit-penyakit berat lainnya seperti jantung, diabetes, hipertensi, dll..

Berpuasa adalah obat dari berbagai penyakit. Ditambah rajin berolahraga atau beraktifitas fisik, maka Insya Allah kita mudah menjaga kesehatan. Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Sekali mengobati sudah dapat ditebak berapa biaya yang dibutuhkan di negara kita yang serba mahal. Semoga bermanfaat.


Monday, November 14, 2011

Hidup Seperti Bermain Video Games

Hidup ini sebenarnya mirip seperti bermain video games. Ada level atau tingkatan-tingkatan petualangan yang harus dilalui. Setiap berhasil menyelesaikan sebuah level, kita akan masuk ke level berikutnya yang tentunya menghadapi lawan dan medan yang lebih berat. Dalam setiap level terkadang kita dipaksa untuk berpikir memecahkan sebuah misteri. Jika misteri itu tidak diselesaikan kita akan selalu mengulang level yang sama. Orang yang menyukai permainan video games, tidak akan bosan untuk mencoba dan mencoba lagi hingga pada akhirnya berhasil melalui sebuah level permainan.

Dia tidak merasa beban dalam menyelesaikan setiap level karena ia menyukainya. Dan sebuah kebahagiaan atau kesenangan tersendiri ketika berhasil menuntaskan sebuah misteri dan masuk ke level berikutnya. Kalau seseorang menyerah tentunya ia hanya akan berada di level yang sama terus-menerus.Begitu juga dalam kehidupan ini. Kita senantiasa diberikan masalah-masalah, tantangan dan rintangan yang harus dilalui. Jika kita menyerah dan malas untuk menuntaskannya, kita tidak akan pernah dapat beranjak ke tingkatan hidup yang lebih baik. Karena Allah tidak akan membebankan kepada kita sesuatu yang kita tidak mampu menghadapinya kan?

Hidup adalah untuk menyelesaikan tantangan, dan setiap menyelesaikan suatu tantangan akan senantiasa muncul tantangan-tantangan baru. Tantangan itu baru akan berhenti ketika manusia pindah alam. Di alam sana nanti manusia tinggal menghitung score dari games hidup yang dimainkan.

Jadi ketika ada orang mengeluh hidup saya penuh masalah. Sebenarnya bukan masalah itu sendiri yang jadi masalah. Tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi masalah.

Thursday, October 27, 2011

Pembelajar Sejati

Apa yang dirasakan ketika kita terus belajar dan berlatih? Apakah kita menjadi merasa cukup pintar dan semakin hebat, atau justru semakin merasa kurang dan kecil karena begitu banyak hal yang belum terjelajahi. Jika hal kedua yang dirasakan, maka itu adalah pertanda baik sebagai seorang pembelajar. Pembelajar sejati senantiasa merasa kurang dan kurang.

Ilmu pengetahuan memang sangat luas, bahkan terlalu luas untuk dapat didokumentasikan. Satu bidang ilmu akan senantiasa melahirkan cabang-cabang ilmu yang setiap cabangnya akan melahirkan cabang-cabang lagi yang banyak. Maka tidak pantas bagi seorang pembelajar untuk bersikap sombong. Karena tidak ada seorangpun yang mampu menguasai seluruh bidang ilmu. Tetapi setiap orang pasti ahli dalam bidang tertentu jika ia menekuninya.

Mengapa semakin kita belajar semakin merasa kecil? Ya, karena semakin seseorang mengetahui sesuatu, maka semakin tahulah ia ketidaktahuannya yang banyak. Sebaliknya seseorang yang merasa cukup pintar, justru akan malas belajar, dan mungkin ia merasa sombong karena ia tidak tahu bahwa sebenarnya banyak yang ia tidak ketahui.

Dalam ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk. Artinya semakin seseorang memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian, semakin rendah hati. Sedangkan dalam pepatah yang berbunyi, “Tong kosong nyaring bunyinya”. Kebanyakan orang yang tidak mengetahui apa-apa justru banyak berbicara dan membual.

Mari kita instrospeksi diri sendiri, tipe orang seperti apakah kita?

Wednesday, October 26, 2011

BELAJAR

Mendengar kata belajar, apa yang terbayang dalam benak pikiran kita? Buku, ujian, nilai, tugas, rapot? Atau kita membayangkan seorang anak sekolah yang sedang duduk rajin membaca buku, mengerjakan latihan soal. Ia melakukan itu semua untuk persiapan ujian agar mendapatkan nilai yang bagus. Mungkin apa yang dibayangkan oleh sebagian besar orang adalah sama. Mereka menganggap belajar adalah apa yang terbatas pada hal-hal tsb. Padahal sebenarnya belajar memiliki makna yang luas, tidak hanya terbatas pada kegiatan membaca, bayangan tentang anak sekolah yang sedang membaca buku hanyalah sebagian kecil dari kegiatan belajar yang sesungguhnya.

Belajar adalah sebuah aktivitas yang terus berlangsung sepanjang hidup manusia. Sejak manusia lahir, hingga dewasa dan tua.

Belajar hendaknya dipahami sebagai sebuah kebutuhan, bukan kewajiban. Jika belajar merupakan sebuah kebutuhan, maka tanpa perlu dipaksa atau diperintah seseorang akan belajar dengan sendirinya setiap hari. Karena ia menyukai kegiatan tersebut.

Belajar harus dipahami secara luas. Ia tidak hanya merupakan proses yang terjadi di dalam kelas atau sekolah formal. Belajar bukan hanya dengan membaca buku, mengerjakan soal, menjawab pertanyaan, mengerjakan PR, menerima nilai dan rapot. Jika hanya sebatas itu, alangkah sempit ruang lingkup belajar. Belajar juga bukan dalam arti akademik saja yang hanya mementingkan aspek kognitif. Belajar juga perlu memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik seperti dalam teori belajar taksonomi Bloom. Kognitif adalah proses yang terkait dengan aspek-aspek intelektual atau berpikir nalar. Sedangkan afektif adalah proses yang terkait dengan aspek-aspek emosional seperti perasaan, minat, sikap dan kepatuhan kepada aturan/moral. Psikomotorik adalah proses yang terkait dengan aspek-aspek keterampilan, syaraf, otot dan gerak. Jika ketiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik terpenuhi dalam proses belajar, maka akan terbentuk hasil belajar yang utuh.

Belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun, misal di rumah, di keluarga, atau di masyarakat. Beberapa contoh kondisi belajar misalnya ketika ada seseorang yang mengganggu, lalu kita berusaha agar tidak terpancing emosi, itu merupakan proses belajar mengendalikan diri. Seorang anak yang membantu ibunya berjualan di warung atau toko dengan melayani pembeli adalah belajar berwirausaha. Ketika kita mencoba untuk disiplin shalat lima waktu, itu adalah belajar menghargai waktu. Ketika seseorang membantu menunjukkan jalan menuju suatu tempat kepada orang yang bertanya di jalan, itu juga merupakan belajar menolong orang lain.

Penulis pernah mendengar seseorang yang mengatakan bahwa saya sudah terlalu tua untuk belajar dan memiliki cita-cita. Ia berpikir percuma saja saya belajar, karena tidak akan bermanfaat. Berpikir seperti ini menurut penulis adalah kurang tepat. Karena belajar adalah sebuah proses yang berlangsung sepanjang hayat. Kolonel Sanders, seorang yang sukses sebagai pemilik bisnis waralaba KFC (Kentucky Fried Chicken) ternyata memulai usahanya ketika berusia 66 tahun. Dia menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1000 restoran di negaranya.

Belajar adalah sebuah proses perubahan perilaku hingga menjadi permanen atau tetap. Misalkan seseorang yang belajar memasak, maka setelah ia berhasil membuat berbagai jenis masakan artinya ia memiliki perilaku yang baru sebagai ahli memasak. Seseorang yang belajar untuk menabung secara konsisten, maka ia memiliki perilaku yang tetap sebagai seorang penabung. Sesorang yang mempelajari bahasa tertentu, maka jika tekun, ia akan memiliki perilaku yang baru sebagai orang yang menguasai bahasa tertentu yang dipelajarinya.

Oleh karena itu mari kita terus belajar, temukan potensi diri, pelajari hal-hal baru sesuai bidang yang kita tekuni, sehingga hidup akan selalu penuh warna, tantangan dan perubahan.

Sunday, October 23, 2011

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN RAKYAT

Rakyat Banten baru saja mengikuti kegiatan pemilihan Gubernur Banten yang baru. Sabtu tanggal 22 Oktober 2011, mulai pukul 07:00 pagi hingga pukul 13:00 siang hari seluruh TPS di Banten siap melayani para pencoblos. Hari Sabtu pun menjadi hari libur bagi masyarakat Banten untuk mengikuti pesta demokrasi.
Tiga pasang calon yang akan dipilih rakyat adalah Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno dengan nomor urut satu, kemudian pasangan Wahidin Halim - Irna Narulita nomor urut dua dan pasangan nomor urut tiga Jazuli Juwaini-Makmun Muzakki

Beberapa hari sebelum pencoblosan adalah hari-hari yang sibuk dengan kampanye, sosialisasi program, bahkan hingga acara debat calon gubernur yang ditayangkan secara live oleh salah satu stasiun TV swasta. Melalui acara ini setidaknya rakyat dapat menyimak program-program pembangunan Banten yang disampaikan oleh para calon. Tanpa adanya program acara debat di TV mungkin bagi masyarakat yang sibuk dengan aktivitasnya sehari-hari tidak akan sempat untuk membaca, mengenal atau mengikuti kampanye para calon. Melalui acara debat calon minimal rakyat mengetahui wajah-wajah calon pemimpin Banten dan cara mereka berbicara, penampilan, dsb. sehingga tidak asal pilih nantinya, tetapi benar-benar berdasarkan pilihan pribadi. Terkadang penampilan dan cara berbicara juga menjadi faktor penentu pilihan rakyat. Para calon yang berbicara dengan tenang, jelas, tegas, namun juga santai dan humoris mungkin akan banyak disukai. Walaupun sebenarnya program dan tindakan nyata dan jelaslah yang diperlukan rakyat. Bukan janji-janji yang akhirnya tidak juga ditepati.
Sudah lama masyarakat Banten dan juga tentunya masyarakat Indonesia memimpikan pemimpin yang betul-betul merakyat dan melayani rakyat. Pemimpin yang sadar betul bahwa mereka adalah pelayan, pengabdi untuk kepentingan rakyat. Pemimpin yang sadar bahwa segala tindakannya diawasi tidak hanya oleh rakyat, oleh presiden, oleh menteri, tetapi juga oleh pemimpin dari segala pemimpin, yaitu Allah S.W.T.
Pemimpin sebenarnya adalah pelayan rakyat, artinya seharusnya ia memang bekerja untuk rakyat. Bukan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Pemimpin harus sejajar dengan rakyat dalam arti harus siap menderita seperti rakyat, bahkan siap miskin, lapar, menderita, susah seperti rakyat. Tetapi yang kita lihat adalah ironis, di saat pemimpin kenyang dengan hasil korupsi, banyak rakyat menderita busung lapar karena untuk mencari sesuap nasi saja susah. Ketika pemimpin memiliki mobil mewah yang sangat mahal untuk bepergian, rakyat masih banyak yang sulit untuk memiliki kendaraan pribadi minimal motor. Ketika pemimpin memiliki rumah mewah, besar dan megah, rakyat untuk kredit tipe rumah sangat sederhana saja sangat sulit.
Pemimpin yang melayani rakyat berarti setiap hari yang dipikirkan adalah rakyatnya. Terus bekerja keras, berusaha, bagaimana agar rakyat saya sejahtera secara adil dan merata di seluruh wilayah yang saya pimpin. Artinya tidak ada kesempatan baginya untuk santai, bersenang-senang, apalagi sampai melakukan korupsi.
Saatnya pemimpin berpikir bahwa jabatannya adalah untuk melayani rakyat. Ini bukan profesi untuk memperkaya diri sendiri, kalau ingin menjadi kaya jadilah pedagang atau pengusaha. Kalau menjadi pemimpin sambil menjadi pengusahapun, berhati-hati memisahkan mana tugas dan mana bisnis. Tidak mudah, karena pada akhirnya akan menjerumuskan juga pada korupsi, kolusi dan nepotisme.
Sebaiknya para pemimpin merenungkan kata-kata Umar Bin Khatab, pemimpin besar Islam, seorang khalifah. Beliau seorang pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.
Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata, ”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”

Wednesday, August 10, 2011

Hidup Bagai Musafir

Perumpamaan terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia adalah kita layaknya seorang musafir. Seseorang yang sedang mengembara jauh, untuk pulang kembali menuju kampung halaman yang sebenarnya. Kampung yang dulu pernah menjadi tempat tinggal dari nenek moyang semua manusia, Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa.

Jika hidup bagai seorang musafir, maka apa yang biasanya dilakukan? Ya, seorang musafir memiliki tujuan yang jelas dalam perjalanannya. Seorang musafir memerlukan perbekalan yang cukup untuk sampai pada tujuannya. Seorang musafir tidak berdiam terlalu lama dan terlena pada suatu tempat yang ia lalui. Betapapun tempat tsb. adalah tempat yang sangat indah dan banyak kesenangan. Namun ia meyakini bahwa tujuan perjalanan yang sebenarnya adalah tempat yang jauh lebih indah dan terindah dari segala tempat terindah. Seorang musafir tidak membawa beban terlalu banyak yang dapat menghambat perjalanannya.

Tujuan perjalanan kita adalah akherat, untuk menemui Sang Pencipta. Dan di akherat itu ada dua tempat ekstrim. Yang satu ekstrim penuh kesenangan, yang satu lagi ekstrim penuh kesengsaraan. Tentunya pilihan yang mana kita semua mengetahui.

الحديث الأربعون

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. [رواه البخاري]

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundak saya seraya bersabda: “Hiduplah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara”, Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (Riwayat Bukhari).

Seorang musafir memerlukan perbekalan yang cukup dan tidak membawa beban yang dapat menghambat perjalanannya. Bekal itu adalah iman dan takwa yang menghasilkan pahala, sedangkan beban itu adalah dosa.

Musafir modern abad ini ketika bepergian tentunya tidaklah membawa begitu banyak barang-barang keperluan hidupnya. Karena akan merepotkan perjalanan dan memakan biaya besar. Cukuplah ia membawa bekal makanan dan minuman secukupnya,pakaian. Dan yang terpenting adalah uang dan ATM (Automatic Teller Machine). Sehingga kapanpun ia membutuhkan suatu makanan, minuman atau barang-barang tertentu, ia dapat membelinya dengan uang. Jika uangnya habis, ia dapat mengambil uang lagi menggunakan ATM yang dibawa. Praktis dan tidak merepotkan.

Seorang musafir yang sedang menuju negeri akherat juga tidak perlu membawa barang-barang dunia, karena itu akan merepotkan. Dan jangan membawa beban-beban yang dapat menghambat, yaitu dosa. Jadikan barang-barang tsb. 'uang' dan simpan dalam bentuk pahala 'ATM'. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan menjadikan barang-barang dan jasa yang kita miliki bermanfaat bagi orang banyak. Tidak dinikmati dan dibawa sendiri. Dengan demikian barang-barang dan jasa itu akan berubah menjadi ATM dan uang yang menjadi perbekalan praktis kita di negeri akherat nanti. Tidak menjadi beban. Bahkan uang dan pahala ATM itu akan berkembang dan dilipatgandakan oleh Allah S.W.T. jika kita ikhlas melakukannya.

Barang yang dinikmati sendiri bukanlah milik kita. Tetapi milik kita adalah apa yang bermanfaat bagi orang lain.

Musafir tidak akan terlena dengan keindahan dunia, karena ia mengetahui tujuan yang sebenarnya. Ia hanya numpang lewat di dunia. Hanya tempat persinggahan sementara. Ketika orang-orang berlomba-lomba memperkaya diri sendiri, menikmati semua keindahan dan kemewahan. Seorang musafir juga memperkaya diri, tetapi tidak semua kekayaan itu dinikmatinya, ia mengambil barang-barang keperluan secukupnya saja agar dapat bertahan hidup. Namun selebihnya ia tabung dalam bentuk pahala, dengan cara menshadaqahkan, sehingga dapat dinikmati oleh orang banyak manfaatnya.

Dan tujuan tertinggi sebenarnya bukanlah akherat, atau pahala yang didapat. Melainkan bertemu dengan Sang Maha Pencipta serta mendapat keridhoan-Nya. Itulah kebahagiaan tertinggi yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang tetap bertahan dalam keistiqomahan di tengah-tengah kegilaan dunia.


Monday, August 8, 2011

Membuat Rencana atau Mengalir?

Ketika kita ditanya, apa prinsip hidupmu? Mengalir bagaikan air ataukah selalu merencanakan tindakan? Saya pribadi jika hanya diberi pilihan seperti itu tidak bisa menjawabnya, karena kedua hal itu adalah prinsip hidup yang tidak bisa dipisahkan. Justru keduanya saling menguatkan satu sama lain, bukannya saling bertentangan. Jika ditanya demikian, saya akan menjawab hidup saya memiliki perencanaan yang mengalir menuju target.

Membuat perencanaan berarti menyusun jadwal, dalam satu hari apa saja kegiatan yang akan saya lakukan. Bahkan untuk satu minggu, satu bulan dan satu tahun. Sehingga tindakan-tindakan yang dilakukan selalu terkendali dan terarah menuju target hidup. Akan tetapi dalam perjalanannya, terkadang banyak terjadi hal-hal di luar perencanaan yang telah disusun. Sebagian orang akhirnya memutuskan tidak perlu membuat perencanaan, mengalir sajalah. Karena membuat perencanaan itu hanya mengekang kebebasan dan menjadi kaku terhadap waktu. Akhirnya tidak perlu membuat perencanaan, jadi mengalir saja. Apa yang ingin dikerjakan saat ini ya dikerjakan. Apa yang disukai dikerjakan. Jika hati dalam kondisi bosan dan malas, ya ditinggalkan. Akibatnya arah hidup kita menjadi tidak jelas, karena kita akan mengikuti ke mana arus yang kuat membawa perjalanan hidup.

Sebenarnya idealisme itu diperlukan, dan tidak boleh ditinggalkan. Idealisme bukanlah hanya untuk masa muda, masa belajar. Tetapi hendaknya dipertahankan hingga akhir hayat. Karena ini menyangkut keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin di dunia dan akherat. Idealisme yang dimaksud dalam tulisan ini adalah masalah kedisiplinan waktu. Dalam bahasa mudahnya adalah jadwal. Tetaplah kita harus memiliki jadwal yang ideal dalam keseharian. Sehingga hidup akan teratur dan terarah. Tetapi ketika terjadi hal-hal yang mengharuskan kita keluar dari jalur jadwal yang telah ditetapkan, maka sebaiknyalah kita bersikap fleksible. Menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi, asalkan tindakan kita masih dalam rangka target/tujuan hidup.

Contoh yang ada di alam adalah misalnya adalah kawat yang dialiri listrik. Idealnya adalah energi listrik yang masuk akan sama dengan energi listrik yang keluar. Namun pada kenyataannya akan berkurang. Sebagian menghilang menjadi panas akibat jauhnya perjalanan listrik dalam kawat. Tetapi bukan berarti ini diabaikan. Manusia berusaha meminimalkan energi yang hilang ini dengan berbagai cara. Misalnya memperpendek panjang kawat dan mengecilkan hambatan kawat. Walaupun tetap akan ada energi yang terbuang, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap kebutuhan energi. Karena jumlahnya yang kecil.

Jadi, perencanaan tetap diperlukan sebagai acuan. Walaupun dalam pelaksanaannya tidak 100% sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Tetapi itu lebih baik, daripada tidak membuat rencana sama sekali, sehingga arah hidup menjadi tidak jelas. Namun kelenturan dalam menyikapi jadwal dalam kondisi tertentu diperlukan agar kita tidak menjadi kaku. Karena ketika kita berencana, Allah juga berencana terhadap diri kita.

Kesimpulannya, kita membuat rencana dan mengalir dalam melaksanakannya. Punya pendapat lain? Silahkan isi komentarnya di bawah ini, terima kasih...

Sunday, August 7, 2011

Amal yang Tidak Terputus

Manusia modern abad ini selalu mencari cara untuk membuat suatu sistem yang bekerja secara otomatis dan menghasilkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Sistem yang tetap bekerja dan memberikan kesejahteraan walaupun ia tidak berkecimpung lagi di dalamnya. Ini adalah sistem dalam bidang ekonomi yang sering disebut sebagai passive income.

Passive income adalah penghasilan yang terus mengalir walaupun seseorang sudah tidak bekerja lagi. Ini adalah cara cerdas manusia dalam mengefektifkan dan mengefisienkan waktu. Robert Kiyosaki mengenalkan teori Cashflow Quadrant yang membagi manusia dalam empat quadrant dalam memperoleh penghasilan. Yaitu tipe pegawai, pekerja lepas, pemilik usaha, dan penanam modal. Quadrant keempat adalah yang tertinggi, di mana seseorang tidak perlu bekerja lagi untuk mendapatkan penghasilan, karena sudah terbentuk sebuah sistem yang bekerja 24 jam menghasilkan profit bagi dirinya. Namun teori Cashflow Quadrant ini hanyalah untuk kesejahteraan di dunia.

Ternyata 14 abad yang lalu, jauh sebelum Robert Kiyosaki mempopulerkan teori Cashflow Quadrant, Rasulullah Muhammad SAW telah mengenalkannya, walaupun bukan dalam bidang ekonomi, tetapi jauh lebih luas lagi menembus dimensi alam dunia hingga alam kubur dan akherat. Ini dapat dibaca dalam hadits Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:

عَنْ أبِى هُرَيْرَة (ر) أنَّ رَسُول الله .صَ. قَالَ: إذَا مَاتَ الإنسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:

صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, اَووَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَهُ (رواه ابو داود)


“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.

Dalam bidang amal, ternyata terdapat juga teori Cashflow Quadrant ini. Ketika kita berbuat suatu amal kebaikan misalnya, maka kita mendapatkan pahala. Namun ketika kita tidak melakukannya, tentu tidak mendapatkan pahala. Apalagi setelah kita mati, terputuslah kesempatan untuk beramal dan mendapatkan pahala. Hanya tinggal menunggu hisab (perhitungan amal), jika lebih banyak kebaikannya, kita akan beruntung. Jika sebaliknya kita merugi. Tetapi ada cara cerdas agar pahala dari suatu amal tsb. akan terus mengalir walaupun kita sedang tidak melakukannya atau karena sudah meninggal dunia. Yaitu dengan mengajarkan amal tsb. kepada orang lain. Mengajarkan ilmu kepada orang lain, tentunya ilmu yang bermanfaat. Maka, setiap seseorang mengamalkan ilmu yang bermanfaat yang didapatkan dari usaha kita mendidiknya, kitapun akan ikut mendapatkan bagian pahalanya. Bagaimana jika banyak orang yang kita ajarkan, dan bagaimana pula jika setiap orang-orang tsb. mengajarkannya lagi. Tentu pahala akan mengalir deras ke pundi-pundi rekening akherat kita. Mirip seperti profit yang didapatkan seorang pengusaha pemasaran jaringan berjenjang yang sukses. Ilmu yang bermanfaat dapat diabadikan dalam bentuk catatan, tulisan, buku dan lain-lain sehingga itu akan menjadi investasi akherat kita.

Selain ilmu yang bermanfaat, dalam hadits tsb. juga disebutkan anak yang sholeh. Suatu ketika di akherat nanti seorang akan merasa heran dengan derajat tinggi yang diperolehnya dari Allah SWT di surga. Padahal ia merasa tidak pernah melakukan suatu amaliyah yang spesial. Ternyata ketinggian derajat itu disebabkan oleh istighfar sang anak yang soleh dan terus mendoakan orang tuanya. Maka, anak adalah investasi kita juga untuk keselamatan di akherat. Maka, mari kita didik dan bekali ia dengan ilmu, terutama ilmu untuk mengenal Sang Pencipta. Jika kita berhasil dan sukses mendidiknya, dengan mengorbankan harta, waktu, uang dan tenaga, maka bersiaplah menerima ketinggian derajat dari Allah SWT.

Yang berikutnya adalah sedekah jariyah. Yaitu suatu sedekah yang pahalanya akan terus mengalir walaupun si pemberi sedekah telah meninggal dunia. Contohnya adalah, mewakafkan sebuah tanah dan membangun sebuah Masjid, mendirikan sebuah yayasan untuk mendidik anak-anak jalanan, membagi-bagikan Al-qur'an, menanam pohon sehingga orang lain dapat menikmati buahnya atau berteduh di bawahnya, dan lain-lain.

Ummat rasulullah Muhammad SAW memang diberikan usia yang pendek. Mungkin antara 60 tahun, dan jika sudah 90 tahun merupakan usia yang cukup panjang. Tidak seperti ummat-ummat terdahulu yang usianya hingga mencapat ratusan. Tetapi bukan berarti usia yang pendek, maka kesempatan beramal dan memperoleh bekal untuk kehidupan di akherat kita menjadi terbatas. Banyak cara-cara cerdas yang sudah diajarkan oleh Rasul, salah satunya dari hadits tsb. di atas. Belum lagi pada bulan Ramadhan kali ini, Allah melipatgandakan pahala amal menjadi sangat besar, bahkan ada suatu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, itulah malam lailatul qadar.

Friday, August 5, 2011

Berpandangan ke Depan

Setiap hari manusia yang masih bernafas pasti melakukan aktivitas. Tidak ada yang diam, karena diam itu sendiri adalah aktivitas. Kecuali seseorang itu telah mati di dunia, walau matipun sebenarnya ruh masih ada dan beraktivitas.

Secara wujud lahiriah kita melihat semua manusia sama saja dalam melakukan suatu aktivitas. Tetapi jika dicermati sebenarnya ada yang berbeda secara batiniah dan pikiran. Apa yang berbeda? Misalkan ada dua orang yang bekerja sebagai buruh tani. Mereka bekerja menanam dan merawat padi di sawah hingga panen. Sebut saja pak A dan pak B. Pak A berpikir bahwa saya bekerja di sawah dan memang pekerjaan saya sebagai petani yang diberi upah oleh majikan. Sehingga saya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sedangkan dalam pekerjaan yang sama pak B berpikir bahwa pekerjaan sebagai buruh tani memang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun selain itu juga ia berpikir lebih, yaitu melalui tangan saya, padi ini akan saya rawat, saya beri pupuk, hingga tumbuh subur dan dapat dipanen. Saya kemudian mengolahnya menjadi beras yang siap disalurkan. Sehingga karena pekerjaan saya, banyak orang dapat menikmati nasi yang menjadi makanan pokok. Misalnya seorang anak kecil yang akan berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu, di pagi hari akan makan nasi dari hasil jerih payah saya. Sehingga anak-anak dapat tumbuh sehat, kuat, belajar dan berkembang menjadi manusia yang berguna. Artinya saya ikut andil dalam pembangunan bangsa ini.

Lebih jauh ke depan, tentunya saya akan mendapatkan pahala dan balasan yang melimpah dari Sang Pencipta padi itu sendiri. Dan ini akan menjadi bekal hidup saya di akherat nanti. Pahala yang saya peroleh akan berubah menjadi sebuah istana di surga kelak. Walaupun di dunia rumah saya hanyalah sebuah rumah gubug biasa. Begitu pikir pak B. Terlihat jelas perbedaannya ketika kita menyelami isi hati dan pikiran pak A dan pak B.

Apapun yang kita lakukan, aktivitas sekecil apapun, jika kita berpandangan ke depan akan terasa menyenangkan dan berguna. Sehingga ini bisa menjadi motivasi untuk tidak mudah menyerah akan setiap kegagalan yang dialami. Karena setiap perbuatan baik yang diniatkan untuk ibadah maka ia akan bernilai pahala. Walaupun di dunia misalnya mengalami kegagalan-kegagalan, maka sebenarnya kita sudah memperoleh pahala dari proses yang kita lakukan. Dan pahala artinya adalah bekal untuk di akherat. Jika kita terus berbuat dan belajar dari kegagalan-kegagalan itu, maka kita akan berhasil. Dan akan lebih banyak lagi pahala yang didapat dari keberhasilan yang dinikmati oleh orang banyak.

Ketinggian seseorang di mata Allah tidaklah dinilai dari seberapa banyak harta, seberapa tinggi jabatan, seberapa besar pengaruh dan kekuasaan. Tetapi Allah hanya menilai dari sisi keimanan dan ketakwaannya. Bisa jadi seorang buruh bangunan yang ikhlas dan berpandangan ke depan memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan seorang pejabat negara yang korup. Walaupun di mata masyarakat dunia seorang pejabat negara tsb. memiliki status yang tinggi, dapat mempengaruhi orang banyak, memiliki harta dan kemewahan di mana-mana. Dengan harta dan uangnya ia mampu membeli apapun yang diinginkan. Ia dapat mempengaruhi kebijakan negara melalui undang-undang yang dibuat. Namun jika pejabat tsb. bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, melakukan korupsi, dan kecurangan-kecurangan lainnya. Maka, di kehidupan berikutnya (akherat), bisa jadi ia adalah seseorang yang paling merugi. Habis semua amal kebaikannya tertutup oleh do'a orang-orang yang teraniaya, habis oleh dosa akibat harta haram yang didapat. Sebaliknya seorang buruh bangunan yang bekerja ikhlas karena Allah, memberikan kemampuan yang terbaik. Melalui keterampilan tangannya ia dapat membuat sebuah bangunan rumah yang kokoh dan nyaman, indah. Sehingga sang pemilik rumah dapat tinggal di dalamnya bersama keluarganya. Di rumah itu sang pemilik dapat beristirahat dari pekerjaannya, berteduh dari panas matahari, dari hujan. Dari rumah itu juga akan lahir anak-anak yang cerdas dan calon pemimpin bangsa. Tentunya akan menjadi amal saleh dan pahala yang tiada terputus bagi sang buruh bangunan ketika ia berpikir ke depan seperti itu. Dan tentunya derajatnya akan jauh lebih tinggi dari sang pejabat yang melakukan korupsi. Dan derajat dalam pandangan Allah, tentunya bukan sekedar gelar, status dan sertifikat. Tetapi derajat itu benar-benar akan mengantarkannya ke kehidupan yang sejahtera secara materi dan spiritual, bahagia di dunia dan akherat yang abadi.

Nah, bagaimana dengan kita? Sebaiknya kita tidak menyepelekan lagi apapun bidang profesi atau pekerjaan yang kita tekuni. Juga tidak menyepelekan aktivitas positip sekecil apapun yang dilakukan. Ketika kita berpandangan ke depan, segala aktivitas positip sekecil apapun akan memiliki arti. Misal, ketika kita membuang sampah pada tempatnya, kita niatkan agar lingkungan menjadi bersih dan indah, orang lain yang melihatpun akan senang, terhindar dari penyakit, akhirnya kita memperoleh pahala sebagai bekal kita. Ketika kita makan, kita membaca basmallah, kemudian menyadari ini adalah rezeki dari Allah. Dengan makan, maka saya menjadi bertenaga kembali, lalu dengannya saya bisa bekerja dan beribadah, maka pahala lagi buat bekal saya. Ketika saya berolahraga, saya niatkan supaya badan selalu sehat dan kuat, tidak mudah terserang penyakit, sehingga saya bisa menghemat pengeluaran saya untuk berobat, dan uang penghematan tsb. bisa lebih saya manfaatkan untuk kepentingan lain yang lebih besar daripada sekedar mengobati penyakit, pahala lagi buat saya. Ketika saya bekerja sebagai cleaning service misalnya, saya harus pulang sore hari, karena harus membersihkan kantor, menyapu, mengepel, mencuci piring-piring dan gelas, padahal saat itu tidak ada seorangpun yang melihat saya. Tetapi jika berpikiran ke depan, walaupun tidak ada seorangpun, saya akan lakukan tugas saya sebaik mungkin. Sehingga esok pagi kantor dalam keadaan bersih, sehingga siap digunakan untuk aktivitas kembali oleh para pegawainya. Pahala buat saya.

Alangkah indahnya jika setiap manusia khususnya di Indonesia sudah berpikir dan bertindak seperti ini. Berpandangan ke depan, tidak hanya sebatas bekerja dan menerima gaji, tetapi jauh ke depan untuk melayani sesama, dan jauh ke depan lagi untuk kepentingan dirinya sendiri di akherat. Saya yakin negara ini akan menjadi negara yang maju dan disegani bangsa-bangsa di dunia.

Kalau sudah berpandangan ke depan, masihkah berpikir bahwa hidup kita tiada arti? Marilah kita baca dan renungkan hadits berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu." (HR Bukhari dan Muslim)

Nah, setiap kita adalah pemimpin. Dan pemimpin adalah orang yang penting. Artinya kita adalah orang yang penting, tentunya dalam bidang yang kita geluti, sekecil apapun itu.

Kemudian mari kita baca dan renungkan puisi dari Douglas Mallock berikut ini:


Jika kau tak dapat menjadi pohon meranti di puncak bukit
Jadilah semak belukar di lembah,
Jadilah semak belukar yang teranggun di sisi bukit
Kalau bukan rumput, semak belukar pun jadilah
Jika kau tak boleh menjadi rimbun, jadilah rumput
Dan hiasilah jalan di mana-mana
Jika kau tak dapat menjadi ikan mas, jadilah ikan sepat
Tapi jadilah ikan sepat terlincah di dalam paya
Tidak semua dapat menjadi nahkoda, lainnya harus menjadi awak kapal dan penumpang
Pasti ada sesuatu untuk semua.
Karena ada tugas berat, maka ada tugas ringan
Di antaranya dibuat yang lebih berdekatan
Jika kau tak dapat menjadi bulan, jadilah bintang
Jika kau tak dapat menjadi jagung, jadilah kedelai
Bukan dinilai kau kalah ataupun menang
Jadilah dirimu sendiri yang terbaik


Demikian, semoga bermanfaat..

Tuesday, July 26, 2011

Keadaan Mendesak

Apa yang membuat orang termotivasi untuk segera melakukan suatu pekerjaan tertentu? Banyak faktor, dan salah satunya adalah masalah waktu. Lebih spesifik lagi adalah waktu yang sudah mendesak.

Saya memiliki sebuah pengalaman berharga, yaitu saat sedang sibuk-sibuknya mengerjakan Tugas Akhir program Studi Diploma. Di saat waktu sidang TA sudah hitungan hari, saya begitu fokus untuk segera menyelesaikannya. Saat itu saya membuat Tugas Akhir sebuah alat elektronik untuk menghidupkan dan mematikan lampu rumah yang dihubungkan ke komputer melalui Port Paralel Printer. Alat tsb. dikendalikan sebuah bahasa pemrograman, sehingga intinya kita dapat menghidupkan dan mematikan lampu dan peralatan listrik lainnya hanya dengan mengklik program di komputer. Ketika waktu sudah sangat mendesak, kira-kira dua hari menjelang sidang TA, alat tsb. belum juga selesai, baru kira-kira 75% saja. Walaupun secara konsep laporan sudah saya kuasai dan selesai. Akhirnya waktu benar-benar saya manfaatkan secara penuh, pagi, siang, sore dan malam. Sehingga pada waktu itu saya hanya tidur sebentar. Padahal seharusnya alat tsb. sudah selesai, sehingga beberapa hari terakhir seharusnya saya hanya mempersiapkan mental untuk presentasi dan demo alat/program.


Dua hari terakhir itu saya benar-benar bekerja ekstra, penuh dan maksimal. Kamar saya berantakan, penuh dengan kabel, timah, komponen-komponen elektronika, bau asap solder. Sehingga teman yang melihat saya pasti akan menganggap saya orang yang sangat rajin dan bekerja keras. Padahal motivasi saya adalah menyelesaikan alat tsb. agar segera dapat digunakan dalam sidang Tugas Akhir saya. Hingga saya ingat saat itu, jam 12 siang saya masih sibuk membentuk sebuah PCB dengan larutan Fericlorid untuk dihubungkan ke lampu dan menata alat menggunakan gabus bekas peralatan elektronik. Padahal jam dua saya harus sudah maju sidang atau pendadaran kami menyebutnya. Sungguh sebuah contoh yang buruk, karena sesungguhnya kalau saya mau mengerjakan dari awal-awal waktu pasti tidak tergesa-gesa seperti itu.

Tetapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah dalam waktu yang cukup mendesak itu saya sangat termotivasi. Saya mengerahkan semua kekuatan dan kemampuan saya. Sehingga pada saatnya harus sidang ternyata saya bisa melakukan presentasi dengan cukup baik, dan alat juga dapat berfungsi dengan baik. Dan yang lebih membuat saya bersyukur dan bahagia, ternyata nilai Tugas Akhir saya adalah A. Sungguh terbayar semua kelelahan saya, padahal alat dikerjakan dalam keadaan yang mendesak. Akhirnya saya berpikir, dalam keadaan mendesak saya dapat memanfaatkan waktu dengan sangat efektif dan efisien. Andaikata setiap hari adalah hari yang mendesak, sesungguhnya cukup banyak ilmu, amal atau karya bermanfaat yang dapat saya hasilkan.

Contoh lainnya adalah ketika jiwa kita terancam, misal dikejar oleh sekelompok penjahat, tentu kita akan berlari dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kecepatan biasanya. Bahkan jika misalnya kita berlari menuju ke atas sebuah gedung hingga ke bagian atap, lalu keadaan kita terjepit, di belakang gerombolan penjahat telah siap menyergap, di depan kita adalah tepian dari atap gedung. Jika melihat ke bawah, mobil, motor, rumah dan orang-orang terlihat seperti mainan, sangat tinggi. Tentu kita tahu akibatnya jika terjatuh. Lalu kira-kira tiga meter di depan kita ada gedung lainnya, apa yang akan kita lakukan. Dalam keadaan biasa, kita mungkin tidak akan berani melompatinya, karena resiko yang sangat fatal akibatnya, jika tidak berhasil. Tetapi dalam keadaan mendesak, saat di dalam pikiran kita hanya ada satu kata, selamatkan diri. Tentunya secara spontan kita akan melompat dengan segenap tenaga dan kemampuan yang dimiliki menuju gedung sebelah. Karena diam berarti mati. Kita akan berani mengambil resiko melompat.

Apa pelajaran yang dapat diambil dari contoh di atas?

Hal yang paling berbahaya adalah ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya dalam keadaan bahaya. Dia tenang-tenang saja dalam hidup, bersantai ria, merasa aman, damai dan sejahtera. Tidak berusaha untuk meningkatkan kualitas, kemampuan dan prestasi diri. Padahal sebenarnya setiap hari adalah keadaan yang mendesak, rawan dan berbahaya. Apakah keadaan bahaya itu?

Andaikata kita dapat mengetahui masa depan, misal besok kita akan mati. Atau besok akan terjadi kiamat, apa yang akan kita lakukan? Tentunya setiap menit dan bahkan detik akan kita manfaatkan untuk bertaubat, beristgihfar, beribadah dan membayar semua hutang-hutang kepada sesama manusia. Bahkan kita akan rela melepaskan semua harta kekayaan kita untuk melunasinya, atau untuk diinfakkan, disodaqohkan semuanya. Toh, buat apa semua harta itu. Tidak akan berguna ketika besok kita mati, malah akan menjadi beban hisab di akherat. Namun jika harta itu kita ikhlaskan di jalan Allah, maka ia akan berubah menjadi bentuk deposit amal atau pahala yang bisa meringankan beban hisab kita Insya Allah.

Allah berfirman dalam surat Al-Ashr ayat 1-3 yang artinya:
1.Demi masa. (QS. 103:1)
2.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (QS. 103:2)
3.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. 103:3)

Nah, menurut Al-qur'an surat Al-Ashr ayat 1 sampai 3 tsb. bahwa kita ini benar-benar berada dalam kerugian setiap harinya. Kecuali jika kita beriman, beramal saleh, dan selalu nasehat menasehati dalam kesabaran.

Jika kita renungkan makna ayat tsb. bahwa kita ini selalu merugi, itu artinya setiap hari adalah hari-hari yang mendesak. Hari-hari yang mendesak untuk beramal saleh, untuk berbuat sesuatu, menghasilkan karya, bermanfaat bagi sesama. Sehingga pada saatnya nanti ketika usia kita semakin tua, setidaknya mengurangi penyesalan akibat banyaknya waktu yang telah kita sia-siakan, yang membuat kita merugi.

Jika suatu keadaan di mana pikiran bawah sadar kita selalu menyadari bahwa setiap hari adalah mendesak, setiap hari kita merugi. Maka, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda-nunda untuk beramal dan berkarya dalam hidup di dunia yang hanya sementara ini.

Nah, mumpung sedang bulan suci Ramadhan, merupakan sebuah kesempatan emas bagi kita untuk beramal saleh sebanyak-banyaknya. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang bertakwa, dan dimasukkan ke dalam Jannah-Nya. Amin...