Friday, October 2, 2009

Gempa di Sumatera Barat


Rabu sore sekitar pukul 17:15 terjadi gempa dengan kekuatan 7.6 skala richter di Sumatera Barat. Padang adalah daerah yang mengalami penderitaan paling besar akibat peristiwa alam tsb. Gempa ini terasa juga hingga ke negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Bayangkan, di sore hari ketika masyarakat masih sibuk beraktifitas, ada yang di gedung-gedung perkantoran, hotel, mall, rumah, jalan, tiba-tiba bumi bergoncang dengan begitu dahsyatnya. Mengakibatkan ribuan rumah rusak parah, bahkan rata dengan tanah, beberapa mengalami kebakaran. Wargapun panik dan berhamburan ke jalan, mengakibatkan kacaunya lalu-lintas, suara sirene meraung-meraung, warga lari ke bukit karena khawatir akan terjadi bencana Tsunami. Bahkan sebuah hotel terbesar di Padang dengan 3 lantai ambruk, mengakibatkan 200 orang terjebak dalam timbunan reruntuhan. Ibu-ibu ada yang menangis kehilangan suaminya, anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Kemudian listrikpun padam, sehingga dalam suasana mencekam, di malam hari tanpa adanya penerangan, ditambah lagi hujan, saudara-saudara kita kebingungan mencari perlindungan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika itu semua terjadi di tempat kita, pada orang tua, anak-anak, suami dan istri kita? Maka, sudah sepantasnyalah bagi kita sebagai satu bangsa yang besar untuk dapat memberikan bantuannya. Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Ada yang berangkat menjadi relawan, menyumbang dengan harta berupa uang, pakaian, makanan dan obat-obatan. Tidak lupa juga bersimpati dengan do'a.

Maut memang salah satu yang menjadi rahasia Allah. Manusia tidak pernah dapat mengetahui kapan datangnya. Jika belum waktunya, bencana sedahsyat apapun tidak akan menyebabkan kematian bagi dirinya. Seorang ibu yang selamat dari reruntuhan hotel ketika mengikuti kegiatan training di antara 35 orang lainnya membuktikan itu, walaupun ia mengalami cedera di wajah, kaki dan punggungnya. Ia dapat diselamatkan dan diangkat dari reruntuhan. Sebaliknya, dalam keadaan alam yang tenang, tubuh yang sehat, bisa saja seseorang meninggal dunia begitu saja jika memang sudah waktunya.

Kita memang dipesankan oleh Rasulullah agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan nyawa sendiri, namun jangan pula kita takut menghadapinya. Karena maut adalah sesuatu yang pasti terjadi. Yang menjadi masalah adalah apakah kita telah siap menghadapi peristiwa panjang yang akan dialami setelah kematian? Siapkah kita menjawab pertanyaan malaikat kubur? Siapkah kita mempertanggung jawabkan segala amal perbuatan di dunia?

Tidak ada jalan lain bagi manusia, makhluk yang lemah kecuali kembali kepada-Nya. Bencana adalah sarana kembalinya hati manusia kepada sang Pencipta. Sarana kembali tersungkur sujudnya kepala ini. Sarana persatuan ummat manusia yang senang bertikai. Sarana merenungkan kembali tujuan penciptaan manusia. Yakni untuk ta'at, tunduk dan beribadah kepada penggenggam alam semesta. Dia yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada, dialah Allah S.W.T.

"Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah)." (QS. 51:56)

1 comment:

  1. Subhanallah...
    bencana alam terus menerus menerpa negara kita...
    belum pulih keadaan trauma yang melanda warga Jawa Barat,
    sekarang sudah timbul lagi bencana alam yang sama....

    sungguh negara kita sedang mengalami cobaan dari sang pencipta...
    semoga para korban diberi kesabaran serta kekuatan, amin...
    semoga para korban tewas yang tertimbun reruntuhan gedung, dapat segera dievakuasi.

    semoga kejadian ini semkain mendekatkan kita kepada sang pencipta.
    bahwa segala yang ada dialam ini adalah miliknya...

    semoga saja peristiwa ini semakin menguatkan rasa persaudaraan kita...
    agar kita mw meringankan tangan serta menyisihkan sebagian rejeki kita untuk mereka.
    Iklan Gratis

    ReplyDelete